Cinta Dalam Hati

“Bagaimana kabarmu?” Tanya hujan. Sang gadis tersenyum simpul.
“Masih bersedih?” Hujan menggerakkan awan-awannya mengelilingi taman. Membentuk pola gelap yang menakutkan.
“Tidak, hujan.” Sang gadis mengayunkan kursi gantungnya, lalu memejamkan mata.
“Aku sedang berbahagia.” Senyumnya mengembang. “Aku jatuh cinta.”
Gelegar petir yang sedari tadi membahana tiba-tiba berhenti. Yang terdengar hanya rinai hujan, desir angin, dan derit kursi gantung yang sudah mulai reyot.
“Siapa? Lelaki itu lagi?” Hujan berusaha mengatur suaranya agar terdengar biasa saja.
“Bukan, hujan.” Sang gadis tersenyum. “Seseorang….”
“Ia sangat baik. Tak hanya padaku, tapi juga semua orang.” Sang gadis membuka matanya, menerawang menatap pohon pinus yang bergerak-gerak seirama dengan rintik yang menerpanya.
“Dan juga pintar. Tapi ia begitu rendah hati sehingga semua orang merasa nyaman di dekatnya.” Rintik sore itu menipis, menyisakan ruang lebih untuk suara sang gadis dan detak jantungnya yang melaju kencang.
“Menatapnya terasa seperti berusaha menyelami lautan. Lautan, hujan. Seperti yang selalu kucintai saat tiba di pantai. Meskipun ombaknya dapat menyeret dan menenggelamkanku dalam-dalam.”
Sesaat, gerimis itu berhenti. Sang gadis tersadar dari lamunannya dan melihat ke atas, bertanya-tanya kenapa hujan menghentikan konser kecil sore itu.
“Jika ia baik, mengapa tatapannya begitu tajam?” Ujarnya, kebingungan.
Sang gadis tertawa. Pipinya merona, dan ia kembali menatap pohon pinus seakan pohon itu adalah seseorang yang sedang ia bicarakan.
“Kau harus melihatnya tertawa.” Ia memejamkan matanya. Tersenyum damai.
“Matanya akan memancarkan binar yang hanya akan kau temui pada sinar mentari di musim semi. Pancar yang bisa menghidupkan kembali daun-daun yang mati kedinginan.”
Hujan tersenyum. Ia lalu menggerakkan sebagian awannya menjauh dan membiarkan kilau senja menerpa rambut sang gadis yang tergerai seadanya.
“Lalu, dia menyatakan perasaannya padamu?” Tanyanya sambil tersenyum masam. Sang gadis menggeleng. Tertawa. “Tidak, hujan. Tidak begitu. Ia tidak mungkin merasakan hal yang sama.”
“Mengapa begitu? Ia menolakmu?”
“Tidak, hujan. Dia tidak tahu. Dan tidak akan tahu. Ini hanya intuisiku saja. Hahaha.” Sang gadis mengayunkan kursinya lebih cepat lagi, sehingga rambut dan rok yang sedang dikenakannya berkibar diterpa angin. Senyumnya mengembang seperti bulan sabit di malam tanpa awan, dengan jutaan bintang bersinar disekelilingnya. Jutaan bintang bersinar di matanya.
“Lalu bagaimana selanjutnya?”
“Entahlah. Tapi orang sebaik dia berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, hujan. Aku tahu itu.”
“Ah, aku tidak mengerti.”
“Jatuh cinta itu bukan semata-mata ingin memiliki. Kau sendiri tahu itu, kan? Aku bahagia dengan perasaanku. Cukup seperti itu. Melihatnya sekali saja dapat membuatku tersenyum kuda seperti ini sepanjang minggu. Bahkan lebih. Ini sudah lebih dari cukup.”
Hujan menghela napas, panjang. “Bagaimana jika dia bersama dengan orang lain dan kau terluka?”
“Yang penting, sekarang aku bahagia. Bukankah begitu?”
Mau tak mau hujan tersenyum. Kembali ia merinyai, mengisi senja itu dengan gemericik riang. Meninggalkan aroma basah dan seorang gadis dengan senyum sumringah….

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan