Diam

CantikHujan

Di hadapan gerimis yang berdenting-denting di teras samping rumah, aku sedang berpikir-pikir tentang perkataan suamiku tadi. Ia coba menenangkan kegalauanku, padahal ia tak tahu penyebabnya apa. Setidaknya aku sekarang lebih nyaman dibanding beberapa saat lalu, ketika bosan dan sepi tengah mengintaiku dari suatu tempat yang tak aku ketahui keberadaannya.

Tak bisakah semuanya berhenti sejenak? Angin tak usah berhembus, air tak usah mengalir, rambut berhenti memanjang, daun tak perlu menguning, awan-gemawan diam di tempat, semuanya diam, diam, tak usah berlomba-lomba untuk saling mendapatkan, entah apa.

Buat apa?

Tapi kenyataannya semua harus begitu. Semua harus tumbuh. Semua harus berjalan. Semua harus bekerja. Semua harus bergerak.

Dulu, sewaktu aku masih memakai seragam sekolah, Ibu begitu keras sekali menyuruhku belajar agar aku bisa lulus dan bisa memilih SMA favorit. Seolah tidak belajar dan tidak lulus adalah sebuah kerugian yang teramat besar.

Entah kerugian yang bagaimana maksud ibu. Padahal teman-temanku, yang di sekolahnya biasa-biasa saja, punya kehidupan yang baik setelah lulus. Bahkan di antaranya ada yang jadi pengusaha sukses, jadi perempuan karir, dan jadi artis top. Kenyataan itu kadangkala membuatku diam bermenit-menit. Mengapa bisa begitu? Apakah kesalahan terletak pada cara Ibu dalam melihat kehidupan?

Ketakpahamanku berlanjut kemudian. Aku masih ingat betul masa-masa ketika aku masih memakai seragam putih abu-abu.

Dita, teman sebangkuku, setengah mati membodoh-bodohkan diriku ketika sebuah surat cinta dari David kuacuhkan saja. Bagiku surat itu biasa-biasa saja. Tapi entah mengapa Dita sampai membacanya berulang-ulang seolah surat cinta itu adalah mantra yang memabukkan.

Dita bilang aku terlalu lugu dan tolol, karena telah melewatkan kesempatan emas itu. Semua orang tahu siapa itu David. Dia boleh dibilang selebritis kelas atas di sekolahan, yang tak seorangpun bisa dengan mudah menarik perhatiannya. Tapi aku—yang tanpa usaha apapun—yang telah mendapatkan lampu hijau darinya, justru dingin tak bereaksi.

Aku pikir, bukankah wajar tak berpacaran? Toh banyak teman-teman lainnya yang tak berpacaran. Aku tak mengerti dengan cara berpikir Dita yang setengah mati mengejar-ngejar David, meski sampai lulus ia tak berhasil mendapatkan surat cintanya.

Apakah cara berpikir Dita itu sama seperti cara berpikir paman keduaku yang akhirnya tertangkap KPK padahal baru setahun menjabat sebagai wakil rakyat itu?

Jikalau dipikir-pikir, memang hampir kebanyakan orang memakai prinsip hidup seperti itu. Saat ada kontes pemilihan idola muda, banyak teman-temanku yang saat itu langsung menyerbu. Mumpung ada kesempatan, kata mereka. Pak Yanto—guru Fisikaku—saat itu juga sering bilang, mumpung liburan, tolong dikerjakan dengan baik semua tugas darinya. Mbok Nah—pembantu rumah tangga Ibu—juga sering bilang, mumpung masih kuat, Non, saat kutanya mengapa beliau tak pensiun kerja saja padahal usianya hampir mendekati kepala enam.

Apakah kehidupan yang maha besar ini pada dasarnya digerakkan oleh kata ‘mumpung’?

***

Di hadapan gerimis yang berdenting-denting di teras samping rumah, aku sedang berpikir-pikir tentang perkataan suamiku tadi. Ia coba menenangkan kegalauanku, padahal ia tak tahu penyebabnya apa. Setidaknya aku sekarang lebih nyaman dibanding beberapa saat lalu, ketika bosan dan sepi tengah mengintaiku dari suatu tempat yang tak aku ketahui keberadaannya.

Beberapa hari di belakang, mereka memang kerap sekali menculik dan mendamparkanku di sebuah tempat asing. Aku merasa sangat buruk. Entahlah. Seperti mundur ke titik nol, lalu harus tertatih kembali. Sebuah perasaan yang ajaib. Ajaib sekali. Perasaan yang tak terbahasakan.

“Bagun, Dik, dunia masih membutuhkanmu,” ujar suamiku tadi .

Dengan senyum—yang agak kupaksa—aku bangkit dari diamku. Kusiapkan pakaiannya. Kuseduhkan kopi susu. Kuambilkan koran yang terselip di bawah pintu gerbang rumah. Kusiapkan roti bakar. Tubuhku sudah hafal betul dengan rutinitas ini. Rutinitas yang membuat lelaki itu bernyanyi-nyanyi riang ketika berada dalam kamar mandi, sementara aku hening sendirian—mengapa aku harus melakukannya setiap hari?

“Entah mengapa pagi ini aku merasa sangat buruk sekali, Mas,” coba kulontarkan perasaanku yang sebenarnya.

“Ya Tuhan, kau pasti sedang butuh ciuman sekarang,” mendekat, dan lalu menghadiahiku sebuah ciuman wangi di pipi.

“Kau ingin menitipkan Anya ke rumah neneknya?”

Aku menggeleng.

“Kau ingin liburan ke mana akhir pekan nanti?”

“Seandainya Mas orang miskin, apakah Mas masih akan menawarkan hal itu?” kusorongkan senyum—meski setengah terpaksa.

“Setiap orang punya caranya sendiri untuk membahagiakan diri. Ayolah, Dik, aku tak ingin punya istri robot.”

“Terserah saja Mas mau mengajakku ke mana.”

“Itu namanya robot!” serunya dengan nada tak suka. “Ayolah, Dik, katakan keinginanmu apa?”

“Kenapa?”

“Kenapa? Ah, kau ini membingungkan. Katakan saja keinginanmu apa. Kok malah bertanya kenapa. Kita kan manusia, Dik. Pasti punya banyak keinginan dan pilihan. Kau lihat gerimis di luar itu? Apakah dia punya keinginan dan pilihan?”

Spontan aku menoleh ke gerimis yang menari-nari di teras samping rumah.

“Tujuan mereka sekarang pasti ke sungai, lalu ke laut, lalu ke langit, lalu luruh ke tanah lagi, lalu ke sungai lagi. Membosankan kan? Apa kau ingin seperti itu?”

Aku kembali ke kedua matanya.

“Sepulangku dari kantor nanti, kau harus sudah punya jawabannya ya?”

Aku tersenyum.

Dan seperginya lelaki baik itu, perasaan ajaib itu pun menggodaku. Seperti orang yang baru bangun dari kematian. Semua yang tertangkap mata jadi terasa baru dan mengesankan.

Gerimis yang menyapa pagi ini mungkin memang sudah diramu sedemikian rupa kedatangannya. Ia membangunkan anggrek yang baru dua hari kutanam dan kemarin sempat layu. Mungkin di tempat lain sana, gerimis ini juga membangunkan yang lainnya. Kedatangan gerimis ini pastilah membawa banyak pengait di tubuhnya, yang mengail banyak keadaan di luar sana.

Mungkin saja ada sebuah pertemuan yang akhirnya tertunda di luar sana. Mungkin saja gerimis ini semakin membuat gelisah hati seorang penunggu itu. Mungkin saja gerimis ini membuat si penunggu itu akhirnya berpikir dalam diam, apakah hubungannya yang terlarang itu layak diteruskan atau tidak. Mungkin saja gerimis ini menunda langkah seseorang yang ia tunggu-tunggu. Mungkin saja gerimis ini membuat dua sejoli itu akhirnya terdiam dan berpikir-pikir tentang segala mereka. Mungkin saja.

Dan HPku masih diam tak bersuara. Padahal biasanya ia tahu betul saat-saat di mana galau dan jenuh menyundut-nyundut hatiku. Padahal biasanya ia tahu kapan suamiku tenggelam dalam pekerjaannya dan meninggalkanku diterkam sunyi mentah-mentah.

Kulihat jam dinding. Telah satu jam beranjak dari kepergian lelakiku. Telah setengah jam si penunggu itu menggoda ketenangan dalam hatiku. Tapi gerimis ini masih membuatku terdiam di sini, di dekat tempat tidur Anya kecilku.

Tak cuma gerimis. Kehadiran Anya pun sepertinya adalah sebuah rencana takdir yang tak pernah kusadari selama ini. Kupikir ia hanyalah sekedar pelengkap takdirku yang membosankan; masa kanak-kanak yang polos, tumbuh jadi remaja yang kadang pusing dengan kehadiran sebuah jerawat, parkir di bangku kuliah, dan menikah dengan seseorang yang kadang bingung mengapa aku memilihnya. Dalam diam ini tiba-tiba saja baru kusadari sesuatu. Dan itu baru saja kutemukan beberapa detik lalu.

Bukankah Anya adalah Anya? Ia memiliki dunianya sendiri. Dia memiliki takdirnya sendiri. Rahimku hanyalah sekedar tempatnya lewat untuk kemudian melihat dunia. Lalu kenapa kadang aku harus merasa berat dengan kehadirannya?

***

Pernahkah kalian diam lalu berpikir sejenak tentang semuanya? Berpikir secara utuh untuk menemukan sebuah kesadaran baru.

Sebuah sepeda motor melaju kencang beberapa detik lalu. Membelah gerimis, memanggil keterkejutanku ketika sedang menyeberang jalan. Aku tak sempat mengelak. Lalu tiba-tiba gerimis menjadi sebuah alun yang penuh rindu.

Rindu datang berduyun-duyun membawa bala tentaranya. Entah kenapa tiba-tiba saja aku rindu dengan masa kecilku yang biasa-biasa saja itu. Kenapa dulu aku tak jadi bocah badung atau bocah jenius saja agar dunia turut bangga menyimpan masa laluku? Aku pun tiba-tiba rindu dengan masa remajaku yang biasa-biasa saja itu. Kenapa dulu tak kuterima cinta David saja meski aku tahu itu hanya cinta monyet belaka?

Kini, apa yang bisa diistimewakan dari masa laluku? Semuanya hambar dan membosankan. Bahkan pernikahanku dengan lelaki yang sebenarnya amat baik itupun tak sepenuhnya kunikmati.

Tiba-tiba saja menyesal kenapa selama ini terlalu sering aku membuatnya galau. Tiba-tiba saja menyesal kenapa aku tak bisa menjadi ibu yang baik bagi Anya.

Lalu kenapa pula tadi aku nekat membahayakan nyawa seperti ini demi seorang penunggu yang belum pasti kesetiaannya dibanding lelaki itu?

Tiba-tiba saja aku teringat beberapa kejadian di masa lalu di mana aku berpikir semuanya terjadi karena kata mumpung, mumpung masih hidup.

Semoga saja aku belum mati kali ini. Meski semuanya terdengar diam dan senyap.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan