Sang Pengelana

Tersebutlah disuatu masa, hidup seorang pengelana tak bernama. Yang selalu membawa peta di tangan kirinya dan kompas di tangan kanannya. Di pundaknya tersampir gitar yang selalu ia mainkan saat malam terang bulan. Orang-orang memanggilnya : Si Pengelana.
“Ke mana kau akan pergi, Pengelana? Kapan kau akan berhenti mengembara?”
“Sampai kompas dan peta ini tak bisa lagi kugunakan,” senyumnya.

Demikian ia terus berjalan ke mana kaki membawanya melangkah. Hingga suatu senja Si Pengelana tiba di suatu lembah tak bernama tiada tercantum di petanya, tak dikenali oleh jarum kompasnya yang terus berputar gamang. Dalam keheranannya ia duduk beristirahat di depan muara di tengah taman bambu. Kodok-kodok berlagu, maka diletakkannya kompas-petanya dan dipetiknya gitar menyanyikan satu lagu tentang cinta. Tak dinyana seorang gadis secantik aurora mendekat dari sesemak, menari seiring nyanyian. Gemulai gerakannya hadirkan getar jemari.

Dicumbu kehangatan angin malam, mereka bercengkerama hingga terlupa. Seperti benih kasih yang tumbuh tanpa ditanam, seperti pula perasaan hangat bergenggam cinta, mereka pun jatuh di selaksa rasa. “Telah kutemukan satu tempat, di mana dengan puas dapat kusimpan kompas dan petaku untuk selamanya” bisiknya saat sinar pertama mentari membelai.
“Jangan,” balas si gadis, menatap lurus ke mata Pengelana “…sebab aku haus akan semua pesona pengembaraan yang kauceritakan semalam…”
Di bawah kemilau surya mereka saling menggenggam tangan.

Berpegang pada keinginan masing-masing, akhirnya si Pengelana melepaskan gadisnya pergi mengembara. Membawa kompas di tangan kanan kanan dan peta di tangan kiri, dengan janji setelah menggapai ujung pesona ia pasti kembali. Kini Si Pengelana bertinggal di tepi muara, membangun sebuah rumah dari rumpun-rumpun bambu tempat ia menunggu. Mengalunkan lagu cinta setiap purnama menjelang.

Lima tahun berselang, si gadis kembali. Parasnya masih seelok aurora. Penuh semangat digenggamnya sebuntal kenang-kenangan untuk sang kekasih, beragam souvenir bukti sukses pengembaraannya. Alangkah terkejutnya saat ia disambut sebuah pusara di tepi muara, pada nisan terukir “Selalu menanti. Selalu mengharap bahagiamu”.

***

Sang gadis merunduk mengair mata. Peta yang kini kumal, dan kompas yang jejarumnya selalu berputar gamang di daerah itu terjatuh di tanah merah. Helai daun berguguran, kunang-kunang berpijar indah seolah menyambutnya “Selamat pulang, Gadis…” Namun di matanya keelokan itu tidak seterang dahulu.

Dalam kepedihan tak terperi seolah didengarnya denting dawai gitar yang selalu dirindunya. “Maafkan aku kekasih…. Seandainya aku lebih dulu memahirkan kemampuanku membaca peta dan kompas, mungkin aku takkan terlambat menunai janji…”

Denting gitar makin keras. Suara merdu Si Pengelana kini mengalun di kepalanya, menderaskan air mata. Beriringkan nyanyian semu si gadis bangkit, menari seindah kupu-kupu. Matanya rapat terpejam berusaha melukiskan kenangan.
“Kau masih selincah dulu, seelok pertama kita bertemu…”
Suara itu!!! Apakah tarian sanggup menghidupkan kembali yang telah mati?!?
Saat membuka mata, si Pengelana tersenyum di hadapannya. Dilebarkannya kedua lengan menyambut kekasih yang telah kembali…

“Aku selalu menunggumu,” bisiknya. “Aku tak akan pergi sampai aku mati. Karena itu kusiapkan pusara itu. Kupesankan pada orang desa, bila kau kembali setelah aku tiada, sampaikan bahwa ‘aku selalu mencintaimu’..”
Dan mereka tak pernah terpisah lagi. Sementara di atas sana, gerimis mencitrakan pelangi: janji yang tertepati.

Akhirnya kompas dan peta itu dipensiunkan juga, dipajang di dinding sebagai pengingat: “kadang orang harus berani berjalan jauh sebelum mendapati apa yang dicarinya. Dan bila telah menemukannya, mungkin harus berani menyimpan impian untuk mempertahankannya.”
Berbahagialah yang bisa memiliki keduanya:
Impian dan Cinta…

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan