Gadis Kopi

  “Ada sisi yang memang akan dibiarkan gelap
oleh seseorang sepanjang hidupnya.
Bukankah rembulan pun juga malu menunjukkan
separuh badannya yang gelap selepas purnama?”

GADIS itu seorang pencandu kopi di kantorku. Wajahnya mirip seorang selebritas yang tahun lalu memenangi piala untuk aktingnya yang memukau. Tentu saja kau tahu selebritas itu. Siang itu dia menemuiku di pojok ruangan, tempat sebuah dispenser dengan panas mendidihkan. Sebuah saset plastik berisi kopi arabika di tangannya. Kemudian cangkir porselin putih dengan gambar Pegunungan Himalaya itu dia siram dengan air yang mengucur dari pipa bertombol merah.
Mataku menangkap tubuhnya yang padat berisi. Kulit putih berbulu halus di tangannya itu terlihat seksi menjulur dari pakaian kantor semijasnya. Belahan yang tidak terlalu tinggi di belakang roknya yang selutut mengizinkanku melihat kakinya yang mulus. Sepatu bertumit tak terlalu tinggi itu menopang pinggulnya menjadi tampak semakin kukuh. Pinggul itu, kupikir, tak akan mendapatkan kesulitan berarti bila masuk ruang persalinan. Dan, inilah awalnya. Ia menyapaku. Sopan sekali…

“Mau ngopi juga, Pak?”
Aku mengangguk. Kupasang senyum paling bagus. Ia membalas tersenyum. “Saya masih punya satu lagi. Mau?” Kali ini tanpa “pak”. Kupikir dia mulai membuka diri untuk hubungan bersifat pribadi. Itu agak tabu jika mengingat level kami. Aku supervisor, sementara ia staf pemula. Beda divisi pula.
“Aku bawa kopiku,” kataku. Aku rogoh satu saset plastik kopi yang kusambar sekenanya dari lemari persediaan di rumah. Baru kusadari, ternyata kopi kami sama! Setelah kuseduh, kutawarkan duduk di lobi gedung. Ia mengangguk. Lalu kami bercerita banyak hal. Tentang kehidupan. Tentang karier. Tentu saja kau dapat membayangkan betapa nikmat secangkir kopi panas dihajar AC yang menggigilkan di tengah jutaan jarum air yang tumpah di atas paving block di halaman kantor.
“Baru kali ini aku minum kopi ini. Hmm, enak,” kataku tanpa menoleh ke wajahnya. Kuteguk sedikit, kubiarkan cairan itu melumuri seluruh lidahku untuk mendapat cita rasa.
“Aku sudah setahun. Kerasan,” balasnya. “Tak terlalu pahit dan ada wangi cokelatnya.”
“Apa dicampur?” tanyaku. Ia tertawa. “Tidak sama sekali. Kontur tanah tertentu bisa menambah aroma. Ini jenis java mocca,” katanya cerdas. Aku makin kagum.
“Impor?” tanyaku. “Sama sekali bukan,” katanya sambil memutar kursi untuk memudahkan matanya menangkapku. “Tanah di sekitar Ambarawa bisa hasilkan java mocca. Khas. Tak akan ada di tanah lain. Yang bercita rasa cokelat jarang di dunia. Karena itulah diberi nama java mocca.”
“Pengetahuanmu luas,” pujiku.
“Ah, tidak juga. Ayahku kerja di perkebunan,” katanya.
Dan kami terpaksa bergegas ke ruangan masing-masing setelah ia memberi isyarat dengan mengetuk-ngetukkan ujung telunjuk yang lentik di atas kaca kristal arlojinya.

Hari kedua, aku bergegas ke tempat kemarin. Kuharap dia segera keluar dari ruangan divisinya. Aku duduk di lobi. Mengawasi kalau-kalau dia keluar. Sudah kusiapkan dua saset kopi. Dengan penuh harap aku menunggu. Dan benar saja. Dia keluar dengan rok lebih tinggi. Aih, kaki belalang itu. Cangkirnya bisa kupastikan masih yang kemarin. Foto puncak Himalaya dengan gugus salju yang menggigilkan. Namun, di tepi cangkir itu kulihat benang teh celup menjulur.
“Aku tak sadar kehabisan kopi,” katanya tersenyum.
“Aku bawa dua.” Kusodorkan sebuah.
“Aduh, terima kasih sekali. Besok kuganti, ya,” katanya tersenyum lagi. Dibalutnya dengan tisu teh berkantong kertas itu. Ah, mata itu indah sekali. Tanpa menatap bibirnya pun, mata itu sudah tersenyum. Diseduhnya untuk kami berdua. Kupikir semacam ungkapan terima kasih.
“Ini,” katanya sambil menyodorkan cangkirku. Kemudian kaki-kaki kami melangkah ke lobi gedung. Dia menangkupkan tangan ke sisi cangkirnya, seperti berdoa.
“Dingin,” katanya, sambil sesekali meniup dan menyeruput kopi panas itu. Kuberi tahu kau, seandainya mataku kamera, aku sedang men-zoom lansekap wajahnya dari samping. Hidungnya bangir, membentuk siku yang cantik di depan wajah. Bulu-bulu mata itu lentik dengan alis membentuk garis tegas. Tak ada goresan pensil alis di sana. Dan telinganya mungil. Putih dan mulus. Wajah yang sempurna. Kami kemudian bercerita tentang kota ini. Semua hiruk-pikuknya. Semua pernik-perniknya yang semu.

Hari kelima belas, ketika duduk bertatapan di meja di sudut ruang, entah kenapa, setelah upacara minum kopi, tiba-tiba aku punya alasan mengelus punggung tangannya. Wajah itu tiba-tiba disergap semu merah.…

Keesokan hari, kami di lobi itu lagi. Menghabiskan jam istirahat. Dengan kopi. Begitu setiap hari. Dan ini hari kedua puluh. Rasanya tak habis-habis cerita kami. Dan makin besar kekaguman itu. Rasa-rasanya kami tidak asing lagi dengan bisik-bisik teman-teman kantor tentang kedekatanku dengannya.

Hari kedua puluh delapan, aku berhasil mengajaknya makan di restoran yang lama sudah tidak aku kunjungi. Tentu saja, agar tak satu pun pelayan dapat membekaskan ingatan mereka dengan kedekatan ganjil itu. Di sana, berhasil kuletakkan tanganku di pinggulnya sampai membentuk sudut yang nyaman di antara dua lawan jenis. Dia hanya tersenyum. Tangannya menimpa jari-jariku, menggosokkannya lembut, seperti hendak mengekalkan sebuah hubungan. Kukecup keningnya ketika kami pulang….

***

MALAM ini kau pulang dengan wajah letih. Matamu teramat sayu. Dengan kunci serep, kaumasuki rumah kita satu jam setelah tengah malam. Mataku masih tak awas ketika pintu kamar berderit dan tubuhmu terempas ke ranjang kita.
“Maafkan aku, Sayang, klienku workaholic,” katamu. Dan malam ini, entah kenapa, setelah kita tenggelam dalam diam, dengan terdengar seperti gumaman, kauingatkan aku tentang momen ketika kita bersimpuh mengucapkan janji setia di hadapan penghulu, waktu itu. Tiba-tiba saja, tubuhku bergetar. Lalu ubun-ubunku direcoki. Kuingat senyummu. Kuingat pelukanmu yang selalu hangat. Omelanmu tentang pasta gigi yang selalu salah kupencet. Kuingat kesetiaanmu: melipatkan selimutku setiap pagi, yang selalu alpa kulakukan. Kata-kata cerewetmu kalau aku tak menutup lemari, pintu, atau apa saja yang baru kubuka—berdenging. Kuingat kata “teledor” yang kauucapkan atas kesembronoanku. Kuingat setelan kemeja dan dasi yang selalu kausiapkan untukku setiap pagi.
Kau selalu siap menunggui setiap sakelar lampu yang selalu lupa kumatikan. Memutar keran-keran air sampai tuntas. Membisikkan namaku berkali-kali ketika kita bercinta. Terbayang tubuh ringkihmu mencuci pakaian kita, walau telah seharian penuh tubuhmu dihajar aktivitas. Ketika dua butir air mata itu meleleh membentuk dua garis hangat di wajahku, kau telah terlelap. Tak akan kuceritakan kisah tak setia itu. Maafkanlah aku…

***

GADIS itu kuperhatikan dari sebuah sudut ruang yang tertutup tanaman hias hijau dan tinggi. Kepalanya tertunduk beberapa lama. Sebelumnya, kulihat matanya nanar, seperti menunggu seseorang. Tangannya menggenggam dua buah saset kopi arabika dan sebuah cangkir porselin dengan gambar Pegunungan Himalaya. Pandangan matanya melemah. Diangsurkannya cangkir dan kopi itu di atas meja, di sebuah pojok ruang lobi. Ia melipat tangan. Kedua bahunya naik sebentar, kemudian turun tatkala bibirnya seperti menyebut “huuhhh…”, lalu tubuhnya merosot di sandaran bangku kayu berukir itu.

Maafkan aku istriku, pesona gadis ini tlah begitu kuat menusuk dihatiku. Dan entah harus dengan cara apa, atau bagaimana kisah ini nanti harus ku akhiri….

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan