Tamat

the end

Semestinya cinta diperbincangkan, bukan sekadar dipikirkan ataupun dijalani. Berjalan tanpa memikirkan hal-hal yang fundamental membuat hidup seolah tidak bisa direvisi. Ketika tiba saatnya keputusan penting harus diambil, kamu lagi-lagi gundah. Aku merasa lelah. Kita, untuk kesekian kalinya, kehilangan arah.

Daftar hal-hal yang fundamental itu kutemukan di antara 70an entri tulisan yang ada di blogmu. Kamu menempatkan cinta di posisi pertama sebagai elemen yang perlu kau susun definisinya berdasarkan pikiranmu sendiri, bukan versi orang lain. Alasannya sederhana. Rangkaian huruf c, i, n, t, a adalah salah satu kata yang jarang absen di lembar buku kehidupan kebanyakan orang.

Ini tentang ceritaku yang semula jatuh cinta pada isi ketikan jemarimu. Meskipun hanya pernah sepintas bertemu, aku mendadak yakin matamu adalah sensor paling cerdas karena syarafnya mampu menangkap hal-hal sederhana lalu kau suguhkan filosofi dibaliknya. Walaupun hanya beberapa penggal percakapan yang pernah terjadi, aku percaya bibirmu adalah pabrik kata-kata yang akan menjelma jadi bahan obrolan, membuatku ingin menghabiskan malam hanya dengan membicarakan ini-itu bersamamu.

Dalam hitungan minggu, hadirlah ‘kita’. Proposalku diterima. Ini bukan kali pertama aku menawarkan ide tentang hubungan yang melampaui relasi antarteman. Jika aku berkiblat pada deskripsi umum tentang laki-laki yang tidak layak diperhitungkan sebelum menjalin hubungan, maka aku termasuk di dalamnya. Aku tidak bisa menebak secara pasti ia perempuan keberapa yang berani kuajak berbagi hari.

Pada suatu makan malam, ia berceloteh tentang mengapa ‘jatuh’ bergandengan dengan ‘cinta’. Ini adalah tanda dari bahasa, katanya. Tanda bahwa dalam relasi yang mengikutsertakan rasa cinta, ia tak hanya akan membuat hidupmu berbahagia namun ia juga punya segala daya tanpa duga yang akan membuatmu nelangsa. Ketika semesta mengizinkannya, sensasi kimia yang berdesir di dalam dadamu kelak dihisap oleh gravitasi hatimu sendiri. Jatuh, luruh, tak tahu kapan akan sembuh.

Pembacaannya tepat. Aku memutuskan kabel komunikasi tanpa alasan yang berarti. Aku ling-lung. Kata sahabatnya, ia pun ikut bingung. Tidak ada yang menerbitkan perselisihan. Tidak ada yang memantik api. Tidak ada faktor eksternal apapun yang membuatku mundur perlahan dari relasi yang kuawali.

Perempuan yang kupacari kali ini tahu betul caranya bertahan dalam diam dan ketidakpastian. Lain dari mereka-mereka yang dulu pernah tersakiti, akal sehatnya sanggup merasionalisasi keadaan yang kugantung ini. Ia pandai sekali mengelola emosi yang sesungguhnya bisa meledak tanpa aba-aba. Tapi ia tahu bagaimana melepaskannya. Bukan dengan menangis, melainkan menulis. Dari refleksi tentang hidup yang ia rangkum di situs daringnya, aku yakin ia baik-baik saja.

***

Menguap, lenyap, tanpa sebab. Kabar laki-laki yang tengah memacariku terwakili oleh tiga kata itu. Entah apa yang ada di pikirannya. Membiarkanku terlepas dari kait-kait yang membuat hidupku seimbang akhirnya kini limbung. Untung saja suasana hatiku masih bersedia berkorespondensi dengan logika otakku. Kalau tidak, rasa nyerinya dijatuhkan setelah dilambungkan mungkin akan lebih menyakitkan.

Pada suatu sore di antara langkah kaki, aku pernah membuat klaim kepadanya. “Kamu harus tahu, aku masih keturunan Mahatma Gandi. Kamu sedang membangun relasi bersama seorang perempuan pacifist.”

“Yang artinya?”

“Yang artinya, aku adalah manusia yang merespon pemicu konflik tanpa menimbulkan konflik. Kemungkinan besar jika terjadi apa-apa, aku akan menyelesaikan masalah dengan metode yang damai. Kita akan defisit stok cerita drama.”

Ia mengulum senyum. Langkah kita masih mengayun.

“Jadi, kalau akhirnya kita bertengkar, yang dipertengkarkan adalah apa yang hendak dipertengkarkan?”

Gelak tawaku menutup dialog acak itu. Berkasnya kini tersimpan di salah satu laci memori.

Aku mencium perubahan drastisnya dari komunikasi yang lambat laun jadi kaku dan pasca-makan siang yang mendadak beku. Semenjak itu, aku menjalani hari dengan asumsi-asumsi. Beragam analisis prematur bertebaran di kepalaku. Nalarku mencoba membuat hubungan kausal yang mungkin menjadikannya bukan sosok yang selama ini kukenali. Kehadiran perempuan baru yang lebih bisa membuatnya nyaman adalah skenario terburukku. Skenario lainnya, mungkin ia sedang ingin jeda.

Pertemuan pertama kami yang tak pernah direncanakan adalah salah satu alasan mengapa aku secara implusif mengiyakan tawarannya melakukan perjalanan bukan sebagai teman. Aku tak ingin terlalu sibuk memikirkan apa jadinya hari esok. Aku ingin hidup sepenuhnya hari ini, serambang apapun keputusan yang kubuat. Bayanganku tentang laki-laki yang kuizinkan masuk ke rutinitasku ternyata sukses ia proyeksikan tanpa perlu kujelaskan apa saja kriterianya. Namun, di sinilah tak sengaja aku membuka gerbang malapetaka; secara sepihak aku menjadikannya salah satu variabel permanen dalam fungsi kebahagiaan harianku.

Aku ingat betul di awal hubungan ini ia menyatakan bahwa ia tidak memiliki jejak rekam dengan komitmen yang terbilang baik. Ini tergambar dari sejarah pengalamannya bersama sejumlah perempuan yang ia ceritakan sendiri kepadaku. Aku menanggapinya dengan tawa tanpa merasa terancam hal yang sama akan menimpaku. Toh pada dasarnya perpisahan selalu sepaket dengan pertemuan, bukan? Jika kelak memang keraguannya pada komitmen jangka panjang adalah akar penyebab berakhirnya aku-dia, aku yakin, aku akan mampu mengatasinya. Namun, pada praktiknya, tidak semudah dan semulus yang kukira. Upayaku memaknai cinta secara mandiri tidak banyak berguna. Kesadaranku bahwa namaku juga pasti akan menambah daftar panjang perempuan yang pernah bersamanya tidak membantu. Aku kehilangan kendali atas perasaanku sendiri.

Teman-teman di lingkaran pertamaku menyebutnya ‘tega’. Aku sendiri bahkan tak tega melabelinya. Instingku mengirim sinyal agar bersabar. Mungkin ia sedang butuh waktu. Mungkin ia sedang merumuskan ulang bentuk hubungan yang ia mau. Tudingan ‘bias’ dan ‘buta’ tak pelak diarahkan ke putusanku yang bebas nilai. Bagaimana mungkin aku tidak menggugat perubahan sikapnya dan masih bisa menerima tindakannya tanpa mengenakan nilai apa-apa? Tidak masuk akal, menurut konvensi sosial yang terbiasa berpikir biner. Dalam kamusnya, manusia hanya terbagi dua: baik dan jahat. Bagiku, pembagian itu menyederhanakan persoalan. Hidup lebih banyak terdiri atas area abu-abu. Rasa bernama cinta adalah salah satu penyumbangnya.

Akan menjadi lain cerita apabila sedari awal ia tidak jujur tentang masalahnya dengan komitmen. Aku sadar betul, aku merespon kekhawatirannya dengan tenang: “Aku bisa memahami itu. Aku bersedia menerimamu tanpa meresahkan yang dulu-dulu.” Dengan kedua belah pihak yang telah mengutarakan pikirannya, kejanggalan perilakunya yang menarik diri dari keseharianku menjadi masuk akal—setidaknya di kepalaku. Ia sedang berusaha melepas ikatan emosi yang mulai terjalin. Ia sedang melatihku untuk menghapus variabel permanennya di fungsi kebahagiaanku. Ia sedang merencanakan perpisahan yang akan kita ikhlaskan.

***

Mei digeser Juni. Juni berganti Juli. Aku masih belum menemuinya. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Haruskah aku meminta maaf karena mendiamkannya tiba-tiba? Perlukah aku mengirimkannya pesan “lekas sembuh”—karena kudengar ia sakit? Sahabatnya mendesakku untuk segera bicara dengannya. “Kamu berutang penjelasan kepadanya,” Ia memperingatkanku. Lidahku kelu membayangkan ia duduk di hadapanku, melihat matanya beradu dengan mataku.

“Apa lagi yang menahanmu?”

“Entahlah. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku hanya tidak ingin meninggalkan luka,” jawabku bodoh.

“Kamu sudah menggoreskannya.” datar nadanya.

“Aku tidak ingin melepasnya saat ia belum mau melepasku. Aku tahu, aku adalah laki-laki paling tak tahu diri, tapi aku tidak mau terlihat buruk di matanya.” paparku semakin bodoh.

***

Aku tidak mungkin membenci laki-laki yang pergi tanpa pamit permisi. Ia tidak mengingkari apapun sebab ia tidak menjanjikan apapun. Tidak ada kesepakatan tertulis maupun lisan yang membuatku berhak menuntut aksi heningnya. Masuk akal, bukan? Aku tidak bisa membenci atau mengatai dirinya tak tahu diri sebab aku justru sedang berempati. Jika aku dilanda sesak kebingungan yang sama, aku juga akan mengambil jarak. Jika aku dikepung seribu tanda tanya, aku pun akan menyendiri untuk sementara.

Aku pun sudah menyentuh titik paling rendah. Badanku akhirnya bereaksi terhadap aliran energi negatif yang belakangan kubiarkan menginvasi pembuluh darahku. Tanpa perlu airmataku tumpah, sistem imunku akhirnya menyerah. Untuk sembuh dari penyakit-penyakit ringan yang tidak kunjung pergi juga, bukan obat dokter yang kubutuhkan. Aku hanya perlu mekanisme pertahanan mental yang baru supaya asumsi yang belum tentu sejalan dengan kenyataan tidak lagi mengganggu kesehatan.

Sahabatku mendorongku untuk mengajaknya bertemu. Tapi aku bersikeras menunggunya. “Bukan aku yang mendiamkannya secara tiba-tiba tapi dia. Dia lah yang harus memulai percakapan. Bukan aku pula yang akan melepasnya. Dia yang harus mengakhiri ini karena ia yang memulainya.” jelasku tegas. Aku hanya menanti dua eksplanasi. Aku ingin tahu jawabannya atas pertanyaan: 1) Mengapa ia melakukan ini padaku? 2) Apa yang terlintas dibenaknya sebelum mengemukakan proposalnya?

Tak ada yang aku sesali samasekali karena tak ada yang bisa menggariskan hidup dan matinya perasaan manusia yang abstrak. Ia datang dan pergi sesuka hati. Di antara denyut yang berdetak dan degup yang akan retak, ada asa yang menitipkan rasa percaya bahwa kita pasti bisa melalui pahit-manisnya. Namun, faktanya berkata lain. Di otakku solusi dari gulungan kisah kusut nan absurd ini tergambar jelas. Aku harus berhenti bermonolog. Aku dan dia harus duduk untuk berdialog. Tapi, sekali lagi, aku mau dia yang meyudahinya. Peranku hanya sebatas mengangguk tanda setuju saat kita nantinya sepakat untuk menuliskan;  Tamat.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan