Seorang Pria dan Sebatang Kara

87c7d648151f5cd3be35a0e8c0f9fae0_L

Dulu di sebelah rumah ini tinggal seorang pria dengan sebatang Kara yang dijaganya. Dia pemilik rumah terbesar di pinggir kota ini. Lahan di belakang rumahnya berhektar-hektar, dikelilingi pagar besi dengan kawat listrik melingkar kusut di atasnya. Banyak yang berkata ia menyimpan narapidana di dalamnya. Ada pula yang mengira ia adalah anggota sekte sesat yang suka mengambil bayi dan gadis-gadis, kemudian minum darahnya di sana. Sebagian tidak ambil pusing dan berkata mungkin dia pengusaha tambang kaya yang sedang menandai teritori baru untuk mengeruk lagi perut bumi kita.

Namun aku tahu yang cerita yang sebenarnya. Ia hanyalah seorang ilmuwan yang gemar mengoleksi seratus pohon di sana.

Setiap pagi pria itu membuka jendela saat sinar matahari tepat tiga puluh derajat masuk dari ventilasi kamarnya. Burung-burung masih pandai memainkan sandi morse dan ular hijau kadang-kadang menggantung basah terkena embun. Sebelum ia membenarkan letak kacamata di atas hidungnya, ia bahkan suka melihat tupai bersayap terbang dari dahan ke dahan.

Setelah minum kopi dan menggosok gigi pria itu akan berjalan menyusuri pohon demi pohon, dahan demi dahan, ranting demi ranting, dan daun demi daun. Mengabsen satu per satu,

Agatis, Dyera, Terminalia, Pterygota, Pinus, Peronema canescens….

Dari seratus nama latin yang berbeda dari semua pohon ini, dia menamakannya satu per satu seperti anak yang dilahirkannya sendiri.

Gia. Detta. Rambo. Xena. Semuanya sesuka dia. Meski di mataku semua pohon terlihat sama saja, dia akan marah kalau kau mengatakan itu padanya. Bukankah kau tidak pernah mengatakan setiap manusia terlihat sama meskipun mereka memang sama-sama punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut? Begitu katanya.

Lama aku berpikir sambil tetap mengamatinya dari kejauhan. Seiring rintik-rintik hujan yang mengaburkan kacamatanya, ia berbicara kepada pepohonan. Perkara apakah ia sendirian, entahlah. Sepertinya banyak kebenaran yang tersembunyi dalam keanehan.

*****

PAGI itu ada paket kiriman bibit pohon yang dipesannya. Aku kira ada mati dari seratus pohonnya sehingga harus diganti, namun ternyata ia hanya merasa seratus masih terlalu sepi. Digenapkannya lagi ganda menjadi seratus lagi dengan masing-masing spesies yang sama, ia ingin setiap anak pohonnya berpasangan.

Aku melihatnya hari itu menghitung satu-satu bibit pohon yang baru datang pagi itu, dan menyaksikan keningnya berkerut ketika sampai ke hitungan terakhir.

“Seratus satu? Tapi aku hanya membutuhkan seratus saja!”

Sambil geleng-geleng kepala, bibit tambahan yang tersisa itu disingkirkan dari hutan kecilnya. Lalu ditanam depan jendela kamarnya.  Ia beri nama Kara.

Di bawah bayangan kanopi rumah yang teduh siang hari dan lampu taman kekuningan yang berjajar di setapak menuju hutan kecilnya, sebatang Kara itu tampak begitu tenteram sendiri. Tidak ada yang mengusiknya. Tidak ulat-ulat gemuk yang sering datang untuk menggerogoti daun-daun bunga matahari dan wijayakusuma yang ia tanam silang, tidak pula kawanan lebah yang sering kawin di sela bunga mawar yang ia pangkas sendiri. Semua menjauh dari Kara. Membiarkannya tetap tenteram dalam keteguhan yang sama dengan pria di balik kaca jendela itu. Aku tidak pernah mendengarkan tawa lagi dalam hari-hari pria itu. Semua suara diredamnya dalam diam yang disimpannya di dalam tanah. Aku pun tidak mengerti bagaimana bisa sebatang Kara bisa mengubah seorang pria yang dulu ku kenal banyak canda. Mungkin benar kata orang, pria sejati tidak akan bicara kecuali ia rasa benar-benar perlu. Dan ku rasa, dia tidak akan bicara sebelum bisa bercerita tentang kenapa, di antara padatnya dunia, sebatang Kara tiba-tiba menemukannya.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Semua pohon sudah bercabang, berakar panjang, dan berdaun rindang.

Tapi Kara tetap sama seperti hari ketika ia menanamnya. Kara hanya sebatang yang mencuat ke atas Tanpa cabang, tanpa akar panjang, tanpa daun rindang. Kara hanya sebatang.

Ini aneh. Tumbuhan harusnya tumbuh, bukan? Karena itu ia disebut tumbuhan. Keanehan ini membungkam pria itu lebih dalam lagi. Jadi yang pertama dilihatnya setiap matahari sedang tiga puluh derajat sinarnya. Jadi yang pertama disaksikannya setelah tegukan kopi dan sebelum gosokkan gigi. Kara tetap seperti itu, sebatang saja.

Di laboratoriumnya, pria itu telah melakukan berbagai tes untuk menjelaskan kepadanya kenapa Kara hanya sebatang saja?

Namun percobaan ilmiah di bawah mikroskop elektron pun mengkhianatinya. Tidak ada yang tidak normal pada Kara. Seperti dua ratus tumbuhan dikotil miliknya yang lain, Kara sama-sama memiliki semua struktur jaringan batang. Kara normal, kecuali fakta bahwa dia tidak tumbuh namun tidak mati.

Dia cek tanahnya, semua zat hara yang dikandung pun sama dengan tanah belakang rumahnya. Dia pindahkan di tempat agar arah sinar matahari yang mengenainya berpindah. Kara tak bergeming. Tetap sama seperti semula.

Dia suntikkan hormon untuk mempercepat pertumbuhannya. Sampai diracuninya agar sakit. Nihil. Kara tetap sebatang tanpa bertumbuh atau runtuh satu milimeter pun.

Hampir frustasi, pria itu menulis surat kepada semua laboratorium canggih yang ia tahu untuk meneliti spesies baru ini. Seorang profesor sitologi dari laboratorium di Zurich membalasnya. Seketika itu dia terbang ke sana dan mewanti-wanti kepada awak penerbangan agar berhati-hati dengan sebatang Kara yang berada di ruang karantina.

Namun setelah tiga bulan penuh uji coba, tetap tidak ada yang berubah. Kara istimewa, itu saja kata mereka.

Pria itu pulang lagi dan bertemu dengan seorang politisi.

“Kabarnya kau punya sebatang Kara?”

“Ya. Dia istimewa.”

“Bagaimana jika kita kenalkan dia kepada dunia?”

“Baiklah.”

Lalu tersiarlah cerita tentang Kara sampai seantero negeri. Kara difoto, dicetak di buku-buku pelajaran dan ensiklopedi. Pria itu diundang ke berbagai acara televisi dan radio, diminta berbicara tentang bagaimana cerita hidupnya dan sebatang Kara yang ia punya. Pria itu senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, banyak yang mendengarkannya.  Sang politisi selalu setia menemani, di penghujung acara ia selalu menambahkan di pidato panjangnya, Kara adalah keajaiban dunia, begitu pula dengan dirinya.

Lalu di bulan berikutnya, politisi itu jadi walikota dan tidak pernah lagi duduk membahas Kara.

Namun sejak saat itu, orang-orang mulai berbondong-bondong datang kepada Kara. Ada yang bersemedi, menaruh sesaji, dan minum dari air siraman Kara. Jika Tuhan satu-satunya di dunia, bukankah Kara juga? Begitu kata mereka.

Rumah pria itu semakin penuh sesak, namun entah mengapa ia merasa semakin sepi.

*****

SUATU hari Kara dicuri. Orang-orang kalut mencari kesana kemari. Anak-anak menangis kehilangan dongeng yang selalu diceritakan ibu-ibu mereka. Ayah-ayah bergantian jaga setiap malam di sekitar rumah pria itu untuk menemukan jejak pencurinya. Bahkan walikota yang sudah tidak pernah datang lagi kini turun tangan, bersama kamera-kamera televisi yang besar-besar dan karavan-karavan yang berisi tentara. Katanya, hari itu dijadikan hari siaga Kara. Semua sekolah libur. Kantor-kantor berhenti bekerja. Toko-toko tutup. Pencuri Kara harus menyerahkan diri dalam waktu 1×24 jam jika tidak ingin ditembak mati.

Di sore hari seseorang muncul dengan gemetar memeluk sebatang Kara yang tetap mencuat dengan jumawa.

Pencurinya mengaku ia punya terlalu banyak beban dalam hidupnya. Istrinya dua, anaknya lima, perempuan semua dan saat ini mengandung semua. Saat itu, Ia hanya ingin merasakan hidup dengan sebatang Kara.

Walikota dapat pujian lagi. Kata warga ia berhasil menegakkan keadilan dan keamanan di kota mereka. Namun sejak saat itu, ketakutan berpendar seperti cahaya obor yang semakin besar. Mereka bilang sebatang Kara berbahaya.

Demi namanya, walikota itu pun memerintahkan pria itu untuk membawa Kara pergi jauh. Sangat jauh hingga anjing-anjing polisi pun tidak mampu lagi mengendus jejaknya. Namun pria itu tidak mau. Sebatang Kara telah menjadi separuh hidupnya. Ia memilih menjaganya sendiri. Memulangkan Kara ke tanah tempat awal ia menanamnya. Mungkin jika tadi kau ingin bertanya untuk apa pagar listrik di sekitar rumahnya itu, sekarang kau sudah dapat jawabannya.

*****

PRIA itu punya kesukaan baru. Duduk lama-lama di depan Kara dan memandanginya dengan terpesona. Ia bahkan membangun kursi kayu dengan sandarannya tepat di depan Kara. Kadang-kadang ia membawa bantal dan selimutnya serta sehingga ketika malam tiba ia tidak perlu beranjak pergi, dan Kara jadi yang pertama dilihatnya ketika bangun membuka mata, tanpa perlu bersusah-susah pergi lagi.

Demi sebatang Kara pria itu kehilangan semua hartanya. Lalu waktunya. Berikut tenaganya.

Lama-lama burung-burung pergi, ular-ular meninggalkan kulitnya, dan tupai terbang tidak pernah terlihat lagi. Seratus pohon yang  dulunya tinggi dan lebat pun mulai meranggas mati. Lama-lama ia tidak pernah berkunjung ke hutan kecilnya lagi.

Lama-lama tahun berganti, uban-uban mulai merambat di rambutnya yang lebat, keriput mulai membekas di wajahnya yang pucat. Kehilangan mulai menggerogoti rongga matanya dari dekat.  Lama-lama ia sudah tidak pernah keluar rumah lagi.

Lama-lama orang tidak peduli lagi apakah di dalam sana ada narapidana, darah bayi dan gadis, ataukah mesin pengeruk berlian. Lama-lama orang pun lupa bahwa rumah itu ada. Lupa bahwa pria itu ada.

Tapi ketika menulis ini aku sebenarnya hanya ingin kalian tetap ingat. Dia adalah seorang pria dengan sebatang Kara yang ia jaga sampai akhir hayatnya.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan