Subject 7

Aspal itu, 35 lantai di bawahku, sudah memanggil-manggil. Datanglah, katanya. Aku dengar itu. Angin malam berhembus kuat, mendorong-dorong dan menyayat-nyayat punggungku dengan uap-uap dinginnya, seperti sedang memotivasiku untuk lekas terjun. Pergilah, katanya. Aku dengar itu. Bual-bual darahku, debam-debam dadaku, kesenyapan gedung tua yang kuinjak, aku dengar semuanya sedang memintaku melakukannya.

Jangan ragu. Tak akan sakit, pikirku. Atau, kalaupun ya, tak akan sampai sedetik dan setelah itu: samudra kekosongan. Seketika kepalaku menumbuk permukaan keras itu dengan kecepatan peluru, hanya dalam beberapa milidetik semua hal yang menyusun perasaanku sudah terburai. Cukup beberapa milidetik, yang tak akan sempat kucecap sakitnya itu, dan tak ada lagi yang mereka sebut-sebut sebagai subjek 7. Tak perlu lagi aku disiksa tanpa belas kasihan oleh tiap-tiap detik yang menandai semakin dekatnya hari pemanenan yang melangkah dengan pasti ke arahku.

Dan, kuyakinkan lagi diriku, tak ada yang kutinggalkan selain 25 tahun kehidupan palsu yang tak lebih dari rumah kaca agar isi-isi tubuhku tumbuh dewasa dengan sehat. Ayah-ibuku—atau dua orang yang pernah kusebut ayah-ibu dan sekarang sebutan itu terdengar sangat menjijikkan—adalah peternak wadah penyimpan organ segar ini: diriku. Semua kasih sayang mereka hanyalah kerja para pemelihara binatang untuk memastikan organ-organ yang akan dituai untuk memperpanjang hidup seorang jenderal senantiasa dalam kondisi prima.

Kawan-kawanku, sekolahku, kampusku, tempat kerjaku, aku tak tahu pasti apakah mereka dipekerjakan lembaga ini atau tidak, tetapi apalah arti semua itu dalam kehidupan yang dibuat semata untuk dijagal? Semua itu, paling baik, hanyalah padang rumput yang tak disediakan oleh sang peternak namun menjadi kawasan alami dilepasnya ternak-ternak agar dapat merumput dan berkembang menjadi daging-daging yang empuk serta lezat untuk disantap.

Jadi, di sinilah aku sekarang. Berhadap-hadapan dengan maut yang sedang membuka lebar-lebar pelukannya kepadaku. Kalaupun semua kehidupanku ini hanyalah buatan, setidaknya, dengan begini, kematianku adalah buatanku; kematian yang sama sekali tak diharap-harapkan oleh orang-orang berengsek yang bermain-main dengan kehidupan itu. Gravitasi dan aspal itu akan melumat semua yang mereka inginkan dari diriku.

Jadi, melompatlah. Kakiku, bawalah tubuhku.

***

Sudah berapa menitkah ini? Lima menit? Sepuluh menit? Astaga. Apa yang menahanku? Akhir yang baik itu tinggal satu langkah. Lantas mengapa aku merasa terantuk tembok seperti ini dan memberikan waktu kepada para pengejarku? Kakiku, ayolah melangkah. Grrrrh. Ayolah bawa sekujur kehidupan bohong ini menuju akhir elegan yang kutentukan dengan kuasa dan kesadaranku sendiri. Ayolah tubuhku, lawanlah apa yang memakumu ke atas pijakanmu ini.

Sekonyong-konyong, terdengar suara pintu di belakangku dibuka dengan tergopoh-gopoh. Cih. Aku terlalu lambat. Mereka datang. Tapi… baguslah, mungkin ini bisa semakin memacu adrenalin yang kubutuhkan. Dan, betul. Merasakan ada yang mendekat dari belakang, detak jantungku semakin memburu. Nafasku semakin panas. Tenaga mengalir deras ke kakiku, menghidupkannya kembali setelah bermenit-menit kaku di atas tapakannya. Baiklah. Aku pun memejamkan mata dan—

“Ananda!”

Siapa itu? Siapa yang memanggilku dengan nama itu? Aku menoleh. Ternyata yang kupikir satu gembong hanya satu orang. Dan satu orang itu adalah pria berjas dokter itu. Pria yang paling sering menatapiku dari luar sel kedap suaraku.

“Ananda, tolonglah,” ujarnya sambil terengah-engah. “Jangan lakukan ini.”

Apa? Apa aku tak salah dengar?

“Lalu aku harus melakukan apa, Pak Dokter yang baik? Menanti diriku dijagal?”

“Ananda, dengar—”

“Kau mau menawarkan aku apa?” aku memotongnya tanpa ampun. Aku bisa merasakan darahku mendidih seiring mengalirnya kata-kataku. “Kalau aku adalah organ cadangan Jenderal biadab itu, jelas kau tak mungkin menawarkanku kebebasan. Aku tak akan tertipu.”

“Ananda—”

“Bayangkanlah menjadi diriku! Menjadi seseorang yang murka dengan segala perlakuan kalian yang bermain-main sebagai Tuhan ini! Inilah satu-satunya yang bisa kulakukan,” aku menepuk tubuhku keras-keras. “Ini! Menghancurkan apa yang kalian inginkan ini!”

Untuk beberapa detik, ia hanya bungkam. Tetapi bukan itu yang paling menggangguku, melainkan roman mengasihaniku seakan ia tak tertindik oleh tatapan nanarku tepat ke tengah-tengah biji matanya.

“Ananda, keluarkanlah apa yang mau kau keluarkan dulu. Aku akan menunggumu sampai tenang. Aku tak akan mencegahmu melompat. Tetapi sebelum itu, dengarlah ceritaku.”

Entahlah apa yang mau diceritakannya. Tapi tak mungkin ada yang bisa membuatku membiarkan isi diriku dipreteli.

“Sekarang saja. Ceritakan. Tapi aku tetap di sini. Di tepi gedung ini. Kau tak akan membuatku lengah sehingga aku bisa diringkus.”

“Tak masalah,” ujarnya dan ia menarik nafas dalam-dalam. “Ananda, aku adalah kawan dekat Karim, ayah asuhmu, sejak kuliah.”

“Lalu dengan itu kau mau apa?” aku, yang kembali terbakar, memotongnya lagi. “Kau kira kau jadi punya sesuatu untuk meyakinkanku agar mau membaringkan diri di meja jagal?”

“Dengarkan aku dulu, Ananda—”

“Cih! Menyebut orang itu ayah asuhku pun masih terlalu baik! Ia sama saja dengan kalian, bedebah-bedebah yang mengira berhak menernakkan manusia!”

“Ananda!” intonasinya meninggi. “Karim dan Yasmin sedang ditahan—”

“APA PEDULIKU?” aku meneriakinya dengan tatapan yang semakin nyalang. “Mereka bukan siapa-siapaku! Jangan menyebut nama-nama memuakkan itu lagi kepadaku!”

“ANANDA!” pria itu berusaha mengalahkan teriakanku. “Mereka ditahan karena tak mau menyerahkanmu! Kau tak ingat itu, Bocah Manja? Kau ingat bukan hal terakhir yang terjadi kepada Karim sebelum dipisahkan dengannya? Kau ingat bukan pelipisnya yang dihajar popor senapan?”

Hening. Kami sama-sama terengah-engah tanpa mengendurkan pandangan tajam kami kepada lawan bicara kami. Kesunyian beku yang membilasku selama beberapa saat akhirnya mulai meredakan luapan emosi yang mencapai ubun-ubunku. Aku bisa merasakan pikiranku mulai kembali berjalan. Kata-katanya, memang, benar, tetapi masih jauh dari menjelaskan apa-apa.

“Hei, Bung, siapa yang bisa menjamin kalau adegan itu bukan sandiwara seperti semua hal yang terjadi dalam hidupku?”

Pria itu menghela.

“Aku mengerti kalau saat ini kau hancur. Aku pun tak bisa membayangkan mengalami apa yang kau alami. Tapi cobalah jadi seseorang yang lebih tangguh dariku. Dengarlah dulu ceritaku dengan kepala yang dingin.”

Sekarang aku yang menghela. Benar, berpikir dingin tak akan merugikanku. Malah kalau emosiku terpancing, aku tak akan bisa melihat niatan-niatan tersembunyi pria ini.

“Baiklah, ceritakanlah.”

“Ananda… mempertahankanmu hanya sebagian kesalahan Karim yang membuatnya ditahan. Tuduhannya semakin berat lantaran mengubah kodemu menjadi subjek 7.”

“Memangnya, ini angka apa?”

“Angka ini adalah urutan prioritas siapa yang akan dipergunakan terlebih dahulu di antara tujuh subjek kloning yang berhasil kami buat. Hasil kloning yang dianggap lebih sempurna berada di urutan yang lebih atas karena semakin kecil pula risiko penolakan organ dalam proses transplantasi.”

“Untuk apa ia mengubah nomornya?”

“Jangan pura-pura bodoh. Ia begitu menyayangimu.”

Tak mungkin. Orang ini bohong.

“Jadi, seharusnya aku nomor berapa?”

“Kau adalah subjek 1. Ciptaan Karim yang paling sempurna.”

Orang ini jelas-jelas omong kosong. Mungkin berusaha mengaduk-ngaduk perasaanku supaya aku lengah.

“Kau tahu semua ini dari mana? Informasi ini, kalau benar, sangat membahayakan Karim. Mengapa ia membocorkannya kepadamu?”

“Ananda, akulah yang mengingatkan Karim agar jangan punya keterlibatan emosionil dengan proyek ini. Sebab aku tahu betul, ia mau memanfaatkan ini untuk dirinya dan Yasmin, yang waktu itu sudah lama menikah dan tak kunjung memiliki anak. Ia pun mendaftarkan Yasmin untuk menjadi ibu kandungan dari telur pertama yang berhasil dikloningnya. Lihatlah data keluargamu, kata-kataku ini akan terbukti. Kau lahir pada tahun kesepuluh pernikahan mereka dan kau anak tunggal. Kau punya tahi lalat di wilayah tulang rusuk kiri paling bawah dan masalah pencernaan.”

Aku kontan mengangkat bajuku. Tak mungkin. Kata-katanya benar. Ada tahi lalat di tempat yang bahkan tak pernah kusadari.

“Ini… bisa saja kau menyelidikiku saat aku disekap.”

“Belum percaya? Luka gores di betis kirimu, kau terbaret beling saat berusia empat tahun. Bekas jahitan di ubun-ubun kirimu, kau tertimpuk oleh anak-anak kampung saat delapan tahun.”

Tak mungkin. Dari mana ia tahu semua ini?

“Kau tak merasa aneh mengapa orang luar sepertiku tahu semua ini? Hubungan kerja aku dan Karim mengharuskan kami mengkomunikasikan semua perkembangan yang terjadi.”

“Bohong!” emosiku kembali berbuih. “Lalu untuk apa Karim merawat anak yang nantinya pasti akan disembelih?”

“Itulah mengapa aku mengingatkan Karim, jangan melibatkan perasaan! Irasionalitasnya ini… aku juga tak memahaminya! Mungkin karena kau hasil karyanya? Mungkin ia merasa, entah bagaimana, ia adalah ayahmu? Aku tak tahu! Yang pasti sekarang ini juga membahayakanku!”

Nada bicara pria itu terdengar seperti kerbau yang mendengus berang. Kami berdiam-diaman kembali untuk beberapa saat. Wajah yang seperti kertas renyuk itu, apakah ia benar-benar emosi? Tak berakting?

“Apa tujuanmu menceritakan semua ini?”

Ia menghela, kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Aku merasakannya: sesuatu yang tak menyenangkan akan menghampiriku.

“Kau, Ananda, menentukan nasib Karim dan Yasmin, yang begitu mencintaimu itu, dan tentu saja diriku sendiri. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan kami adalah jika hatimu dapat memulihkan Jenderal.”

Betul dugaanku.

“Aku sudah duga. Ujung-ujungnya kau sedang berusaha menggiringku ke tempat pemotongan.”

Dan aku memalingkan tatapanku ke tepi gedung. Pembicaraan kita selesai. Ucapkan selamat tinggal kepada organ-organ segar yang jenderal sialan itu kira miliknya.

“ANANDA! DENGAR!”

Maaf, percuma saja.

“MENJADI DONOR HATI TAK AKAN MEMBUNUHMU!”

Kakiku, mendadak, lumpuh. Apa? Apa aku tak salah dengar? Aku masih bisa… hidup? Tapi. Tapi—

“Tapi bagaimana jika Jenderal sialan itu sakit lagi? Bisa jadi itulah akhir hayatku! Aku tak bisa hidup seperti itu! Tak bisa!” ujarku lantang. “Aku akan melompat!”

“Terserah! Lompatlah! Dan dalam perjalanan menuju ke bawah sana, jangan lupa mengingat ayah-ibumu! Meski bukan orang tua biologismu, mereka adalah ayah-ibu terbaik yang bisa didapatkan seorang anak! Dan ingatlah baik-baik, kau membunuh mereka!”

***

Lima menit. Sepuluh menit. Pria itu, di belakang, menantiku tanpa suara. Mengesalkan membayangkan ia mungkin sudah merasa menang.

Mataku, yang sebelumnya terpancang mantap ke jalan raya di bawah sana, kini berkunang-kunang melihatnya. Mau muntah. Tak bisa bernafas. Dan perasaan yang meremas-remas isi perutku ini; apakah takut? Mengapa? Mengapa pemandangan tengkorakku yang pecah, wajahku yang hancur, isinya yang berceceran ke mana-mana tak karuan kini menggentayangiku dengan sebegini merajam? Mengapa bayangan kehampaan tanpa akhir, kediamanku setelah ini, kini menyesakiku tanpa iba?

Apakah hidup, sepahit apa pun, ternyata masih lebih manis dibandingkan kematian?

“Baiklah,” ujarku sambil menghela. “Kau menang.”

Aku mundur dari tepi gedung. Menoleh. Mendapati pria itu menatapku tanpa ekspresi.

“Tapi, syaratnya, aku mau—”

Ah, apa ini? Sesuatu menusuk leherku. Sakit. Sakit sekali. Pandanganku, berputar-putar, lalu mengabur. Kakiku, kehilangan kekuatannya. Tubuhku, langsung ambruk seperti karung. Tanganku, bahkan tak berkutik untuk mencegahnya. Peluru anestesi? Sial. Badanku melekat ke atas lantai. Tak bisa kuangkat. Seperti tersemen ke atasnya. Kesadaranku menipis. Menipis. Dan menipis. Dan aku melihat beberapa kaki bersepatu bot. Menghampiriku. Mengangkutku. Sial. Kesalahan besar. Siaaal. Lalu sebuah suara. Menyelamati pria itu sepertinya.

“Pekerjaan yang baik, Prof.”

Siaaal… Ya Tuhaan… Siaaal… Aku tak mau. Tak mau. Tak mau mati.

“Ananda. Maaf, maksudku subjek 7. Maafkan aku.”

Siaaa…

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan