Pelangi Senja

“Akhirnya aku tahu, semua orang akan menangis siapapun itu,”

Tulisan itu aku temukan di lipatan baju suamiku. Aku membacanya dengan bergetar hebat. Itu bukan tulisannya. Api cemburu merayapi pikiranku. Kusimpan kembali tulisan tersebut di tempat semula. Aku tidak tahu harus bertanya pada siapa. Sebab suamiku sudah tidak ada. Ia hilang ketika pelangi senja turun tepat di depan rumah. Sekarang aku tinggal sendiri.

Aku menggigit jariku. Aku tidak tahu apakah aku menangis atau tidak. Ketika suamiku menghilang, dua pekan aku berkabung dengan tangis tanpa berhenti. Dua pekan aku tidak tidur, hanya menangis saja. Nyaris saja aku buta. Tidak mau bicara dengan sesiapa. Makan dan minum sekadarnya saja. Lima lembar sarung basah oleh air mataku.
Tepat dua pekan, aku keluar kamar. Aku berjanji tidak akan menangis apapun yang terjadi. Aku telah menghabiskan air mataku. Benar-benar kering tandus. Tidak ada lagi yang bisa membuatku menangis. Ketika pertama keluar kamar. Aku hilang kendali, mataku tidak bisa melihat dengan jelas. Barangkali terlalu kering karena menangis selama dua pekan tanpa jeda.

“Alhamdulillah.” Sontak kudengar orang yang berkumpul di ruang tamu mengucapkan syukur ketika melihatku keluar kamar. Lalu seseorang mengangkatku kembali ke kamar—ke tempat tidur. Lalu aku lupa segalanya. Tapi aku merasa damai. Pelangi kulihat turun di depan rumah, seorang gadis cantik keluar dari pelangi, ia memakai baju bodo warna hijau muda. Gadis tersebut menggandeng suamiku mesra. Aku ingin marah, tapi senyum suamiku dan gadis tersebut meruntuhkan marahku. Aku menyambut mereka dengan pelukan. Suamiku mengecup mesra keningku.

“Kamu terlihat jauh lebih gagah, sayang,” kataku sambil meraba wajahnya. Suamiku hanya tersenyum sambil melirik ke gadis yang berdiri di sebelahnya. Pandanganku beralih ke gadis tersebut. Ia tersenyum. Giginya bersih tertata rapi.
Aku lihat rumahku dikepung pelangi. Suasana jauh lebih romantis daripada malam pertamaku dengan suamiku. Meski kini kami bertiga. Tiga percikan air ke mataku membuat suamiku kembali hilang.

“Kamu sudah siuman, Nak,” ibuku duduk dengan pandangan cemas ke arahku. Aku tiba-tiba kembali ingin menangis. Tapi telah lupa caranya. Ibu memelukku. Adik perempuanku pun datang memelukku lalu mereka bertangisan ria. Membersihkan karatan matanya.
Aku tersenyum memperhatikan orang-orang yang memenuhi kamarku. Kucari sebentu wajah. Tapi tidak ada.

“Ada apa, Bu,?” Tanyaku pura-pura. Aku tahu, aku pingsan cukup lama. Mudah saja mengetahuinya, bau dupa. bawang merah, balsem, minyak gosok dan aroma mantera di air putih memberitahukan padaku jika aku pingsan berjam-jam.
Dua puluh tahun setelah aku menangis selama dua pekan, aku temukan tulisan tersebut. Selama suamiku hilang, tiap senja pelangi akan turun di depan rumah. Tidak peduli apakah cerah, gerimis, atau kabut. Awalnya aku benci pelangi. Namun pada akhirnya aku berdamai dengan kenyataan dan menjadikan pelangi sebagai penghubung antara aku dan suamiku.

Hingga kini, setelah dua puluh tahun kepergian suamiku yang misteri. Aku masih setia pada cintanya. Aku memilih tidak menikah lagi. Jika kuhitung, ada sembilan lelaki datang melamar, tapi kutolak dengan halus. Di usiaku yang memasuki 52 tahun, kata orang aku masih seperti gadis yang baru beranjak remaja. Jika dipuji demikian. Aku akan berlari ke kamar dan menatapi wajahku di cermin. Tidak ada kerutan di wajahku penanda ketuan. Pandanganku jauh lebih jernih. Barangkali pengaruh menangis selama dua pekan tanpa henti.

Selama dua puluh tahun itu, aku tidak pernah lagi menangis. Kematian ibu dan ayahku pun tidak kutangisi. Aku hanya menatap mayat mereka dengan kaku. Orang-orang menggunjingku karena aku tidak menangis. Aku dianggap anak yang tidak berbakti dan tidak punya rasa sedih atas kematian orang tuaku. Air mata tidak menandakan kesedihan, dan tidak pula menandakan kecengengan.

“Akhirnya aku tahu, semua orang akan menangis siapapun itu.”

Tulisan itu terngiang. Aku melangkah ke beranda rumah. Sebentar lagi senja. Segelas kopi tanpa gula siap temaniku. Selama dua puluh tahun, hampir tiap senja aku selalu berada di beranda rumah, menyaksikan pelangi yang menculik suamiku.

Hari ini, aku ingin menjamu pelangi itu dengan segelas kopi. Sepeninggal ayah dan ibu, aku tinggal sendirian di rumah. Di sekeliling rumah di penuhi bunga kamboja. Tak ada bunga lain. Bunga tersebut tumbuh dengan sendirinyaa dan merawat dirinya sendiri. Aku tak pernah temukan daunnya berserakan, selalu tampak bersih. Tidak ada reranting yang patah atau bunga yang layu. Bunga kamboja tersebut tumbuh dengan subur tanpa pupuk. Pernah beberapa kali kucoba tanami halaman rumahku dengan bunga lain, tapi selalu saja tidak bisa tumbuh. Padahal sebelum suamiku diculik pelangi, dua puluh tahun lalu, segala jenis bunga bisa tumbuh di sekitar rumah.

Seperti biasa, selama dua puluh tahun. Senja ini pelangi kembali datang. Tapi untuk pertama kalinya, pelangi bergerak ke arahku. Lalu melilit tubuhku. Aku sesak napas, lalu batuk-batuk kecil. Pelangi melepas pelukannya. Sebuah kecupan terasa mendarat di bibirku. Serupa kecupan pertama suamiku di malam pertama kami sebagai pengantin baru.
Tanpa sadar, ada lelehan airmata di pipiku. Aku menyentuh pipiku dan menemukan air mataku. Tulisan itu kembali terbayang tunia. Aku kembali menangis setelah dua puluh tahun. Air mata benar-benar tidak bisa kering dan tidak ada yang bisa mengeringkannya. Termasuk menangis selama dua pekan tanpa jeda.

Setelah kecupan pelangi tersebut mendarat di bibirku. Pelangi lebih cepat pergi dari biasanya. Pandanganku lebih cerah, airmata barangkali membeningkan mataku. Kuseruput kopi hitam tanpa gula sambil memejamkan mata. Aku merasa seperti gadis yang baru beranjak remaja dan kembali merasakan puber pertamanya.
Aku berlari masuk ke dalam rumah, menggeledah isi lemari. Mencari tulisan tersebut. Tapi tidak kutemukan. Selama dua puluh tahun, senja ini, aku memutuskan keluar rumah. Aku ingin berjalan-jalan keliling kampung.

Orang-orang menatapku aneh. Banyak dari mereka yang tidak kukenal dan mengenalku. Tapi di mata tiap orang yang kutemui senja itu. Aku bisa membaca tulisan yang kutemukan di lipatan baju suamiku.

Seorang lelaki tua menghampiriku. Lalu menanyakan aku hendak kemana dan tinggal dimana? Kutunjukkan rumahku. Ia berlari ketakutakan. Senja hampir usai. Aku mengejar lelaki tua tersebut. Aku ingin bertanya kenapa ia ketakutan. Di depan rumahnya aku berhasil menahannya. Ia gemetaran, kulihat air matanya. Aku menyentuh pipinya, mengambil air matanya lalu kucicipi. Rasanya asin. Ia minta ampun, lalu aku melepaskannya karena kasihan. Ia berlari masuk ke rumahnya. Lalu menutupnya rapat.

Senja berada di tepinya, aku kembali ke rumah. Pelangi kembali kutemukan di depan rumah. Pelangi muncul dari sebuah batu nisan. Aku menghampiri batu tersebut, lalu membaca namanya. Aku merinding, membaca sebuah nama: RAHMANIANG, lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal wafatnya, juga nama ayahnya. Aku terus membacanya, ingin lebih jelas. RAHMANIANG BINTI BASANUDDIN. Itu namaku dan nama ayahku.

Kepalaku terasa pening dan aku tidak mengerti. Pelangi melilitkan dirinya kepadaku dan aku tidak ingat apa-apa lagi selain aku kembali menangis setelah dua puluh tahun lamanya. Apakah aku telah meninggal dunia atau belum, jujur aku benar-benar tak tahu.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan