Monolog (dua) Hati

[1]

Dia sedang duduk di depanku, duduk manis di kursi, tepat didepanku. Perempuan yang paling aku cintai, tentunya setelah ibu dan adik perempuanku. Hari ini dia cantik sekali, seperti biasanya. Seperti dia yang selalu aku kagumi, sejak dulu. Dia adalah perempuan yang lucu, jujur dan periang. Dia adalah bahagiaku. Perempuan yang ceria namun terlihat rapuh, perempuan yang selalu ingin aku lindungi. Namun sebenarnya ada tegar yang lebih dari aku, terlihat dari matanya itu.
“Ih, liat apaan sih? Hari ini aku cantik ya? Hahahaha” Tawa renyah menguap di udara, membuyarkan lamunanku. Aku dan kekagumanku padanya.
“Hahahaha, masih aja ya, pede kayak biasa.” Iya, kamu memang cantik kali ini, bahkan setiap hari.
Dia tersenyum. Ah, manis sekali. Aku rekam senyumnya dalam ingatanku, manis sekali.
Dia lalu mengaduk minumannya. Hot lemon tea. Dia belum berubah juga ternyata. Aku ingat pertama kali aku mengajaknya makan di sebuah cafe. Dia memesan seporsi makanan dan hot lemon tea. Ternyata, kali kedua aku mengajaknya makan lagi, dia memesan minum yang sama, hot lemon tea. Begitupun dengan kali ketiga, keempat, bahkan waktu itu, terakhir kali aku kencan dengannya. Dia memang tidak pernah berubah dan aku hafal betul itu. Setelah ini, seperti biasa, dia akan mengetukan sendok ke cangkirnya. Tiga kali. Kemudian ia akan memegang cangkir tehnya dengan kedua tangannya lalu meniupnya sebentar dan meminumnya pelan-pelan.
Aku bukan tipikal lelaki yang hafal banyak hal dengan detail, dan bahkan cenderung cuek, tapi bila hal-hal itu tentang dia, mau tak mau aku hafal juga. Aku hafal kebiasaan-kebiasaannya. Dia yang tidak suka pedas, tidak suka minuman bersoda, tidak sabaran dalam menunggu, suka membaca buku-buku, dan masih banyak lagi. Dia, ya, karena ini tentang dia, kesayanganku.

******

[2]

Aku bertemu dengannya kali ini. Dia duduk tepat di depanku. Aku senang sekali, degup jantungku tak bisa kukendalikan lagi. Aku terlalu rindu. Lelaki yang paling aku suka. Matanya, ya, matanya adalah hal yang paling aku suka. Rasanya ada hal magis yang menyihirku setiap kali aku menatap dua bola matanya. Ingin aku tatap matanya, mencari aku di matanya, berharap menemukan aku di matanya.
Tapi kali ini, rasanya aku tak sanggup menatap matanya lama-lama. Lelaki yang matanya teduh, lelaki yang membuatku jatuh cinta untuk terakhir kali. Lelaki yang nyaris sempurna di mataku. Mengerti aku, memahami aku. Meski sebenarnya tidak sebanyak itu yang ia tahu tentang aku. Dia sebenarnya tak tahu berapa lama aku menunggu. Menunggunya…
Aku menaruh cangkir tehku, menunduk, mengumpulkan keberanian untuk menatap wajahnya, matanya. Aku masih menunduk. Aku jaga agar rindu yang akut ini tak membuncah sekarang, jangan sekarang….

******

[1]

Ada hening yang panjang antara aku dan dia sekarang. Kuputuskan untuk memulai percakapan lagi.
“Katanya ada yang mau diomongin.” aku memulai pembicaraan.
“Sebenernya bukan diomongin sih, lebih tepatnya ada yang mau aku kasih.”
DHEGGG….
Rasanya jantungku nyaris berhenti. Aku tahu arah pembicaraan ini kemana. Aku tak tahu tapi pura-pura tak tahu, sebenarnya tak mau tahu. Dia mencari-cari sesuatu dalam tasnya.
“Ini, undangan pernikahanku, bulan depan, kamu datang ya.” Ia tersenyum.
Aku terdiam sejenak. Sial!!! Hebat sekali dia masih bisa tersenyum semanis itu, sementara hatiku sekarang sudah remuk menjadi partikel-partikel kecil. Luluh lantah, lebur. Menenggak pil pahit kenyataan ternyata tak semudah itu. Tak kusangka, selain pandai mengingat hal-hal kecil, ternyata perempuan juga pandai melupakan hal-hal daripada lelaki. Mungkin ia anggap aku hal kecil yang mudah untuk dilupakan juga. Sial….
“Pasti datang dong, pernikahan kamu masa aku tega gak datang.” Aku balas senyumnya. Pahit….

******

[2]

Aku merasa seperti seorang aktris yang paling hebat sekarang. Hebat sekali, bahkan aku tadi bisa tersenyum padanya, dan menatap matanya tanpa menangis. Aku memang hebat, hebat dan munafik.
Sekarang aku melihatnya diam, dan sibuk dengan minumannya. Terlalu naif aku untuk masih mengharapkannya memperjuangkan aku lagi sekarang, tidak. Setelah aku menunggunya di setiap hari, setelah aku jujur padanya bahwa aku dijodohkan oleh orang tuaku. Dia hanya tersenyum, setelahnya tidak menemuiku, apalagi memperjuangkanku. Dari awal dia pasti sudah belajar melupakan aku. Sementara aku? Dia… Bagaimana bisa aku lupa? Dia…. yang hatinya menjadi tempat aku jatuh cinta terakhir kali.

Bulir bening pun tak dapat aku tahan lagi, mengalir dari sudut mataku, ketika aku melangkah meninggalkan dia dan kartu undangan dariku…..

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan