Sunyi…

wpid-543677_492088870883358_2118510583_n.jpgwpid-543677_492088870883358_2118510583_n.jpg

Sunyi menggugat pekatnya malam setelah sepekan purnama menghilang.
Tentang makna, yang sekecil butiran debu:
dia terabaikan…

Kabut hitam penuh dendam,
detik duka sadarkan ku sendiri…
Kegelapan tanpa arti…

Bagai ayat-ayat dalam doa: tangisi melodi…
Tak apa jika halnya menepi saja,
Menepi untuk ku lihat kebahagiaanmu dari lebam biru wajahku yang melusuh…

Manis… sepertinya ku hanya mengerti tangis.
Melamunkan asa untuk meraih helai-helai rambutmu,
Memimpikan kuasa untuk menyentuh lembut pipimu…
Kemudian ku terjaga, dalam gelap yang sama.
Kadang lebih baik mati jika itu hanya merupakan sebuah kesempatan yang sia-sia…

Bila waktu kian membisu, diam dan hening,
Masih berartikah jawab ?
Dan kalaupun ada, pentingkah ?

Apa kabar pecinta?
Tak ada yang baru dari dalam isi kepalamu?
Ku lirik mentari pagi, dia tak peduli, tersenyum sinis malahan…

Sepi aku berlari menangkap bayanganmu : sendiri…
Aku mencintaimu : kesunyian…

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan