Rain…

… sesaat, ketika ada yang merintik pelan-pelan di secangkir kopimu yang sudah mulai dingin itu. “hujan,” katamu. itu aku yang mencoba menabrak kaca jendelamu. menari berputar bersama angin yang ingin, menyampaikan sebuah pesan yang semoga tak akan terlambat datang. “tersenyumlah. berbahagialah.”¹

gerimis turun perlahan, rintiknya berjatuhan satu-satu; pada langit-langit kamarku, dentum suaranya memulangkan semua kenangan tentangmu, di ingatanku yang ternyata tak mampu membunuhmu. pagi ini hujan turun lagi, dan puisi tentangmu masih berupa angan yang tak mampu aku metaforakan; ia menyelinap di antara diksi yang tak mampu kuterjemahkan ke dalam tulisan. sepertinya kali ini, hanya ada engkau dan hujan yang menari-nari di kepalaku; menembus ruang-ruang tak bertepi, dimensi waktu pada ingatan yang mencari tentang hujan yang dahulu pernah menabrak kaca jendelaku.

… dan aku masih ingat, bagaimana engkau menukar mimpi kita yang megah dengan sekata sudah. mungkin aku yang tidak bisa membaca hujan, sebuah firasat yang sudah digariskan awan ketika langit sedang muram. mungkin aku yang terlalu sibuk dengan perasaan, ketika hujan akhirnya merintik pelan-pelan menyudahi deras yang tiba-tiba.²

aku tak pernah mampu mengendalikan ingatan, ia yang deras selalu menghadirkanmu sekali lagi; lewat apa saja yang disampaikan alam kepadaku, ialah teduh suaramu yang pernah kuabadikan dalam labirin mimpi-mimpiku. isyarat hujan itu, yang dahulu belum mampu aku baca, akhirnya menghadiahkan sekata sudah yang kubiarkan; aku mencoba memugar semuanya, kata-kata samar yang menyamar sebagai muram langitmu dulu, atau jarak yang pernah mempertemukan rindu kita di antaranya. bagiku semua sama saja, isyarat darimu tetap luput dari tangkap pekaku.

… pada sebuah pagi, ada selaksa haru yang labuh. memeluk gaduh sebaris kalimat yang kaubangun dengan segenap sungguh. seperti mengemasi sisa hujan di atap-atap yang berkarat, kau riuh. menarikku berdansa bersama kata yang tak sekadar kata-kata; yang jelma kita.³

kepada hujan, maaf untuk semua isyarat yang tak mampu aku baca; perihal muram langit waktu itu, atau tentang segala yang pernah menyakiti alur narasi cerita tentang sebuah pagi. jika kata-kata tak mampu mengambalikan semuanya, biarkan rahasia kita menyaru sekali lagi bersama waktu dan musim yang akan menggugurkan daun-daunnya. aku ingin menyapamu sekali lagi; mengembalikan pagi kita yang riuh dan malam-malam hangat yang mengemasi rindu. karena sepasang puisi, sedang menunggu dan merindukanmu di bait beranda paling sunyi. karena aku tak akan mampu menggantikan desir darah dengan desis gerimis.

lewat apa saja yang pernah dipercayakan semesta kepada kita; izinkan hujanmu menabrak lagi kaca jendelaku. 

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan