Bening

[1]
Aku terpesona pada sepasang matanya. Tak pernah sebelumnya kutemukan mata yang begini mendebarkan. Sepasang mata yang terlihat begitu jernih dalam kegelapan. Saat ia memandang ke arahku yang duduk di dekat meja bar, aku merasa begitu berdebar. Tatapannya seperti menelanjangi. Rasanya, akulah yang pelan-pelan telanjang di ruangan ini. Bukan dia yang sedang menari telanjang.

Aku melirik beberapa kawanku yang sudah bersandar di sofa setengah mabuk. Semuanya bengong disesah birahi menatap liuk tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Aku sengaja duduk agak menjauh, menghindari tatapan matanya. Ia menaikkan satu kakinya di atas meja. Semua menahan napas dan menelan ludah, ketika ia melepas lilitan kain terakhir di tubuhnya. Saat itulah kami bertatapan. Rasanya aku tak akan pernah mungkin melupakan tatapan mata itu. Bukan tatapan mata yang menghiba atau penuh kesedihan. Tapi tatapan yang meledek sinis. Apa yang diledeknya? Nasibnya, atau kami para lelaki yang memandangnya penuh birahi?

Ah, bagaimana bisa mata seorang penari telanjang membuatku begini berdebar?

***
[2]
Kulihat lampu yang sebentar lagi akan menimpa panggung. Warna-warni yang masih kerap membuatku canggung. Bagiku, kegelapan adalah tempat terbaik bagi seorang penari telanjang. Tempat nyaman untuk menyimpan kesedihan hidup yang memang harus disembunyikan dari terang. Dan dalam kegelapan, aku hapal mata-mata itu. Mata penuh nafsu. Mata yang merasa berkuasa karena punya banyak uang!

Aku perlahan naik ke panggung dengan gerak kaki tenang, tapi mengundang. Daya pikat seorang penari telanjang dimulai dari kemunculannya. Begitu aku mampu membuat puluhan pasang mata itu terpesona pada liukanku, selanjutnya tinggal memainkan rasa penasaran mereka. Menggoda imajinasi mereka. Saat itulah mereka menjadi sekawanan serigala dengan mata tak sabar ingin menyerang. Setiap liukan menjadi pemandangan yang tak akan pernah dibiarkan lewat begitu saja oleh mata jalang.

Tak rela sebenarnya tubuh ini digelar. Mereka seperti para rahib suci yang dengan gembira mempersembahkan seorang perawan sebagai korban di atas altar. Setiap kegembiraan selalu memerlukan korban! Batinku dengan jantung berdebar. Di mata mereka, tubuhku barangkali serupa mawar yang dalam kegelapan perlahan mekar. Kemolekannya membuat mata mereka nanar. Atau mungkin bagi mereka aku tak lebih ular penggoda adam untuk menikmati sesuatu yang tak boleh dilanggar.

Aku melucuti satu demi satu kain di tubuh. Kubiarkan mereka menikmati punggungku. Pada saat itulah, aku melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang membuatku berdebar.

***
[1]
Ya, setelahnya aku tahu. Kita memang tak pernah bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta.

***
[2]
Aku sengaja diam sejak keluar dari Klub. Lewat ekor mata, bisa kulihat ia menyetir mobilnya dengan tenang sambil sesekali melirikku.

“Jadi benar, namamu Bening?”

Pasti ia hanya basa-basi agar tak terlalu jengah karena tak ada percakapan. Maka aku membalasnya hanya dengan anggukan. Selanjutnya, sama sekali tak ada percakapan bahkan ketika kami sudahdikamar. Akuhanyaberbaring diam ketika ia memijit saklar lampu sehingga suasana semakin samar. Akupun lega karena segalanya akan menjadi lebih menenteramkan dalam kegelapan. Kita tak memerlukan banyak kata-kata dalam kegelapan, selain dekapan. Dalam kegelapan yang membutakan, seluruh panca inderaku justru hidup dan jauh menyelam. Seperti tubuh kami yang sudah semakin erat dan dalam. Aku pun semakin menekan tubuhnya hingga tubuh kami seolah sama- sama saling tenggelam. Sesaat terlupakan kenyataan hidup yang kejam.

***
[1]
Pernah seorang kawan berkelakar: cinta bukan dari mata turun ke hati, tapi dari ranjang meresap ke hati. Aku teringat kelakar itu saat menandanginya yang tertidur dengan punggung terbuka. Tak pernah aku merasa begini nyaman ketika seranjang dengan perempuan.

Tumpukan pekerjaan tak membuatku melupakannya. Sesekali aku meneleponnya, mengajaknya keluar, atau menunggunya pulang. Sampai-sampai Manajer Klub meledek, “Cinta membuatmu kelihatan lebih sabar dan segar,” katanya menepuk pundakku ketika sedang menunggu Bening di bar. Manager Klub bercerita tentang dia yang masih bersuamikan seorang juragan beras di desa yang sedang ditahan karena terlibat judi. Anaknya satu. Ibunya terkena kanker dan Bening mesti menanggung biaya pengobatannya. “Berhubungan dengan perempuan yang punya latar belakang seperti itu hanya akan menimbulkan kerepotan dalam hidupmu,” katanya. “Kenapa kamu tak pacaran saja Widya, Lucia atau lainnya?”

Aku tersenyum. Kisah-kisah kemiskinan dan penderitaan memang sering menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan malam. Bening sendiri tak pernah bercerita banyak setiap kali kami bertemu. Ia hanya menjawab apa yang dirasanya perlu, selebihnya ia lebih sering menatapku. Ia seperti tak ingin dipahami hanya karena hidupnya menderita. Penderitaan bukanlah alasan untuk dimaafkan.

***
[2]
Kegelapan telah mengajariku untuk selalu memaafkan orang-orang di sekitarku. Tak terkecuali, diriku. Sejak kanak-kanak aku memilih sembunyi dalam kegelapan. Ketika ibu diseret ayah ke kamar dan dipukuli atau dibenturkan kepalanya ke meja, aku hanya terisak dalam kegelapan. Ketika suamiku pulang mabuk, aku pura-pura memejam memasuki kegelapan. Ketika seorang laki-laki meletakkan segepok uang sembari menyeringai, aku belajar sabar dalam kegelapan. Maka, aku memaafkan diriku, ketika tubuhku dipertontonkan.

Aku memaafkan diriku, yang rela dicumbu demi mendapat bayaran. Aku memaafkan diriku, atas tubuh yang kujual demi menanggung hidup orang-orang yang kucintai dan menggantungkan sepenuhnya harapan.

Dan kini aku memaafkan diriku, untuk sebuah hal yang tak pernah kutahu. Untuk sebuah hal yang baru. Aku yang luluh oleh tatapan mata itu.

***
[1]
“Aku ingin menikahimu…”

Bening yang sedang menikmati anggur merah agak tersedak, lalu lama menatapku.

“Tapi ada satu hal yang ingin kuminta darimu. Dan aku mohon, kamu mengerti jika ini terpaksa kuminta demi kebaikan kita berdua.”

Bening menatap kedua mataku dengan pandangan penuh tanya. Namun kedua mata itu pun seolah memberitahuku, jika ia siap mendengarkan apa yang kuminta. Aku menelan ludah sebelum melanjutkan bicara.

“Rekan bisnisku yang kemarin datang, suka sama kamu. Ia mau ajak kencan kamu besok. Hatiku berat, Bening. Tapi jika proyekku yang satu ini berhasil, hidup kita akan stabil, dan kamu tak perlu bekerja lagi di Klub itu.”

Lama ia menatapku. Riak kemarahan bergejolak dalam kedua mata itu. Kemudian, anggur merah di dalam gelasnya ia tumpahkan ke mukaku.

Tak kusangka reaksinya segeram itu. Kupikir ini saat terbaik menyampaikan padanya: makan malam di restoran mahal, dengan nyala lilin yang romatis, meja di pojok dengan pemandangan ke langit malam yang gemerlapan, juga musik lembut dan harum wine yang menghangatkan.

“Dengar, Bening,” aku menyentuh tangannya lembut mencoba menenangkan. “Aku mencintaimu.”

“Beginikah cara seorang laki-laki memperlakukan perempuan yang dicintainya?!” Katanya dengan geram. Kemudian bergegas pergi.

***
[2]
Kakiku lekas melangkah keluar dari restoran. Dapat kurasakan, tubuhku menjauh darinya, dari kenangan. Rasanya ada yang tak bisa lagi mampu kutahan. Ada kemarahan dan kekecewaan. Apa yang barusan diucapkan seakan menjauhkanku dari hal yang paling kubenci: terang, dan mendekatkanku ke hal yang paling kucintai: kegelapan. Ia melambungkan sekaligus menghempaskan. Ia memberiku harapan sekaligus kesakitan.

Semua perempuan yang kukenal di Klub, punya impian nyaris sama. Hidup tenang bersama seorang suami yang menyanyangi mereka. Merawat dan membesarkan anak lalu diakui dan dihargai. Tanpa sembunyi-sembunyi. Tapi aku hanya perlu laki-laki yang mencintai dan laki-laki yang kucintai. Cinta yang tak kudapat dari suamiku sendiri.

Suami pengangguran dan pemabuk yang rela menjajakan istri demi materi. Hal yang jauh hari sudah kuikhlaskan demi hidup putri tunggal kami. Aku tak butuh status dan gengsi. Maka apa yang diungkapkannya tadi membuat kekecewaanku tak terperi. Bertemu lagi pun kutak lagi sudi.

***
[1]
Aku tak bisa melupakan tatapan mata itu. Sepasang mata yang menyimpan kemarahan juga kesedihan tak terbahasakan. Aku mencoba bersikap biasa ketika bertemu kembali di Klub. Sebenarnya aku tak ingin ke mari. Tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk mempertemukan Bening dengan seorang politisi muda yang sedang meroket namanya. Ia banyak disebut sebagai tokoh muda penuh harapan. Pemimpin masa depan. Dikenal bersih dan selalu menyuarakan pentingnya moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Pada setiap pidato politiknya, ia begitu fasih mengutip ayat-ayat. Meski banyak juga yang meledek kalau ia hanya tokoh muda yang sukses jualan agama. Dalam politik, agama memang jualan yang paling laris.

Kini, politikus muda yang selalu bicara soal moral itu duduk dengan mata penuh birahi memandangi para penari telanjang meliuk-liuk di atas panggung. Aku duduk diam di sampingnya, yang matanya tak lepas dari Bening.

“Sudah kamu atur semua kan?” Tanyanya. Aku sedapat mungkin tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan? Ia memegang kunci yang akan memperlancar proyek yang kini masih dibahas Badan Anggaran. Dalam situasi begini aku sudah terbiasa untuk bersikap realistis. Perasaan dan cinta hanyalah urusan nomor sekian.

“Bagaimana? Sudah beres kan?” Tanyanya lagi, sambil matanya terus menatap tubuh telanjang Bening.

Aku menelan ludah.

***
[2]
Aku menelan puncak nafsu laki-laki itu di penghabisan. Tanpa persenggamaan. Sungguh, aku tak sudi memberikan sepenuhnya badan. Itu pun kulakukan dengan mata terpejam dalam kegelapan. Lalu, ia tersungkur. Sementara aku seperti terperosok jauh ke dalam sumur. Meluncur terkubur bersama indahnya kenangan, akan sepasang mata yang mendebarkan. Yang pada akhirnya rela menyerahkan tubuhku hanya untuk urusan pekerjaan.

***
[1]
Ia tak mau lagi bertemu denganku. Ia menghindar setiap melihatku. Aku menangkap kebencian dalam sorot matanya. Aku mencoba mengabaikan. Apalagi ketika politisi muda itu memintaku membereskan sesuatu yang bisa mengganggu karier politiknya. Padaku ia bercerita: lawan-lawan politiknya sudah bisa mengendus hubungannya dengan Bening. “Ini terlalu beresiko,” katanya. Ia memintaku untuk mengkoordinasi gerakan razia ke tempat- tempat maksiat. Ia sudah menghubungi beberapa organisasi yang siap bergerak, asal bayarannya cocok.

Politisi muda itu mulai lagi getol bicara soal moralitas di koran dan televisi. “Tempat-tempat hiburan maksiat sudah selayaknya ditertibkan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat- singkatnya!” Sesumbarnya.

Apakah ini berkaitan hubungannya dengan Bening, atau hanya jualan politiknya menjelang pemilihan? Dua bulan lagi ia memang akan mencalonkan diri jadi Gubernur. Seperti aku bilang, dalam politik, jualan agama selalu menguntungkan agar memperoleh banyak dukungan. Barangkali ia memang ingin melenyapkan Bening. Seminggu kemudian aku mendengar Klub itu diserang serombongan orang. Tempat itu diobrak- abrik. Puluhan pegawai dipukuli. Sejak penyerbuan itu, Klub ditutup. Apa yang terjadi dengan Bening? Aku sama sekali tak tahu menahu.

Tapi aku selalu teringat pada sepasang matanya.

***

Sepasang mataku tertutup. Bisa kubayangkan matanya menatapku tajam, saat peluru senapan menggempur kepalaku sebagai saksi yang tak boleh dibiarkan hidup. Dan kini, tinggallah aku hanya sebuah nama, sebuah cerita.

Bening….

(*)

Bening...

[1]
Aku terpesona pada sepasang matanya. Tak pernah sebelumnya kutemukan mata yang begini mendebarkan. Sepasang mata yang terlihat begitu jernih dalam kegelapan. Saat ia memandang ke arahku yang duduk di dekat meja bar, aku merasa begitu berdebar. Tatapannya seperti menelanjangi. Rasanya, akulah yang pelan-pelan telanjang di ruangan ini. Bukan dia yang sedang menari telanjang.

Aku melirik beberapa kawanku yang sudah bersandar di sofa setengah mabuk. Semuanya bengong disesah birahi menatap liuk tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Aku sengaja duduk agak menjauh, menghindari tatapan matanya. Ia menaikkan satu kakinya di atas meja. Semua menahan napas dan menelan ludah, ketika ia melepas lilitan kain terakhir di tubuhnya. Saat itulah kami bertatapan. Rasanya aku tak akan pernah mungkin melupakan tatapan mata itu. Bukan tatapan mata yang menghiba atau penuh kesedihan. Tapi tatapan yang meledek sinis. Apa yang diledeknya? Nasibnya, atau kami para lelaki yang memandangnya penuh birahi?

Ah, bagaimana bisa mata seorang penari telanjang membuatku begini berdebar?

***

[2]
Kulihat lampu yang sebentar lagi akan menimpa panggung. Warna-warni yang masih kerap membuatku canggung. Bagiku, kegelapan adalah tempat terbaik bagi seorang penari telanjang. Tempat nyaman untuk menyimpan kesedihan hidup yang memang harus disembunyikan dari terang. Dan dalam kegelapan, aku hapal mata-mata itu. Mata penuh nafsu. Mata yang merasa berkuasa karena punya banyak uang!

Aku perlahan naik ke panggung dengan gerak kaki tenang, tapi mengundang. Daya pikat seorang penari telanjang dimulai dari kemunculannya. Begitu aku mampu membuat puluhan pasang mata itu terpesona pada liukanku, selanjutnya tinggal memainkan rasa penasaran mereka. Menggoda imajinasi mereka. Saat itulah mereka menjadi sekawanan serigala dengan mata tak sabar ingin menyerang. Setiap liukan menjadi pemandangan yang tak akan pernah dibiarkan lewat begitu saja oleh mata jalang.

Tak rela sebenarnya tubuh ini digelar. Mereka seperti para rahib suci yang dengan gembira mempersembahkan seorang perawan sebagai korban di atas altar. Setiap kegembiraan selalu memerlukan korban! Batinku dengan jantung berdebar. Di mata mereka, tubuhku barangkali serupa mawar yang dalam kegelapan perlahan mekar. Kemolekannya membuat mata mereka nanar. Atau mungkin bagi mereka aku tak lebih ular penggoda adam untuk menikmati sesuatu yang tak boleh dilanggar.

Aku melucuti satu demi satu kain di tubuh. Kubiarkan mereka menikmati punggungku. Pada saat itulah, aku melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang membuatku berdebar.

***

[1]
Ya, setelahnya aku tahu. Kita memang tak pernah bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta.

***

[2]
Aku sengaja diam sejak keluar dari Klub. Lewat ekor mata, bisa kulihat ia menyetir mobilnya dengan tenang sambil sesekali melirikku.

“Jadi benar, namamu Bening?”

Pasti ia hanya basa-basi agar tak terlalu jengah karena tak ada percakapan. Maka aku membalasnya hanya dengan anggukan. Selanjutnya, sama sekali tak ada percakapan bahkan ketika kami sudahdikamar. Akuhanyaberbaring diam ketika ia memijit saklar lampu sehingga suasana semakin samar. Akupun lega karena segalanya akan menjadi lebih menenteramkan dalam kegelapan. Kita tak memerlukan banyak kata-kata dalam kegelapan, selain dekapan. Dalam kegelapan yang membutakan, seluruh panca inderaku justru hidup dan jauh menyelam. Seperti tubuh kami yang sudah semakin erat dan dalam. Aku pun semakin menekan tubuhnya hingga tubuh kami seolah sama- sama saling tenggelam. Sesaat terlupakan kenyataan hidup yang kejam.

***

[1]
Pernah seorang kawan berkelakar: cinta bukan dari mata turun ke hati, tapi dari ranjang meresap ke hati. Aku teringat kelakar itu saat menandanginya yang tertidur dengan punggung terbuka. Tak pernah aku merasa begini nyaman ketika seranjang dengan perempuan.

Tumpukan pekerjaan tak membuatku melupakannya. Sesekali aku meneleponnya, mengajaknya keluar, atau menunggunya pulang. Sampai-sampai Manajer Klub meledek, “Cinta membuatmu kelihatan lebih sabar dan segar,” katanya menepuk pundakku ketika sedang menunggu Bening di bar. Manager Klub bercerita tentang dia yang masih bersuamikan seorang juragan beras di desa yang sedang ditahan karena terlibat judi. Anaknya satu. Ibunya terkena kanker dan Bening mesti menanggung biaya pengobatannya. “Berhubungan dengan perempuan yang punya latar belakang seperti itu hanya akan menimbulkan kerepotan dalam hidupmu,” katanya. “Kenapa kamu tak pacaran saja Widya, Lucia atau lainnya?”

Aku tersenyum. Kisah-kisah kemiskinan dan penderitaan memang sering menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan malam. Bening sendiri tak pernah bercerita banyak setiap kali kami bertemu. Ia hanya menjawab apa yang dirasanya perlu, selebihnya ia lebih sering menatapku. Ia seperti tak ingin dipahami hanya karena hidupnya menderita. Penderitaan bukanlah alasan untuk dimaafkan.

***

[2]
Kegelapan telah mengajariku untuk selalu memaafkan orang-orang di sekitarku. Tak terkecuali, diriku. Sejak kanak-kanak aku memilih sembunyi dalam kegelapan. Ketika ibu diseret ayah ke kamar dan dipukuli atau dibenturkan kepalanya ke meja, aku hanya terisak dalam kegelapan. Ketika suamiku pulang mabuk, aku pura-pura memejam memasuki kegelapan. Ketika seorang laki-laki meletakkan segepok uang sembari menyeringai, aku belajar sabar dalam kegelapan. Maka, aku memaafkan diriku, ketika tubuhku dipertontonkan.

Aku memaafkan diriku, yang rela dicumbu demi mendapat bayaran. Aku memaafkan diriku, atas tubuh yang kujual demi menanggung hidup orang-orang yang kucintai dan menggantungkan sepenuhnya harapan.

Dan kini aku memaafkan diriku, untuk sebuah hal yang tak pernah kutahu. Untuk sebuah hal yang baru. Aku yang luluh oleh tatapan mata itu.

***

[1]
“Aku ingin menikahimu...”

Bening yang sedang menikmati anggur merah agak tersedak, lalu lama menatapku.

“Tapi ada satu hal yang ingin kuminta darimu. Dan aku mohon, kamu mengerti jika ini terpaksa kuminta demi kebaikan kita berdua.”

Bening menatap kedua mataku dengan pandangan penuh tanya. Namun kedua mata itu pun seolah memberitahuku, jika ia siap mendengarkan apa yang kuminta. Aku menelan ludah sebelum melanjutkan bicara.

“Rekan bisnisku yang kemarin datang, suka sama kamu. Ia mau ajak kencan kamu besok. Hatiku berat, Bening. Tapi jika proyekku yang satu ini berhasil, hidup kita akan stabil, dan kamu tak perlu bekerja lagi di Klub itu.”

Lama ia menatapku. Riak kemarahan bergejolak dalam kedua mata itu. Kemudian, anggur merah di dalam gelasnya ia tumpahkan ke mukaku.

Tak kusangka reaksinya segeram itu. Kupikir ini saat terbaik menyampaikan padanya: makan malam di restoran mahal, dengan nyala lilin yang romatis, meja di pojok dengan pemandangan ke langit malam yang gemerlapan, juga musik lembut dan harum wine yang menghangatkan.

“Dengar, Bening,” aku menyentuh tangannya lembut mencoba menenangkan. “Aku mencintaimu.”

“Beginikah cara seorang laki-laki memperlakukan perempuan yang dicintainya?!” Katanya dengan geram. Kemudian bergegas pergi.

***

[2]
Kakiku lekas melangkah keluar dari restoran. Dapat kurasakan, tubuhku menjauh darinya, dari kenangan. Rasanya ada yang tak bisa lagi mampu kutahan. Ada kemarahan dan kekecewaan. Apa yang barusan diucapkan seakan menjauhkanku dari hal yang paling kubenci: terang, dan mendekatkanku ke hal yang paling kucintai: kegelapan. Ia melambungkan sekaligus menghempaskan. Ia memberiku harapan sekaligus kesakitan.

Semua perempuan yang kukenal di Klub, punya impian nyaris sama. Hidup tenang bersama seorang suami yang menyanyangi mereka. Merawat dan membesarkan anak lalu diakui dan dihargai. Tanpa sembunyi-sembunyi. Tapi aku hanya perlu laki-laki yang mencintai dan laki-laki yang kucintai. Cinta yang tak kudapat dari suamiku sendiri.

Suami pengangguran dan pemabuk yang rela menjajakan istri demi materi. Hal yang jauh hari sudah kuikhlaskan demi hidup putri tunggal kami. Aku tak butuh status dan gengsi. Maka apa yang diungkapkannya tadi membuat kekecewaanku tak terperi. Bertemu lagi pun kutak lagi sudi.

***

[1]
Aku tak bisa melupakan tatapan mata itu. Sepasang mata yang menyimpan kemarahan juga kesedihan tak terbahasakan. Aku mencoba bersikap biasa ketika bertemu kembali di Klub. Sebenarnya aku tak ingin ke mari. Tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk mempertemukan Bening dengan seorang politisi muda yang sedang meroket namanya. Ia banyak disebut sebagai tokoh muda penuh harapan. Pemimpin masa depan. Dikenal bersih dan selalu menyuarakan pentingnya moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Pada setiap pidato politiknya, ia begitu fasih mengutip ayat-ayat. Meski banyak juga yang meledek kalau ia hanya tokoh muda yang sukses jualan agama. Dalam politik, agama memang jualan yang paling laris.

Kini, politikus muda yang selalu bicara soal moral itu duduk dengan mata penuh birahi memandangi para penari telanjang meliuk-liuk di atas panggung. Aku duduk diam di sampingnya, yang matanya tak lepas dari Bening.

“Sudah kamu atur semua kan?” Tanyanya. Aku sedapat mungkin tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan? Ia memegang kunci yang akan memperlancar proyek yang kini masih dibahas Badan Anggaran. Dalam situasi begini aku sudah terbiasa untuk bersikap realistis. Perasaan dan cinta hanyalah urusan nomor sekian.

“Bagaimana? Sudah beres kan?” Tanyanya lagi, sambil matanya terus menatap tubuh telanjang Bening.

Aku menelan ludah.

***

[2]
Aku menelan puncak nafsu laki-laki itu di penghabisan. Tanpa persenggamaan. Sungguh, aku tak sudi memberikan sepenuhnya badan. Itu pun kulakukan dengan mata terpejam dalam kegelapan. Lalu, ia tersungkur. Sementara aku seperti terperosok jauh ke dalam sumur. Meluncur terkubur bersama indahnya kenangan, akan sepasang mata yang mendebarkan. Yang pada akhirnya rela menyerahkan tubuhku hanya untuk urusan pekerjaan.

***

[1]
Ia tak mau lagi bertemu denganku. Ia menghindar setiap melihatku. Aku menangkap kebencian dalam sorot matanya. Aku mencoba mengabaikan. Apalagi ketika politisi muda itu memintaku membereskan sesuatu yang bisa mengganggu karier politiknya. Padaku ia bercerita: lawan-lawan politiknya sudah bisa mengendus hubungannya dengan Bening. “Ini terlalu beresiko,” katanya. Ia memintaku untuk mengkoordinasi gerakan razia ke tempat- tempat maksiat. Ia sudah menghubungi beberapa organisasi yang siap bergerak, asal bayarannya cocok.

Politisi muda itu mulai lagi getol bicara soal moralitas di koran dan televisi. “Tempat-tempat hiburan maksiat sudah selayaknya ditertibkan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat- singkatnya!” Sesumbarnya.

Apakah ini berkaitan hubungannya dengan Bening, atau hanya jualan politiknya menjelang pemilihan? Dua bulan lagi ia memang akan mencalonkan diri jadi Gubernur. Seperti aku bilang, dalam politik, jualan agama selalu menguntungkan agar memperoleh banyak dukungan. Barangkali ia memang ingin melenyapkan Bening. Seminggu kemudian aku mendengar Klub itu diserang serombongan orang. Tempat itu diobrak- abrik. Puluhan pegawai dipukuli. Sejak penyerbuan itu, Klub ditutup. Apa yang terjadi dengan Bening? Aku sama sekali tak tahu menahu.

Tapi aku selalu teringat pada sepasang matanya.

***

Sepasang mataku tertutup. Bisa kubayangkan matanya menatapku tajam, saat peluru senapan menggempur kepalaku sebagai saksi yang tak boleh dibiarkan hidup. Dan kini, tinggallah aku hanya sebuah nama, sebuah cerita.

Bening....

(*)
Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan