Lelaki Sunyi

Lelaki itu selalu berteman dengan sunyi. Padahal dia tahu, sunyi tak pernah memberi suatu hal yang berarti dalam hidupnya. Bahkan tak jarang sunyi sering menertawakan tingkah polahnya yang membuat banyak orang tak mengerti. Dia memang lelaki misterius.

Pagi itu, ketika matahari belum lagi bangkit dari peraduannya, kutemui sosok kurus lelaki itu di antara nisan di taman pekuburuan dekat bungalaw. Dia berjalan di antara rimbunnya rumput yang masih basah oleh titik air embun yang turun dari langit. Seperti ada yang dia cari, tapi tak pernah kutahu apa yang dicarinya itu.

Dan ketika dia tahu aku mengikuti langkahnya dari belakang, dia hanya tersenyum tipis, tanpa makna. Bahkan lelaki itu seperti membiarkan aku mengamati gerak-geriknya yang membuatku semakin penasaran.

Aku baru berhenti mengikuti langkahnya yang tertatih ketika dia berdiam pada sebuah nisan tak bernama. Lama dia mematung menatap gundukan yang basah oleh titik-titik air embun itu. Dinginnya angin pagi yang menusuk tulang tampaknya tak begitu dia hiraukan. Dia tetap membisu di atas pusara yang entah milik siapa. Sementara, nun, di antara ranting-ranting pepohonan terdengar kicau murai yang berdendang merdu.

Aroma kembang kamboja harum menyeruak di sekitar alam. Ada kerinduan di mata lelaki itu menatap pusara yang membatu. Angin berdendang, rumput bergoyang. Menghadirkan birahi alam yang membuncah di dadanya. Aku ikut membisu ketika lelaki itu merendahkan tubuhnya, kemudian duduk bersila di sisi pusara itu.

Lama dia termenung menatap nisan putih yang terbuat dari batu pualam. Jemari tangannya yang kurus meraba-raba nisan yang berbentuk kubah masjid. Kurasakan getaran di dadanya yang membuncah. Ada tangis yang dia tawarkan di antara bibirnya yang pucat kedinginan.

Dan tiba-tiba, kulihat dari sisi matanya yang redup bergulir setetes butiran bening yang membentuk alur kecil di pipinya. Lelaki itu menangis. Dan aku tak tahu apa yang dia tangisi setelah lama memandang pusara di hadapannya.

Bibir lelaki itu bergetar. Seperti ada sesuatu yang hendak dia ucapkan. Sementara sayup-sayup kudengar angin bercerita tentang sosoknya yang misterius.

Pusara di hadapan lelaki itu adalah pusara kekasihnya yang telah pergi selama-lamanya. Dan jasad kekasih yang dia cintai itu selalu hadir dalam bayang-bayang mimpi dan khayalnya.

“Gadisnya menikah setelah cinta mereka tak direstui,” kata angin.

“Benarkah?”

“Ya.”

Angin mendesir lembut menampar-nampar wajahnya yang lusuh. Tapi lelaki itu diam saja. Sementara, nun, di atas sana, matahari mulai menampakkan rupa. Menebar sinar kehidupan ke seluruh jagat raya.

Sinar matahari yang berwarna merah kekuningemasan itu memancar di sela-sela pucuk daun kamboja. Sekali-sekali sinarnya menerpa tubuhnya yang dekil, kotor berdebu, sebab berhari-hari tak membersihkan diri. Tapi, lagi-lagi lelaki itu diam membisu tanpa peduli semuanya.

“Lelaki itu terlibat sebagai anggota pemberontak yang menentang negara. Ayah kekasihnya adalah aparat pemerintah. Keterlibatan lelaki itu sebagai GPK membuat cinta mereka tak pernah bersatu,” cerita angin lagi.

Merinding aku mendengar cerita angin. Tak kusangka kalau lelaki itu bekas anggota Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), yang akhir-akhir ini semakin merajalela di kampungku. Mereka menuntut berpisah dari Republik. Membentuk negara sendiri.
Banyak cerita tentang orang-orang yang mati di kampungku. Mati karena dibunuh. GPK dan aparat pemerintah saling baku tembak. Bunuh-membunuh. Tapi yang selalu menjadi korban selalu rakyat sipil yang tak berdosa.

“Ketika lelaki itu tahu kekasihnya akan menikah, betapa hancur perasaannya. Dia bertekad menggagalkan pernikahan itu.”

“Lalu, apa yang diperbuat lelaki itu?” tanyaku penasaran pada angin.

“Dia berniat melarikan kekasihnya,” jawab angin.

“Berhasilkah?”

“Tidak!”

Angin diam sejenak. Hawanya yang sejuk menerpa wajahku dan wajah lelaki itu. Rambutku yang panjang meliuk-liuk ditiup angin. Angin juga menjatuhkan daun-daun kamboja yang telah menguning. Suara angin yang gemerisik menambah sendunya suasana di pagi itu.

Aku juga diam. Menunggu angin kembali bercerita tentang sosok lelaki itu. Kupalingkan wajah menatap tubuh lelaki yang masih asyik menatap gundukan basah di hadapannya. Kulihat bibirnya komat-kamit. Entah apa yang diucapkannnya.

“Ketika terjadi peperangan di hutan sebelah utara, lelaki itu tertembak kakinya. Dia ditangkap aparat, kemudian ditawan berhari-hari lamanya,” cerita angin lagi.

Aku semakin serius menyimak cerita angin.

“Gadisnya menikah dengan seorang aparat yang tak dicintainya. Tapi pernikahan itu tak berlangsung lama, sebab gadis yang dicintai lelaki itu bunuh diri.”

“Bunuh diri?” Aku kaget.

“Ya.”

Aku tercenung mendengar penuturan angin. Tak kusangka, demi sebuah cinta, gadis yang dicintai lelaki itu bunuh diri.

“Lalu, bagaimana dengan lelaki itu?” desakku pada angin.

“Mendengar kekasih yang dicintainya bunuh diri, iman lelaki itu goyah. Malam itu, di ruang tahanannya, dia berniat hendak mengakhiri hidupnya juga.

Lelaki itu membentur-benturkan kepalanya ke dinding sel tahanan hingga berdarah. Namun niatnya untuk bunuh diri berhasil digagalkan aparat penjaga tahanan. Sosoknya yang lemah dilarikan ke rumah sakit. Tapi sayang, syarafnya rusak. Dan akhirnya… dia gila!” kata angin.

Aku menahan napas. Langkahku surut ke belakang. Bersamaan dengan itu lelaki itu menoleh menatapku dengan tajam. Tubuhku gemetar. Jangan-jangan lelaki itu akan berniat buruk terhadapku. Tapi pikiran itu cepat-cepat kuhilangkan. Kubalas tatapan liar lelaki itu dengan senyum.

Perlahan tampak kelopak mata lelaki itu meredup. Dia pun tersenyum, tapi tak lama. Kemudian dia menjerit histeris sembari memukul-mukul tanah pekuburan yang mulai mengering diterpa panas sinar matahari.

Melihat tingkah polah lelaki itu aku tak dapat berbuat apa-apa. Sebagai wanita, walau dia gila, aku turut merasakan kependihannya. Kubiarkan lelaki itu menumpahkan semua isi hatinya. Pada tanah, pada angin, pada pepohonan, dan pada sunyi yang selalu menemani hari-harinya.

Perlahan kumelangkah meninggalkan sosok lelaki kurus di atas pusara kekasih yang dicintainya. Hari semakin tinggi, dan aku harus kembali pulang. Aku tak berniat mengganggu ketenangan lelaki yang selalu berteman dengan sunyi. Kubiarkan semuanya ia nikmati.

***

Seminggu semenjak peristiwa itu, tak lagi kutemukan sosok lelaki kurus yang selalu datang ke pekuburan dekat bungalaw. Dia seolah hilang ditelan bumi. Raib tak berjejak dan tanpa meninggalkan kabar berita.

Sunyi yang selalu menyeruak di taman pekuburan semakin sunyi tanpa sosok lelaki itu. Pusara kekasih lelaki itu pun tetap diam membisu bersama waktu yang terus meranjak menapaki hari-hari.

mungkin embun yang berkata
pada rumput yang basah
dan pada tanah yang lembab
tentang sunyi yang menyeruak
di antara pusara yang menyimpan
misteri jasad-jasad rapuh di lahatnya…

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan