Ayu

Entah berapa lama Ayu terpekur di beranda. Ia melebur bersama sunyi yang sejuk. Matanya menyapu pematang sawah di depannya. Sejauh jala mata memandang, apa-apa dijeratnya.
Seekor bangau mengirap sembari melengking. Lengkingannya terdengar serupa ratapan. Sebab, tanah lumpur kering membentang luas. Tak ada mangsa sejenis katak, ikan atau pun serangga air lainnya.
Seonggok pohon randu, satu-satunya, tegak berdiri di tengah sesawahan. Dedaunan tampak jarang menghuni dahan pohon. Kekekeringan telah menyesap hijau dedaunan menjadi kecoklatan. Beberapa buah kapuk randu menggantung di reranting. Kulitnya yang hitam sebagian masih mengatup. Sebagian lagi telah rekah.Ayu memaku pandang pada pohon randu. Didapatinya gumpalan putih meletik dari kulit yang retak. Angin yang berhembus menerbangkannya jauh-jauh. Sedang sisa dedaunan sekarat. Melayang-layang. Jatuh tertampa tanah kering berserabut. Serabut-serabut itu bercabang dan membentuk retakan besar di beberapa ujungnya.
Masih digenggamnya tilas kenangan semasa kecil. Ketika tanah masih gembur berlumpur. Ia kerap menaiki kerbau yang di pandu ayahnya membajak tanah kala musim tanam. Diserupainya kerbau itu kuda yang siap berpacu di lintasan balap. Lantas, gelengan kepala ayahnya menimpali tingkah Ayu.
Atau semasa hijau biji padi mendekati kuning. Acap ia mengusir burung pipit yang mematuk butir-butir padi. Bersama anak-anak seusianya, berlarian menjejak tanah sawah. Lainnya, semasa panen. Tanah sawah dipenuhi orang-orang. Setiap jiwa mendulang gembira.“Mengenang masa kecil?”

Suara Kelana memecahkan lamunan Ayu. Lelaki itu telah berada di sebalik punggungnya. Entah sejak kapan Kelana berdiri di belakangnya. Lelaki itu melangkah mendekat. Lantas, duduk bersejajar di samping Ayu.
“Kemarau merenggut hijau hamparan sawah dan nyanyian burung-burung. Dari mana kau?”
“Kantor kepala desa.”
“Kantor kepala desa?”
“Iya. Berbincang tentang sedikit hal untuk kelengkapan penelitianku.”
“Sekaligus berpamitan?”
“Tidak sekarang atau esok. Mungkin… sebulan lagi.”
Hening menjelanak. Hati Ayu memeram gundah. Bayang kehilangan menyelinap pelan-pelan.

Tahukah kau, Lelaki? Kau telah menjadikan pandanganku mendamba padamu.

Pekikan burung pipit mencabik hening. Didapatinya alap-alap mengigit kepala burung pipit hingga meregang nyawa. Kematian burung pipit menyadarkan Kelana akan waktu.

“Kita pulang sekarang. Senja akan segera pudar.”

Kelana bangkit dari duduknya. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Ayu. Ayu terperangah. Kepalanya mendongak. Matanya mencari kesungguhan pada sepasang mata elang milik Kelana. Pandangan lembut tercipta di sana bersama anggukan.

Adakah debar yang sama di sebalik hatimu, Lelaki?

Debar memaksa Ayu mengambil jalan berlawanan. Batinnya menggeleng. Namun, tangannya pasrah ketika tangan Kelana menariknya. Jemari tangan bergenggaman. Ayu menunduk.
Kebisuan mengepung selama sepasang punggung berjalan. Dirasai Ayu, keramaian yang muncul tiba-tiba memutuskan genggaman. Kebingungan meringkus hatinya.

*****

Rumah menyambut mereka dengan kelengangan dan aroma singkong tanak. Kelana memasuki kamarnya. Sedang aroma yang berasal dari tungku pawon menyeret Ayu ke sana. Ia sembunyikan hatinya yang tak keruan.

Lelaki itu… benar-benar tak kumengerti. Aku terkepung tanya. Apa isi kepalamu???

Tungku pawon lama tak mengepulkan aroma beras. Sepanjang kemarau membelit, ubi-ubian jenis singkong yang ditanam di pekarangan mengisi perut orang-orang desa. Para-para mengeringkan ubi-ubian sebelum ditanak menjadi nasi tiwul.

“Saking pundi sampean, Nduk?”
“Saking sawah, Mbok.”
“Cepat mandi. Waktu magrib hampir tiba.”
“Iya, Mbok.”

*****

Kemarau panjang membangkitkan ritual lama yang tertidur. Tiga hari sudah Ayu melakukan rialat bersama calon peraga lainnya. Berpuasa adalah rialat yang Ayu pilih sebelum melakukan ritual selanjutnya.

“Siapa yang akan melakukan pencurian irus, Nduk?” tanya Mbok Dar, ibu Ayu, sembari menyiduk nasi tiwul ke piring Ayu.
“Siti, Mbok,” jawab Ayu.

Daun telinga Kelana menegak mendengar kata pencurian. Dorongan keingin-tahuan melesatkan tanya,
“Mengapa harus dengan mencuri?”
“Anjuran yang ditemurunkan tetua adat, Nak Kelana,” sahut Mbok Dar.
“Rumah siapa yang akan menjadi sasaran, Bu?”
“Rumah Mbok Mar. Janda beranak satu.”
“Maaf atas kelancangan saya. Bagaimana dengan orang yang irusnya tercuri?”
“Tidak apa-apa, Nak. Soal irus yang tercuri, Mbok Mar akan paham dengan sendirinya.”

Siti akan bergerak ketika matahari menggarang di atas kepala. Mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah Mbok Mar. Kala itu rumah sepi penghuhi. Penghuninya tengah meraup rupiah dari singkong-singkong mentah. Rumah Mbok Mar memiliki dua jendela persis di bawah pompok. Rumah yang memenuhi syarat dalam ritual pencurian irus.

“Nak Kelana, nanti ikut menyaksikan ritual cowongan, kan?”
“Iya, Bu. Saya ingin melihat ritual ini sampai selesai.”
“Kamu juga, Nduk. Persiapkan dirimu dengan baik.”

Ayu mengangguk. Mulutnya masih mengunyah nasi tiwul. Kelana diam-diam mencuri pandang. Sesekali tertangkap basah oleh Ayu. Mata mereka beradu. Menambah desir yang berdenyut-denyut di dada Ayu. Jengah meningkahi degup.

Telah dikenalnya Kelana dalam hitungan tiga bulan. Lelaki itu mengajarinya jendela luar. Rupa-rupa ilmu. Keberadaannya pelan-pelan memekarkan kuncup merah mawar di hatinya.
Lelaki itu mahir menjelma bermacam kegembiraan. Mengubah kebosanan menjadi tetawa. Menyairkan puisi yang membiusnya dalam kekaguman. Menawarkan waktu untuk meringankan keluh kesah.
Lainnya, kadang-kadang ia mendapati lelaki itu mewujud misteri. Tak jarang sunyi melarutkannya dalam kamar. Bersama buku-buku dan lekuk tinta. Atau mendiamkan Ayu tanpa sebab.

Kerap Ayu rebah dengan hati resah di tengah malam. Bayangannya tertempeli Kelana penuh-penuh. Lalu, batas entah mencabik-cabik angannya. Ia ketakutan. Pada harapan yang terlampau melambung tinggi. Sebab, seringkali isi kepala lelaki itu tak mudah tertebak.
Ayu masihlah berpoles keluguan. Sedang Kelana? Usia lebih dulu mematangkan Kelana. Mereka berjarak lima. Ayu tujuh belas. Kelana dua puluh dua…

*****

Malam Jum’at kliwon. Malam pengarak ritual. Di tempat perhelatan ritual, sesepuh desa tengah merias irus. Irus hasil curian itu, sebelumnya telah ditancapkan di pelepah pohon pisang raja. Terhitung selama tujuh hari.
Kepala irus dihiasi rumbai-rumbai dari sapu ijuk. Bagian wajah dirias dengan parem dan kunir apu. Kemudian kukusan, kayu dan bambu dirangkai menyerupai orang-orangan sawah. Orang-orang desa menyebutnya dengan boneka cowongan.

Di halaman rumah tetua adat, beberapa pemuda tengah membersihkan seperangkat gamelan. Sedang warga desa lainnya bersegera membongkar seluruh rangken yang sudah rusak di lingkungan kampung dan sawah.
“Rangken rusak akan menjadi salah satu penghalang turunnya hujan,” petuah tetua adat.

Gelap tak menyurutkan langkah para pembawa rangken. Cahaya obor menemani mereka mengumpulkan bilah-bilah rangken rusak di samping lahan pekuburan. Tanah samping pekuburan merah benderang. Lalu kembali gelap seiring rangken menjadi butir-butir abu.
Malam merambat naik. Lajunya tak sebanding dengan sunyi. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Pelataran rumah tetua adat kian ramai. Padat dengan manusia. Tua-muda, lelaki-perempuan, berjejalan.
Dari lautan manusia yang ada, tak didapati busana merah membalut tubuh mereka. Mereka percaya. Bahwa merah mengundang murka para arwah.

*****

Segala telah siap untuk kelangsungan ritual. Para peraga keluar diiringi belasan wanita dan lelaki paroh baya. Mereka memegang tali stagen yang diikatkan boneka cowongan. Peraga adalah tiga perempuan suci yang tak sedang kedapatan bulan merah. Pun tak bersenggama selama persiapan ritual. Aroma dupa dan kemenyan mengudara. Boneka cowongan bergerak meliuk-liuk. Liukannya mengikuti kepulan asap dupa dan kemenyan. Tetabuhan gamelan dan tembang jawa mengiringi tarian boneka cowongan. Tetua adat merapal mantra permohonan.
Liukan para peraga semakin tak keruan. Gerakannya menguji seberapa kuat kendali para peraga terhadap dirinya. Boneka cowongan membelah kerumunan. Bergerak kesana kemari. Keringat mengucur dari kening mulus para peraga. Menyiratkan tenaga mereka cukup terkuras dalam ritual ini.

Semalam-malam tembang dan mantra digelar. Namun, lesat cerambuk petir tak juga berpendar. Gemuruh guntur tak juga terdengar. Rembulan dan gemintang sama sekali tak memusuhi langit.

*****

Ritual semalam tak berhasil membuat langit memuntahkan hujan. Sepagi-pagi Kelana menghirup udara, keluh-kesah bertebaran. Pula didapatinya wajah-wajah yang lalu lalang menyuguhkan kemasaman.
Namun, sekalipun kemasaman menyergap orang-orang desa. Mentari tak pernah kehilangan kehangatannya. Pun Kelana. Hatinya tengah menghangat. Kelana melamunkan Ayu pagi ini. Betapa tirai kecantikannya tersibak bersama gemulai tarian semalam.
Lamunan mengurai gelora. Lesap seketika seiring kedatangan Ayu. Ia membawa sekotak nampan berisi singkong rebus dan teh hangat. Selasar rumah menyaksikan perbincangan dua bibir..

“Hari ini kulihat kekecewaan di mana-mana.”
Diletakkannya nampan itu di meja sembari berkata, “Tanah yang tak juga basah membuat mereka begitu.” Ayu duduk bersikuan dengan Kelana. Hati Ayu rusuh bergejolak. Rusuh menghalau wajahnya dari tatapan mata Kelana.

Kelana mengail ingatan. Lepas ritual semalam, jala pandangnya mendapati boneka cowongan masih berada di rumah tetua adat.
“Untuk apa boneka cowongan itu disimpan?”
“Masih ada pengulangan ritual.”
“Seberapa banyak pengulangan?”
“Sampai hujan turun.”
“Boneka cowongan itu?”
“Bila hujan tak juga datang hingga tujuh kali pengulangan, boneka cowongan harus diganti dengan boneka yang baru.”
“Kau tahu? Harapku adalah hujan tak datang. Aku masih ingin melihatmu menari. Seperti semalam. Sebelum tenggang waktuku habis.”

Jantung Ayu berdegup kencang. Ia merentak berdiri dan hendak kembali ke dalam rumah. Namun, sepi memberanikan Kelana menarik tangannya. Pandangan mata Kelana menghunus hatinya dalam-dalam.
“Semalam…. kau cantik. Sangat….”
Mendadak ia kehilangan kata-kata. Ayu ingin raib. Saat itu juga…

*****

Para peraga duduk memutar. Mengepung nasi berpucuk kerucut. Doa-doa serupa mantra tolak bala mengudara. Keriangan memenuhi kepala orang-orang desa. Tetas sudah tiga kali pengulangan ritual. Malam Jum’at ketiga. Tanah basah. Langit gelap mengucurkan kilau air.
Pesta pora membunuh lelap berpasang-pasang mata. Bermacam makanan menjadi karib berkumpul mereka. Kemudian, tengah harinya, iring-iringan berjalan menuju sungai Brantas. Boneka cowongan akan dilarungkan. Penanda akhir dari ritual. Sepanjang pelarungan, banyak bibir menggumam doa-doa.

“Apa yang kau harapkan dari pelarungan boneka cowongan itu?”
“Seperti penduduk lainnya. Pelarungan tanda pelenyapan sengkala.”
“Bagiku, hujan dan pelarungan boneka cowongan pertanda habisnya masa singgahku.”

Sesak mencekik Ayu. Hatinya tertikam sembilu. Disadarinya kepergian akan menyisakan kehilangan. Batinnya menjeritkan pinta jangan kepada Kelana.

“Kau memuakkan.”
“Aku mencintaimu benar-benar.”
“Apa yang bisa kupercaya dari kata-kata?”
“Janji akan membawaku menjemputmu….”

*****

Jejaring pandang Ayu tebar ke langit-langit. Kelindan pikirnya melentingkan resah di tengah rebah. Resah yang kian tinggi menjauhkannya dari pembaringan. Ia melangkah menuju tepian jendela. Kaca jendela mengembun. Keburaman terlukis di sana. Beberapa biji air merayap turun. Membentuk segaris lurus.
Kini Ayu mengerti. Pada jarak dan waktu yang mengajarkan rindu. Betapa penantian sedemikian menyiksanya. Ia menelan entah untuk suatu jamuan temu.

Lelaki, adakah kau mengerti dera siksa penantian? Aku menahan perih nanar…..

Ayu menelimpuhi sesal. Betapa mabuk damba membutatulikan mata hati. Kini, ia beroleh pemahaman, sesal selalu menang meski berada di urutan terakhir. Sesal melahirkan keinginan untuk berubah dengan mengulang waktu. Seperti sekarang, saat kepalanya menggali ingatan. Yang membekas sepanjang degup jantung..

Pada persiapan ritual pertama, Kelana mencuri waktu. Sebelum Ayu menari bersama tembang dan mantra, Kelana mengajak Ayu dalam gelap. Masih diingatnya, bibir Kelana mengecap di bibirnya. Sedang tangan Kelana mengajarkan rabaan. Perlahan, peluh dan lenguh yang lirih mengenyahkan batas sadar. Getar menggelinjang. Terlahir getir.

Sejak itu, Ayu kerap menyembunyikan mual. Nanas muda acap melewati tenggorokannya. Lompatan-lompatan keras merutinkan hari-harinya. Berharap-harap keluarnya leleran darah.

Lelaki… aku ditikam ketakutan. Kau tak berkabar. Bilakah kau akan kembali???

Hujanpun akhirnya turun bersama bulan yang tak lagi memerah. Perawan Ayu telah pecah. Butir bening terlahir di sepasang matanya. Jatuh tertampa lantai…..

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan