Liana

liana[1]

Setiap pagi dan sore, perempuan rambut panjang bertas selempang itu melewati jalur sempit gang-gang padat penduduk. Wajahnya selalu berseri, meski kabut tebal meliputi langit. Langkah-langkahnya padat, sepadat pemikirannya akan hidup. Ujung demi ujung gang dilaluinya. Meninggalkan masa lalu. Menuju masa depan. Setiap langkah di gang-gang sempit padat penduduk yang dilewatinya selalu menghadirkan kesegaran. Tatapannya lurus. Seakan tembok-tembok rumah sederhana di ruas kecil jalan itu tidak menghalangi pandangnya. Seakan semuanya terurai tanpa rahasia lagi. Gang-gang sempit memang selalu menghadirkan kesempatan. Berbagai harapan ditumpuk, jadi satu, dan meninggi sampai ke atap tak berhingga. Aku memperhatikannya dari jauh. Mengenang setiap langkahnya, meski dia tidak pernah merasakan kehadiranku.

Liana. Nama perempuan itu. Kuketahui namanya dari salah seorang teman yang sempat berkenalan dengannya. Setiap kali aku melihatnya melenggang, aku selalu menyaksikan jiwa kanak-kanak dalam tubuh dewasanya. Itulah sebab kenapa aku selalu menyukainya. Aku orang dewasa dengan tubuh kanak-kanak, menyukai tubuh dewasa berjiwa seperti tubuhku. Usiaku terpaut 12 tahun dengannya. Orang bilang, tidaklah pantas bagiku, yang masih kanak-kanak ini menaruh hati pada perempuan setengah lebih tua dari umurku. Tapi aku tidak merasakan kesalahan. Aku punya segala hak untuk memperhatikannya. Meski aku juga sadar, dia punya segala hak untuk tidak mengerti perasaanku.

Aku tidak pernah tahu Liana tinggal di mana, tapi yang pasti, dia tinggal dekat dengan rumahku. Gang ini, satu-satunya akses menuju jalan raya. Memang ada banyak cabang, tapi untuk ke jalan raya, orang harus melewati gang tempat rumahku berada. Tempatku bermain bersama teman-temanku yang lain. Orang bisa pula melewati cabang gang lain, namun jalan raya akan semakin jauh. Memang, daerah tempatku tinggal terbilang aneh. Sempit bercabang. Antara satu akses menuju akses lainnya begitu berjauhan. 12 tahun hidupku habis di wilayah ini. 12 tahun tembok-tembok beradu, sempit dan begitu padat. Aku muak. Tapi daerah tinggal lain, tidak pernah kutahu.untunglah ada Liana. Perempuan rambut panjang bertas selempang yang selalu melintas setiap pagi dan sore di gang tempatku tinggal.

Mungkin Liana bekerja, atau kuliah. Aku tidak pernah tahu. Aku juga tidak pernah peduli. Yang aku pahami, wajahnya yang bulat itu begitu penuh kesadaran. Sebuah kesadaran akan dunia. Senyumnya, ya, senyumnya begitu memikat. Tidak hanya orang dewasa, melainkan manusia kecil macam aku. Sering aku bertanya-tanya dalam diri, sudahkah Liana memiliki seorang kekasih. Jika pun sudah, apakah dia menyayangi kekasihnya seperti aku yang selalu menyayanginya. Meski dia tidak pernah tahu. Meski dia tidak pernah merasakannya. Aku selalu berpikir, Liana dan aku adalah sejoli yang pantas. Tak terkalahkan. Kalau kami berpasangan nantinya, pastilah akan seperti duo-dinamis, yang mampu mengalahkan segala rintangan. Sebesar apapun.
Suatu saat aku harus tahu. Aku harus menanyakannya. Suatu saat Liana harus tahu apa yang kini kurasakan. Tapi keberanianku belum muncul juga. Sampai hari ini. Liana kembali lewat di gang tempatku bermain. Aku kira, inilah waktu yang tepat untuk menghampirinya. Bertanya dan meminta padanya. Aku tak peduli dia tahu soal aku atau tidak sama sekali. Aku ingin dia tahu hari ini. Teman-temanku sudah memojokkan aku. Membujukku untuk segera menghampirinya.

Aku mulai berdiri. Berniat menghentikan langkah Liana. Teman-teman segera bersorak. Mereka tahu kalau aku begitu ingin berdekatan dengannya. Dengan gaya kanak-kanak mereka berseru:

“Ayo, Anton. Jangan mundur. Masak gak berani?”

Mendengar teriakan ini, aku kelu. Tiba-tiba tubuhku panas dingin. Niatku yang semula mantap, langsung leleh. Seperti lumeran cokelat, aku berdiri tanpa daya di belakang perempuan yang selama ini jadi pusat perhatianku. Perempuan berwajah ceria dengan rambut panjang bertas selempang yang selalu membuat kabur kabut tebal di langit ketika dia tersenyum. Aku runtuh. Lumeran cokelat tergenang di jalan sempit. Membeceki satu rumah, kemudian mengalir jauh menuju ujung gang lainnya.

Aku lihat Liana melemahkan langkahnya. Sepertinya dia tahu teriakan teman-temanku itu ditujukan untuk menghentikannya. Aku terpaku. Liana memalingkan wajah. Matanya, tepat mengenai mataku. Tatapannya seakan isyarat agar aku mendekat. Tiba-tiba keberanian itu muncul entah dari mana. Kakiku mulai melangkah. Semakin dekat. Dan semakin dekat menuju Liana. Perempuan itu tidak lagi berjalan. Sepertinya dia menunggu. Aku semakin hilang ragu. Bibirku mulai kembang. Kulihat wajah Liana pun menyungging senyum. Aku semakin dekat. Dan semakin dekat saja. Teman-temanku di belakang. Menepuk-nepuk tangan. Mulut mereka meracau girang.

“Hebat, Anton. Ayo, terus!” teriak mereka.

Liana mundur ke belakang. Lembut aku menyapa.

“Hai.”

Liana menjawab.

“Iya.”

Mbak, sudah punya pacar?” tanyaku.

Liana mundur satu langkah. Aku berjalan dua kaki. Mendekat sampai tangan Liana menyentuh kepalaku dan lembut berkata, “Sudah, Anton.”

Kata-kata itu menyurutkan suaraku. Mataku nanar. Liana tampak gigil. Dia melangkah satu kaki lagi ke belakang. Aku berniat menghentikannya, melepaskan rasa takutnya. Langkahku menggesa. Memburu Liana. Tapi perempuan rambut panjang itu tampak semakin gigil. Liana semakin gesa ke belakang. Dari jauh aku saksikan sebuah sepeda motor bergerak kencang. Aku lari mengejar, menubruk tubuh Liana, tapi kemudian sepeda motor itu tertubruk oleh tubuhnya.

***

[2]

Setiap pagi dan sore, aku selalu melewati gang-gang sempit menuju tempat kerjaku. Selalu saja kulihat anak itu. Seorang anak yang lusuh dia. Penyendiri, meski selalu bergerombol dengan teman-teman bermainnya. Aku tak pernah tahu apakah dia bersekolah atau tidak. Tampaknya dia anak yang baik. Hanya sedikit aneh. Aneh, sebab di antara teman-teman bermainnya, dia terlihat sekali berbeda. Mungkin karena sedikit penyendiri. Atau mungkin karena dia istimewa. Senyum, hampir tak kunjung di wajahnya. Khas sekali anak gang. Daerah tempat tinggalnya memang tidak memberi banyak kesempatan. Tembok-tembok rumah beradu, sampai tidak lagi menyisakan sedikit ruang untuk berpikir. Berbagai harapan ditumpuk, menjulang hingga atap, tapi kecewa yang selalu didapat. Aku selalu memperhatikannya. Dan aku juga tahu, dia memperhatikanku. Bukan sebagai anak kecil penasaran. Perhatiannya kurasakan sama persis seperti seorang lelaki dewasa. Menginginkan perempuan.

Anton. nama anak kecil itu. Aku ketahui namanya dari panggilan teman-temannya setiap kali aku melintas. Salah seorang dari mereka juga pernah berkenalan denganku, mengatakan kalau temannya yang satu itu, sangat menyukai aku. Dibilangnya aku manis. Aku tahu, kalimat terakhir ini hanya bumbu. Tapi biarlah. Setidaknya aku bisa tersenyum dengan pujian anak kecil ini. Sungguh, aku bukanlah seorang perempuan yang menyukai kanak-kanak. Usiaku jauh terpaut darinya. 12 tahun. Tapi Anton memberiku perasaan berbeda.

Hari ini aku melintas gang tempat Anton dan teman-temannya biasa bermain. Gang ini memang satu-satunya akses cepat ke jalan raya. Rumahku, tidak jauh dari gang tempat Anton dan teman-temannya bermain. Seperti biasa, aku melihat Anton sendiri, sedang teman-temannya asyik bermain. Seperti biasa pula, aku menyadari perhatian Anton. Dan seperti biasa, teman-temannya mulai menggoda setiap kali aku lewat. Mereka tahu betul, jika Anton sangat ingin berdekatan denganku. Dan kulihat Anton mulai berdiri. Sejurus itu, aku dengar teman-temannya berteriak menyemangat. Dalam hati aku tertawa, berharap Anton memang berani menghampiriku. Aku pun melemahkan langkah. Tapi kurasakan desir gerak Anton tidak juga mendekat. Maka kupalingkan wajah. Kulihat senyumnya kembang. Aku rasakan desakan untuk berhenti. Senyum itu begitu memikat. Selayaknya lelaki dewasa yang tersenyum pada gadis pujaan. Aku menyaksikan Anton seperti pangeran alam mimpi. Aku pun menyunggingkan senyum. Kulihat Anton mulai berjalan. Langkah-langkahnya mantap. Membuatku harus mundur. Satu kaki aku ke belakang. Anton merangsek. Semakin dekat. Dan semakin dekat menujuku. Tepukan tangan girang meruak dari teman-teman Anton. Kudengar dia menyapa. Suaranya begitu selembut, seperti butiran es terserut.

“Hai.”

Aku menjawab.

“Iya.”

Mbak, sudah punya pacar?” tanya Anton.

Pertanyaan ini membuatku mundur, satu langkah lagi. Tapi anton semakin mendekat. Wajahnya begitu dekat untuk kusentuh. Tanpa kuduga, tanganku mulai bergerak mengelus kepala Anton dan berucap, “Sudah Anton.”

Tiba-tiba aku lihat mata Anton nanar. Membuatku gigil. Melangkah cepat dia, ke arahku. Seakan ingin menubruk. Kembali aku mundur. Satu kaki lagi. Tapi langkah Anton semakin cepat, membuatku ketakutan. Sebuah teriakan kudengar. Tak jelas arah. Deru sepeda motor begitu pekak. Dan kurasakan sesuatu menubruk tubuhku.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan