Lain Dunia

bangku

Jangan kira di bangku bawah pohon mangga di taman kota yang sering kalian kunjungi itu kosong. Sebenarnya ada seseorang di situ. Seseorang yang tak bisa kalian lihat. Namun ia bisa melihat semua kalian dari tempat duduknya. Seperti sekarang.

Hari masih berselimut dingin embun pagi. Kicau seekor burung pipit yang terdengar murung di telinga seolah mengabarkan dirinya yang kesepian. Rerumputan masih basah. Beberapa orang terlihat lari pagi. Dua petugas kebersihan terlihat sibuk melaksanakan tugas hariannya. Sepasang muda-mudi tampak bercakap riang di bawah rindang akasia. Semua itu berganti-ganti menjadi pemandangan yang dilihat oleh sesosok di bangku taman itu. Sesosok yang tengah menikmati ketenangannya sendiri, yang banyak hari di belakang tak pernah ia dapati.

Kini, puaslah ia melihat dunia yang tak lagi hirau padanya. Tersenyum-senyumlah ia mengenang rentetan peristiwa dalam kepalanya. Tak seperti dulu, ketika ia masih memakai pakaian gemerlapan itu. Bahkan untuk sekedar membunuh jenuh ke mall saja, ia langsung diburu.

***

hantu2

Ia jatuhkan tubuhnya di atas sofa. Meski kepalanya masih terasa berat, tapi ia harus menonton televisi pagi ini. Tengah malam lebih tadi malam ia berada di pertunjukan akbar itu. Dan kini…

“Kau harus nonton gosip pagi ini,” sebuah SMS yang membangunkannya tadi, dari kakak sekaligus manajernya.

Kejadian yang dikhawatirkan kakaknya semalam, benar-benar nyata buntutnya. Penampilan tak lazim yang dikenakannya semalam dikunyah habis-habisan oleh semua acara gosip. Dari atas sampai bawah, dari mulai gaya rambut sampai model sepatu.

Tapi sungguh, ia suka dengan ini. Dan memang beginilah yang diingininya. Jadi tak sabar ia menunggu hari-hari berikutnya di mana…

Akhirnya dugaannya terbukti. Gaya rambutnya di malam itu kini bisa ia temukan dengan mudah di mana-mana. Menjadi gandrungan anak-anak muda baru gede. Bahkan ibu-ibu berjiwa muda pun tak segan-segan meniru. Gaya rambutnya di malam itu, menjadi tren nomor satu di salon-salon kecantikan dari mulai kelas profesional sampai kelas kampung.

Dan model pakaian. Meski ketika itu sempat dipandang aneh oleh sesama teman seprofesi, bahkan juga oleh beberapa pengamat fashion, tapi toh kini model pakaian itu merajalela di berbagai tempat, dari mulai butik-butik yang memajang pakaian merek kelas atas hingga pasar-pasar tradisional di pelbagai pelosok kampung. Bahkan model pakaian itu juga telah beranak-pinak, menurunkan model-model pakaian baru yang tak kalah digandrungi. Toko sepatu yang menjadi langganannya pun kebanjiran order!

“Tampaknya kamu memang harus tampil lain dari yang lain,” ujar sang kakak akhirnya.

Orang paling berjasa dalam hidupnya itu turut menjadi pemandunya dalam berpenampilan. Ia menjadi tukang kritik pertama ketika dirinya bosan dari gaya lama. Namun ia dan kakaknya amat berbeda. Ia lebih cenderung memilih kenyamanan diri sendiri meskipun di mata banyak orang terlihat aneh. Sementara kakaknya lebih suka berkompromi dengan pandangan umum ketimbang seleranya sendiri.

Seiring dengan angin yang terus membawanya naik ke atas, dirinya pun semakin dihargai mahal. Harga sewa tubuhnya untuk memeragakan model busana terbaru mencapai puluhan juta. Tarif untuk memanggil kehadirannya di sebuah acara tertentu, memanggil decak banyak orang. Film, sinetron, dan video clip yang menjual aktingnya selalu laris-manis di pasaran. Keberadaannya tak pernah sepi dari buruan wartawan gosip. Segala tentang dirinya mendadak menjadi lebih penting daripada ulah pejabat nakal.

Mulanya ia amat menikmati itu, karena ketenaran adalah puncak yang memang diburunya sejak dulu. Teringat masa lalunya yang kelam, di mana kedua orangtuanya telah pisah sejak ia umur tujuh. Ibunda tercintanya kemudian membawanya berkelana dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya. Berkelahi karena dilecehkan teman, dipukuli karena mengutil di pasar, berdamai dengan lapar saat ibunya sakit, menangis sendirian saat semua masalahnya tak terbagi dengan siapapun, kemiskinan telah menjadi teman akrab yang memuakkan sejak ia masih kanak. Dan semua kenangan itu, kini telah ia pigura dan ia tempelkan di dinding hati. Saat sewaktu-waktu ia butuh pemicu untuk melecut kemalasannya, tinggallah ia duduk-duduk memerhatikan semua kenangan menyakitkan itu. Dendamnya terhadap masa lalu itu pun seolah terbalas.

***

Ia merasa ada yang salah. Perasaan tak tenanglah yang bilang kepada hatinya, bahwa ada yang salah selama ini.

Lama-lama ia merasa tak nyaman dengan popularitas yang ia peroleh. Kadang muak sekali ia dengan kelakuan media yang membesar-besarkan hal kecil tentang dirinya. Ujung-ujungnya, mereka hanya ambil untung saja dengan gosip-gosip seputar dirinya. Menggaet iklan.

Semuanya mereka curi dan mereka pajang di depan umum. Dari mulai caranya menghibur diri dari rasa jenuh sampai jatuh bangun kisah asmaranya yang sebenarnya ingin ia simpan sendiri dalam hati. Tak ada lagi tempat nyaman untuk hindar dari mata publik. Kamera-kamera itu berjaga siang malam mengintai keberadaannya.

Sering ia melamun-lamun sendiri, apa sebenarnya yang jadi penyebab rasa tak nyaman yang belakangan hari terasa semakin menyiksa. Apa ia telah salah langkah?

“Ya wajar lah. Kamu kan sudah jadi figur publik sekarang,” komentar kakaknya sewaktu ia buka hati. “Ambil yang positif-positifnya saja. Jangan sampai terpancing dengan negatifnya karena akan merugikan karirmu sendiri.”

Apakah figur publik itu berarti dirinya telah menjadi milik umum sampai ke bilik-bilik hatinya?

Ia tidak setuju dengan yang seperti itu. Seharusnya mereka juga menyisakan ruang untuk bisa dinikmatinya sendiri. Sebab itulah beberapa hari kemudian ia sempat bersitegang dengan dua orang wartawan yang begitu kurang ajar membuntutinya seharian penuh. Buntutnya, dirinya pun menjadi menu utama lagi di setiap berita.

***

Kini, di kursi taman itu ia tersenyum-senyum sendiri melihat dunia yang acuh terhadapnya. Tak perlu khawatir lagi dikejar-kejar paparazi. Tak perlu pusing lagi dengan penampilan. Tak perlu galau lagi dengan omongan orang-orang. Ada banyak waktu untuk menikmati hari hanya dengan dirinya sendiri.

Telah lama ia memikirkan hal itu. Apa yang sebenarnya menjadikan dirinya diincar-incar banyak mata dan mulut. Hingga akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan tubuhnya itu. Ia berpikir, mungkin karena ia punya tubuh yang memiliki banyak pangkat. Cantik, cerdas, punya aura yang memikat banyak mata, menyandang banyak penghargaan dari berbagai ajang kompetisi, dan masih banyak lagi keistimewaan yang tak dimiliki oleh tubuh orang lain.

Malam itu, malam di mana keputusan telah masak di dalam kepalanya, ia pun pergi meninggalkan tubuh itu. Seperti duri yang dicabut paksa dari daging. Menyakitkan di awal, namun terasa ringan di akhir. Tubuh yang amat disayanginya itu pun tergolek tanpa daya seperti baju yang dilepaskan oleh pemakainya. Kini ia pun merasa seringan udara, serasa tanpa memikul aneka beban lagi.

Yang paling terpukul dengan keputusannya itu adalah kakak lelakinya. Ia maklum, sebab lelaki itulah yang menjaga dan merawatnya sejak ibu mereka tiada. Lelaki itu adalah ayah sekaligus ibu, juga merangkap sebagai sahabatnya.

Dan yang sudah ia duga jauh hari sebelumnya, semua media yang dulu selalu mengejar-ngejar dirinya pun tak kalah heboh mengumbar berita duka. Seolah mereka benar-benar merasa kehilangan. Padahal, kelakuan merekalah yang dulu paling menyiksa. Kelakuan mereka benar-benar membingungkan. Saat tubuh yang sekarang telah ia tinggalkan itu masih memancarkan aura, mereka memburu tanpa memedulikan perasaannya. Kini setelah tubuh itu tergeletak kehilangan daya, mereka berduka seolah benar-benar merasa kehilangan. Sandiwara macam apa itu?

Yang masih harus dikerjakannya sekarang adalah menemui kakaknya untuk memohon maaf karena keputusan ini ia ambil tanpa meminta persetujuannya dahulu. Semoga saja lelaki itu sudah bisa menenangkan diri. Semoga saja lelaki itu mau memahami keputusannya. Semoga saja lelaki itu masih bisa melihatnya meski ia tak mengenakan pakaian gemerlapan.

hantu

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan