Ziarah

Berdoa

Mobil itu menepi. Sepasang mata ragu dengan ingatannya. Jajaran warung kumuh telah berganti pertokoan yang lebih tertata. Tampak bahwa zaman berhasil memaksa semua untuk berubah.

“Benar di sini, Mas?” suara perempuan di sampingnya.

Keluar dari mobil. Kacamata hitam berkilau tertimpa cahaya. Diamatinya pertokoan di sepanjang jalan itu, dari mulai toserba, warnet, bengkel kendaraan bermotor, agen koran dan majalah, toko bahan bangunan, toko elektronik, bank. Tak ada warung makan. Apa mungkin yang dicarinya telah tergusur?

Ia melangkah ke blok agen koran dan majalah, menanyakan tempat yang dicari.

“Benar, ini memang Jalan Masa Lalu. Bapak lihat gang itu? Antara bank dan toko elektronik. Masuk saja ke sana. Ujung gang itu adalah satu-satunya warung makan di sini. Mobilnya diparkir depan toko elektronik saja. Itu toko anaknya.”

Senyumnya mengembang. Pikirannya langsung mereka-reka kejadian demi kejadian yang telah merubah tempat ini.

***

Tak lagi warung sederhana. Ingatannya sudah tak cocok lagi dijadikan referensi. Riuh pelanggan dan harum masakan menyambut ketika langkahnya menjejak teras.

Mengajak istrinya duduk di bangku pojok. Posisi yang nyaman untuk mengawasi suasana.

“Alaah… dasar gombal mukio, sama istri saja kalah!” sebuah suara dari meja yang berseberangan membuatnya menoleh.

Crash!

“Mas…,” istrinya menatap tak suka.

“Cuma sekali ini saja,” sahutnya. Lalu kembali menatap lelaki asing yang sempat memanggil masa lalunya. Matanya menyipit ketika harum mengepul bersama ingatan. Cerutu mahal.

Perempuan di sampingnya langsung berdiri. Matanya memancarkan kejengkelan. Perempuan itu benar-benar keluar sebelum sempat ditanya perihal pesanan makanan.

Ia diam saja melihat itu. Memainkan pemantik berbentuk mobil. Menghisap dalam-dalam pipa cerutu. Namun lelaki asing sasarannya—yang dari penampilannya terlihat bahwa ia seorang kuli kasar—hanya menoleh sekilas, membuatnya ingin menghasilkan asap sebanyak-banyaknya agar sampai ke meja seberang.

Saat itulah masa lalu datang tanpa diundang.

Pemuda gemulai dalam retina matanya itu adalah masa lalunya. Wajahnya akan selalu muram saat sore berangsur gelap. Rumah menjadi tak nyaman lagi untuk memulangkan lelah semenjak bapaknya terang-terangan menampakkan malu karena beranak dirinya.

Setiap hari sebenarnya ia selalu menanamkan pikiran sederhana dalam kepala. Bukankah apa yang ada padanya hanya semata penerimaan? Andai Tuhan membolehkannya memilih, pasti ia akan memilih bentuk tubuh yang ideal. Namun inilah kenyataannya. Meski berkali ia coba berlagak bak Superman setiap kali ada ‘pekerjaan lelaki’ di rumah, tapi tetap saja tak pernah berhasil terlihat gagah di mata bapaknya.

“Dasar mukio, begitu saja enggak becus. Mending cari kerja di tempat lain saja. Enggak tega aku setiap hari lihat kamu babak belur begitu,” sebuah suara memotong kilasan ingatan yang dibawa masa lalunya.

Ditolehnya. Dari kaus yang dikenakan, orang-orang di meja seberangnya pastilah para pekerja toko bahan bangunan. Seorang pemuda berwajah lesu tengah menjadi menu pembicaraan tiga lelaki di kanan kirinya. Membuat masa lalu kembali menyalakan kenangan tigapuluh tahun silam dalam kepul cerutunya.

Pemuda berwajah lesu itu adalah dirinya. Selalu kehilangan gairah ketika masa depan menyemak dalam angan. Dan semua itu tak bisa pisah dari bayang-bayang bapaknya yang suka melarang melakukan ini-itu.

Lelaki itu melarangnya ke dapur sekadar menemani dan melihat Emak memasak. Lelaki itu melarangnya merawat tanaman hias, melarangnya bergaul dengan Kang Satar—yang hobi mengajari anak-anak menari dan melukis. Lelaki itu melarangnya mencoba mesin jahit mbakyunya, melarangnya mewarnai kuku jemari tangan dan kaki—sampai pernah ia mendapatkan hukuman sabet gara-gara itu.

Menurut bapaknya, hal yang wajar dilakukannya hanyalah mengikuti keseharian lelaki itu. Belajar membiasakan diri mencangkul di sawah, meladeni lelaki itu ketika mendapatkan kerja sebagai tukang bangunan, juga aneka ‘pekerjaan lelaki’ lainnya. Tak peduli ia akan meringkuk kesakitan setelah menandangi pekerjaan itu. Mengeluh di depan Emak pun bahkan dilarang.

Dan di warung inilah tigapuluh tahun silam ia berkenalan dengan dendam itu. Warung inilah tempatnya pulang mengadu.

“Soto, minumnya wedhang jahe, teruus…oh, apa di sini tak menjual sate keong lagi?” ujarnya ketika tiba juga giliran untuk dilayani.

“Sudah lama kami tidak menjual itu, Pak. Maaf,” gadis itupun menoleh ke arah papan menu yang tertempel di tembok dekat pintu.

“Menu-menu khas di sini sepertinya sudah hilang semua,” menghisap cerutu.

“Sewaktu Simbah masih ada, tempat ini memang terkenal dengan menu-menu semacam belut goreng, sate keong, atau kulub semanggi dan genjernya. Tapi semenjak area persawahan berkurang, bahan bakunya semakin sulit. Bapak pelanggan lama ya? Simbah sudah lama meninggal, Pak. Konon saat saya masih umur delapan.”

“Alaaa…h, gombal mukio kamu. Kalau enggak betah kerja di situ, kamu lantas mau kerja apa? Njahit? Atau kerja di sini saja, ikut Mak Ndari? Hahaha…”

Sebuah suara dari bangku seberang kembali membuat hatinya tersundut. Ketika si gadis undur langkah untuk menyiapkan pesanan, lelaki ini mengambil sebatang cerutu lagi. “Mau cerutu? Silakan,” mengulurkan ke lelaki yang tertawa mengejek tadi.

“Enggak, Pak, enggak. Saya enggak terbiasa merokok ini…,” lelaki berpenampilan kuli itu tampak gugup.

“Tak apa, saya kasih gratis. Dicoba saja, anggap ini rezeki.”

“Tapi ini…,” diterima juga dengan perasaan canggung.

“Cuma duaratus ribuan perbatangnya,” menjawab dengan nada enteng, menampakkan wibawanya.

Terjatuh. Saking tak menyangka. Lelaki kuli itupun buru-buru memungut cerutu pemberian lelaki asing di hadapannya. Namun tak juga disulutnya benda mahal itu. Padahal rokok murahan yang dihisapnya telah habis sedari tadi.

“Sini, biar saya nyalakan. Saya kasih pipanya sekalian,” mengulurkan pemantik.

Si kuli semakin merasa tak nyaman. Namun dipaksakannya tersenyum saat menghisap benda mahal itu.

“Oya, apa benar Mas butuh pekerjaan baru?” menoleh ke pemuda kerempeng yang tadi sempat menjadi bahan olok-olok teman sebangkunya.

Si pemuda hanya tersenyum kikuk. Dari bahasa tubuhnya tampak benar lenggok keperempuanan.

“Aku tuliskan nomor HPku. Nanti kalau minat, hubungi saya. Ada salon kecantikan, butik, restoran, lalu tempat pijat. Minatnya di mana, nanti silakan pilih,” mengambil kertas bungkus rokok dan menuliskan nomor HP.

Agak takut-takut, “Nama Bapak, siapa?”

“Panggil saja saya Mukio.”

Empat lelaki di bangku itu melongo. Saling toleh.

“Jadi kamu Mukio?” suara lain menyahut. Perempuan paruh baya yang membawakan menu pesanan.

“Yu Sundari?” lelaki itu balik bertanya.

“Jadi ternyata ini kamu. Sudah jadi orang gede ya, Yo?” menepuk-nepuk pundak lelaki parlente itu dengan akrabnya. Pesanan jadi tertunda dilahap saat percakapan semakin sambung-menyambung. Sementara yang mendengar percakapan itu berbisik-bisik. Tak ada lagi yang berani menyebut kata gombal mukio.

“Sudah berapa tahun kamu tak menengok tempat ini, Yo?” duduk menyandingi.

“Kayaknya tigapuluh tahunan, Yu. Apa enaknya tinggal di sini kalau sudah enggak ada Emak? Yu Ndari dengar sendiri kan, namaku sudah jadi apa di sini? Gombal mukio,” tertawa. Menertawakan masa lalunya.

“Aah, tak usah didengar. Mereka kan cuma ikut-ikutan, tak tahu sejarahnya.”

“Oya, Mbok Baeni dimakamkan di mana? Aku ingin ziarah ke makam beliau, juga ke makam Emak sekalian,” tak menjawab pertanyaan terakhir.

“Dekat makam emak bapakmu.”

“Bapak…?” terlihat kaget.

“Iya. Duluan bapakmu perginya. Yang aku dengar, dia sakit karena terlalu memikirkan dirimu yang minggat dari rumah.”

Hampir satu jam percakapan itu mengurai semua.

* * *

Ajaib. Tubuh Mukio perlahan menyusut ketika masa lalu menggandengnya menyusuri Desa Masa Lalu. Hingga ia benar-benar menjadi seorang bocah umur limabelasan. Yang belum tergoda dengan aroma rokok. Yang begitu ingin melihat rumah kembali setelah lama bermain ke mana-mana. Betapapun masa lalu memperlihatkan kenangan-kenangan buruk.

Dibuangnya cerutu di tangan. Rindu membiru, dendam meluluh. Lelaki itu pun merasa ziarah ini sepertinya takkan cukup hanya sehari saja.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan