Aku, Gadis, dan Hujan

Menyaksikan guyuran hujan dari bawah lindungan halte bus, aku merasa tak berdaya. Aku hanya bisa memandang entah apa, tanpa pernah bisa berbuat lain kecuali diam dan merasa hampa. Jauh di atas sana, langit kelabu, pertanda hujan akan cukup betah menyiksaku dengan ruang hampanya.
Aku merasa sendirian di bawah halte ini. Mungkin juga mereka yang tengah bergumpal di bawah halte yang sama ini merasakan kesendiriannya masing-masing. Tak ada keinginan untuk sekadar bicara, karena memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Di dekatku ada anak muda, kuduga saja dia mahasiswa—perempuan—asyik dengan gadgetnya. Mungkin dia tenggelam dalam percakapan maya, entah dengan siapa, yang jelas bukan dengan satu pun di antara kami yang ada di sekitarnya. Aneh juga, tak satu pun orang mau menyalakan rokok. Dan memang sangat terkutuklah jika di suasana seperti ini ada yang mengepulkan asap rokok.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seekor burung kecil—seperti burung gereja—hinggap di pundakku. Aneh sekali, karena burung kecil itu tak curiga atau takut padaku. Mungkinkah kini aku menjelma dahan, dan karenanya menjadi tempat hinggap—salah satunya—burung kecil ini? Aku tersenyum saja, sambil melirik ke burung kecil yang tengah mengibaskan air dari bulu-bulunya.
“Ihhh, lucu….” mahasiswi itu nyeletuk. Lalu tanpa ba-bi-bu dia memotret kami—maksudku, aku dan si kecil yang kedinginan ini. “Boleh aku upload di FB, ya, mas?” pintanya. Aku tersenyum saja, diam tak bergerak, karena takut mengejutkan si kecil kuyup ini.

Saat ini aku dan burung kecil di pundak kananku ini seperti terikat pada entah apa, dan seolah sepakat untuk tidak saling mengganggu. Jujur saja aku ingin menyapanya, sekadar pemecah kesenyapan monoton derai hujan. Di luar halte, berderet mobil-mobil dengan tangkai-tangkai wiper bergerak ke kanan-kiri. Di sela dengkingan klakson, sebetulnya di luar halte, alangkah nerakanya. Tapi, di bawah halte kecil pinggir jalan ini, kurasakan betapa surganya, dan… karenanya aku tak mau mengucapkan sepatah kata pun pada burung kecil ini; aku takut dia akan terkejut, dan berniat terbang… tapi, di luar halte ini, hanya ada neraka.
Hal yang menunjukkan bahwa aku adalah manusia hidup, saat ini—adalah helaan napas perlahan, naik turun di dadaku dan sesekali adalah kerjapan kelopak mata, yang tentu saja bergerak tanpa kuperintah secara langsung. Hanya itu, selebihnya aku hanyalah sebatang entah apa yang kebetulan memiliki tempat untuk sekadar tangkringan bagi burung kecil ini. Dan, hanya dengan lirikan mata yang sangat terbatas ini, aku bisa tahu bahwa burung kecil ini merasa nyaman nemplok di pundakku.
“Mas… dia tidur,” tiba-tiba bisik kecil si mahasiswi menembus kesunyianku. Aku terdiam. Ada rasa haru yang tiba-tiba mengalir. Dia tertidur? Dan kurasa si mahasiswi itu—dengan gerakan yang sangat perlahan—mengabadikan kami sekali lagi. Kubayangkan foto-foto kami terunggah di jaringan maya, lalu mendapat komentar aneka tulisan dan simbol-simbol. Sesaat, rasanya, aku menjadi ‘tokoh dunia’ maya. Seseorang yang entah siapa, tiba-tiba menjelma sosok yang memiliki sesuatu yang lain. Ajaib memang. Di samping dunia nyata, ada juga dunia lain, dan dunia maya… lalu, akankah ada dunia yang berlabel lain lagi? Tetapi, benarkah ada dunia itu semua? Ah… pikiran kacau itu datang lagi.

Belum lagi pikiranku pupus semua, tiba-tiba ­juga entah dari mana, seekor burung kecil lain tiba-tiba ribut, terbang agak kacau dan akhirnya hinggap di pundak kiriku. Aku terkejut, demikian juga orang-orang di sekitarku. Si mahasiswi tertawa geli. Dia memotret lagi.
“Ini lucu banget, deh….” komentarnya entah kepada siapa dia berkata.
“Kaya’ sirkus aja….” komentar entah siapa lagi.
Lalu di bawah halte itu pun menjadi hidup. Ada yang tertawa, komentar entah apa, lalu mengembangkan percakapan dengan cerita entah apa lagi. Si mahasiswi kemudian membacakan komentar-komentar yang ada di FB-nya… dan seterusnya. Riuh, tapi tak membuat dua ekor burung ini terganggu sama sekali.
“Ini unbelievable. mas, ini komentar yang ada di FB-ku. Nih, ada yang bilang mas kayak Pa… la… sa… ra… siapa sih?” komentar si mahasiswi.
Aku tersenyum kecil, lalu menjawab, “Tahu kisah Mahabarata?” Si mahasiswi mengiakan. “Nah, Palasara itu adalah seorang pangeran di epos Mahabarata, yang menolak menjadi raja. Lalu berkelana. Di perjalanan, dia melihat ada sarang burung dan di dalamnya ada beberapa butir telur…” dan aku pun melanjutkan kisah itu.
Palasara seperti menggugat keadilan karena melihat induk burung meninggalkan sarang dengan telur yang ditelantarkan begitu saja. Maka, diambilnya sarang burung itu, beserta telur-telur di dalamnya. Dicarinya induk burung agar mau mengerami telur-telurnya.

Namun, kisah memang menghendaki lain. Induk burung tak mau mengerami, akhirnya Palasara menjaga sarang burung itu di sebuah gua. Dengan rambut panjangnya, yang kemudian digelungnya sedemikian rupa, sarang burung itu diletakkan di gulungan rambutnya. Terlindungi, hangat, dan mendapat daya kasih kehidupan, entah berapa lama kemudian, telur-telur itu menetas. Palasara menitikkan air mata bahagia. Tak lama kedua burung itu berubah wujud menjadi Batara Guru dan Narada.
“Ih… cool….” potong si mahasiswi. Dan baru kusadari, ternyata semua yang ada di sekitarku—termasuk dua burung kecil ini—seperti tersihir oleh kisahku tentang Palasara. Aku pun kemudian terdiam, seperti tak lagi mampu berkata kata, mencoba merasakan sesuatu—­entah apa—yang tiba-tiba menggenang di bawah halte ini.

Hujan reda. Satu demi satu orang-orang meninggalkan surga kecil bernama halte ini, melanjutkan perjalanan mereka hari ini. Burung-burung itu pun, tanpa berkata apa apa, lantas mengepakkan sayap kecil mereka, terbang begitu saja. Yang tertinggal memang ruang kosong di pundak kanan-kiriku.
“Makasih dongengnya, ya, mas… keren banget deh.”
“Ok.”
“Aku enggak percaya, hari ini aku masuk dunia dongeng,” tambahnya lagi. Aku tergelak.
“Tadi itu aku tulis sebagai status di Facebook. Makasih ya mas. Sampai ketemu lagi….”
Dia melambaikan tangan dan taksi berhenti. Taksi berjalan dan menyisakan kekosongan….

“Ya, sampai ketemu lagi, gadis cantik. Semoga bukan sekedar di dunia dongeng….” gumamku sambil berjalan pelan-pelan meninggalkan halte bus.
Aahhh astaga… Aku lupa memberitahu dia, bahwa separuh hatiku, telah ikut bersamanya….

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan