Tiara

images

Tiba-tiba aku menjadi perempuan. Tubuhku tubuh perempuan. Mata, hidung, rambut, mulut, dada, kelamin, semua milik perempuan. Oh, tidak, Tuhan! Kenapa aku jadi begini? Bukankah aku terlahir sebagai seorang laki-laki?

Aku baru saja bangun tidur ketika kudapati tubuhku tubuh perempuan. Aku mengenakan piyama halus tembus pandang. Aku berada di sebuah kamar tidur. Di dindingnya yang berwarna pink, menempel foto-foto perempuan. Ada wajah artis Korea, bintang India, beberapa selebritis Indonesia berwajah blasteran. Di sudut ruang ada meja rias, lengkap dengan berbagai alat kosmetiknya. Di bawah jendela terletak vas bunga, ditanami dahlia kertas.

Spontan aku bangkit dari ranjang menuju kaca rias. Kulepaskan piyama. Aku telanjang. Oh, tidak! Hampir saja aku pingsan memelototi tubuh polosku di cermin. Aku tergoda pada tubuhku sendiri. Hasratku hasrat laki-laki.

Aku cubit kulit tanganku. Jangan-jangan aku bermimpi. Tapi cubitan itu rasanya sakit sekali. Membekas dan berwarna merah. Berarti ini nyata. Bukan mimpi. Aku benar-benar menjadi perempuan. Sungguh tak pernah aku bayangkan.

Di cermin rias aku berdiri mematung dengan mulut menganga. Wajahku wajah seorang gadis remaja usia 17 tahun. Cantik. Rambutku tergerai sepinggang. Direbonding. Bibirku tanpa lipstik, tapi merah merekah. Tanganku gemetar meraba kulit tubuhku yang lain. Aku merasakan gejolak tak wajar. Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi!

Tiba-tiba kudengar suara ketukan dari arah pintu. Aku terkejut. Cepat-cepat aku sambar piyama yang kukenakan tadi. Aku bungkus tubuhku kembali.

“Lho, kok belum mandi, Tiara? Tuh, Papa sudah menunggu sejak tadi.” Wajah seorang perempuan, sekira 40an tahun, memandangku heran. Wajahnya cantik. Di tangannya membawa baki berisi secangkir teh dan sepotong roti. Tanpa permisi dia masuk ke kamarku dan meletakkan sarapan itu di meja kecil, di bawah jendela.

Aku masih mematung. Siapa perempuan ini? Kenapa dia memanggilku dengan nama Tiara? Aku pandangi perempuan itu sepenuh heran.

“Kamu kenapa, sayang? Kok masih diam begitu? Ayo, cepat mandinya, nanti terlambat lagi ke sekolah. Tuh, sarapan sudah Mama siapkan.”

Oh, dia menyebut dirinya Mama. Benarkah dia mamaku? Sejak kapan aku mempunyai seorang mama yang cantik seperti dia? Bukankah aku… ah, kenapa aku sulit sekali mengingat siapa diriku sebenarnya? Aku merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada diriku. Ya, aku yang sekarang bukanlah aku yang diciptakan Tuhan.

“Jangan sampai Mama mandikanmu, Tiara? Kau sudah besar. Bukan gadis kecil lagi. Ayo, cepatlah mandi. Lihat jam sudah pukul 6.30. Cepatlah!”

Aku tatap jam dinding di sudut kamar.

Perempuan itu mengambil handuk. Menggantungkan handuk itu di pundakku. Aku rasakan dorongan tangannya agar aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Dalam kondisi diri kebingungan, aku masuk juga ke kamar mandi. Aku kunci pintu dari dalam. Di depan bak air, aku kembali mematung.

Di cermin datar yang menempel di atas bak mandi, aku tatap wajah dan tubuhku lagi. Yang kelihatan, tetap saja wajah dan tubuh perempuan. Ini nyata. Untuk kesekian kali, aku tergoda dengan tubuhku sendiri. Oh, ini gila!

Aku tidak peduli lagi pada diriku, siapa sebenarnya aku. Cepat-cepat aku mengguyur tubuh dengan air. Menggosokkan sabun ke sekujur daging di tubuhku. Membasahi rambut, hingga prosesi mandi itu selesai.

Aku lihat perempuan yang menyebut dirinya Mama itu masih berada di kamarku. Ia tersenyum. Di ranjang, aku lihat baju putih dan rok abu-abu. Kedua pakaian itu rapi terlipat.

“Nah, itu baru anak Mama. Segar bukan sehabis mandi?” Dia tersenyum. Dan, dengan terpaksa aku balas senyumnya. Senyum tanpa makna. Sebab sampai detik itu aku tidak juga mengenal diriku sendiri.

Tanpa disuruh lagi aku kenakan pakaian. Di saku baju menempel lambang Tut Wuri Handayani. Oh, aku seorang siswi sekolah menengah. Tapi sejak kapan aku bersekolah? Entahlah. Beberapa menit kemudian tubuhku berbungkus pakaian anak sekolahan. Mama membantu menyisir rambutku yang basah tergerai. Juga merapikan lipatan kerah baju.

“Hmm, anak mama cantik sekali,” gumam perempuan itu. Aku diam.

Setelah meneguk teh hangat dan memakan sepotong roti, aku ikuti langkah Mama. Aku temui sebuah ruangan besar di luar kamar. Oh, ini rumah orang kaya. Perabotannya banyak dan mewah. Lukisan besar-besar tergantung di dinding. Foto keluarga dengan bingkai berwarna emas hampir terdapat di setiap sudut. Sofa besar dan empuk. Layar kaca LCD. Juga ada sebuah aquarium yang di dalamnya ikan arwana berenang riang. Aku takjub.

“Hei, anak Papa pagi-pagi sudah melamun. Kau terlambat lagi bangun ya?” Seorang laki-laki setengah baya memandangku. Dia sebut dirinya Papa. Pakaiannya rapi. Berdasi. Ia tepuk lembut kedua pipiku. Aku tersadar. Aku balas senyuman itu dengan keterpaksaan.

“Sudah sarapan kan?”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, sekarang Papa antar ke sekolah.”

Mama datang membawakan dua tas. Satu tas diserahkan kepada Papa. Satu tas lagi diberikan kepadaku.

“Hati-hati bawa mobilnya, Pa. Tiara rajin belajar ya sayang?”

Mama mencium keningku. Aku mencium tangan Mama. Mama mencium tangan Papa. Aku kira, ini keluarga yang sangat bahagia.

Papa membimbingku ke luar rumah. Di halaman parkir sebuah sedan mewah berwarna hitam. Mobil keluaran terbaru, atau juga baru dibeli. Warnanya berkilat. Aku terpana.

Papa mengemudi sedan itu. Aku duduk di samping Papa. Di pintu pagar, seorang perempuan setengah baya membukakan pintu. Mobil berjalan lambat ke luar halaman.

Di jalan raya, lalu lalang kendaraan banyak sekali. Di kiri-kanan jalan berdiri gedung-gedung tinggi dan megah. Di beberapa pertokoan aku baca papan nama bertuliskan nama toko dan nama jalan. Terbaca beberapa kali tulisan Jakarta. Jakarta? Oh, inikah Kota Jakarta itu? Aku berada di tengah belantara Jakarta, Ibu Kota Negara Republik Indonesia? Aku anak seorang kaya raya yang diantar ke sekolah dengan mobil mewah? Tuhan, benarkah ini nyata? Lagi-lagi aku tidak percaya.

Mobil sampai di sebuah gerbang sekolah. Anak-anak seusiaku turun dari kendaraan-kendaraan mewah milik orangtua mereka. Aku pun turun dari mobil Papa. Papa juga turun, mengantarku hingga gerbang sekolah. Para pengantar hanya sampai di depan pintu gerbang saja, tidak masuk ke dalam.

“Papa berangkat ke kantor lagi, ya? Ingat, rajin belajar.”

Aku mengangguk dengan wajah celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan. Papa masuk kembali ke mobilnya. Katanya, Papa pergi ke kantor. Papa melambaikan tangan ke arahku. Aku balas lambaian itu.

“Hai Tiara, apa kabar? Pagi ini kamu cantik sekali.”

Seorang gadis seusiaku berseragam sekolah menyapa lembut. Ia baru turun dari mobil yang dikemudikan seorang laki-laki tua. Mungkin sopir pribadinya.

“Hai juga,” aku membalas sapaannya, “kamu siapa?”

Gadis itu melongo menatapku. Keningnya berkerut.

“Kamu sudah pikun ya, sampai tidak ingat namaku lagi?” Gadis itu marah. Wajahnya memerah. Aku salah tingkah. Di bajunya aku lihat menempel sebuah nama, Santika.

“Eh, Santika. Tidak kok, maaf ya. Aku hanya bercanda.”

Aku tersenyum kepada gadis itu. Aku lihat dia membalas senyumku dengan keterpaksaan. Untung ada nama itu.

“Kamu aneh hari ini, tidak seperti biasanya ceria,” ujarnya.

“Oh, ya? Aku biasa saja kok,” jawabku.

“Ya sudah. Ayo, kita terlambat nih,” ajaknya tergesa.

Aku ikuti langkahnya. Kami masuk ke halaman sekolah yang luas dan terlihat asing bagiku. Sejak kapan aku sekolah di situ?

***

Aku sudah berada di dalam kelas. Seorang guru laki-laki berkumis tebal berjas safari berdiri di depan kami. Aku dan kawan-kawanku duduk manis mendengar khotbah guru agama itu. Dia bicara tentang etika pergaulan muda-mudi ibu kota yang semakin parah. Mulai dari tawuran pelajar, pemakaian narkoba, gemerlapnya dunia malam, hingga praktik prostitusi tersembunyi. Semua siswa diam mendengar khotbahnya yang berapi-api. Tetapi jiwaku tak juga tenang. Gelisah. Aku masih memikirkan diriku. Kenapa semua jadi seperti ini?

Jam pelajaran hari itu berlalu dengan sangat lambat. Banyak orang menyapaku, tetapi aku pandangi dengan wajah kebingungan. Balasanku itu membuat mereka keheranan. Sepertinya mereka sangat mengenaliku.

“Tiara, kamu sakit?” tanya Sinta.

“Mana senyummu yang indah itu?” canda Dudi.

“Kamu tidak seperti biasanya, deh,” seru Ruri.

“Hei, mana Tiaraku yang manis?” goda Heru.

Ah! Bermacam tanya orang kepadaku. Apa yang harus aku jawab? Sepertinya Tuhan memberi aku peran sebagai seorang gadis  cantik anak orang kaya bernama Tiara. Sungguh aku tidak pernah menduga kalau akhirnya aku jadi seperti ini. Sebab gejolak batin yang aku rasakan adalah gejolak laki-laki. Tetapi anehnya aku tidak juga dapat mengingat diriku sendiri.

Bersama kawan-kawan lainnya aku tinggalkan kelas lantaran jam sekolah telah usai. Aku saksikan senyum kawan-kawanku yang gembira di hari itu. Aku paksakan berjalan sendirian tanpa teman-temanku yang lain. Aku terus ke luar pintu pagar sekolah yang bertembok tinggi.

Di luar aku saksikan mobil-mobil bagus parkir berbaris menjemput kawan-kawanku. Bermacam orang aku lihat, hampir semuanya berdasi dan berpakaian rapi. Agaknya orangtua kawan-kawanku itu orang kaya semuanya. Pantas kalau anak-anak mereka dimasukkan ke sekolah yang mewah ini.

Aku menunggu Papa. Tapi kenapa Papa tidak muncul-muncul juga menjemputku? Ke mana mobil mewah Papa? Bukankah Papa tadi pagi mengantar aku ke sekolah ini? Atau Papa lupa sehingga aku harus pulang sendiri ke rumah? Tapi di mana rumahku? Oh, Tuhan. Apa lagi yang terjadi ini?

Aku menunggu dengan penuh kecemasan. Berharap Papa benar-benar tidak lupa dan segera datang menjemputku lalu aku naik ke dalam mobil mewah miliknya. Tapi hingga sejam lebih aku menunggu tidak ada tanda-tanda kalau aku akan dijemput.

Mataku mulai basah. Dalam kegelisahan aku palingkan wajah ke belakang. Aku sangat terkejut, tiba-tiba aku tidak melihat lagi gedung sekolahku. Aku berdiri di pinggir jalan dengan pemandangan hamparan tanah lapang luas. Di mana gedung sekolah tempat aku belajar seharian tadi? Ke mana menghilangnya? Kenapa aku berada di tepi jalan raya yang teramat asing ini?

Kedua lututku menggigil. Rasa takut menghantui sekujur tubuhku.

Dalam keadaan kebingungan, tiba-tiba muncul sebuah mobil sedan berwarna hitam berkilat berjalan pelan mendekat ke arahku. Aku mengingat-ingat mobil siapa itu. Rasanya aku mengenal mobil itu. Ya, mobil itu mobil Papa yang mengantar aku ke sekolah pagi tadi. Papa menjemputku. Tak salah lagi. Wajahku merona senang. Aku akan selamat dari ketakutan.

Mobil hitam itu berhenti tepat di hadapanku. Sesaat mobil itu mematung. Aku tak bisa melihat tubuh Papa di dalam mobil karena kacanya hitam. Tiba-tiba pintu mobil terbuka. Keluar dua orang laki-laki berbadan kekar, berjaket hitam dan berkacamata hitam. Kedua laki-laki itu sangat asing dan tidak pernah aku lihat sebelumnya. Mereka bukan Papa yang mengantar aku ke sekolah. Oh, siapa mereka?

Kedua lelaki itu mendekat ke arahku. Tanpa berbicara sepatah kata pun mereka mencengkram lenganku lalu menariknya keras agar aku masuk ke dalam mobil. Aku meronta-ronta. Cengkraman tangan itu sangat sakit aku rasakan. Aku menjerit histeris. Tapi entah kenapa suaraku seolah tidak terdengar oleh orang-orang yang berlalu lalang di trotoar ataupun kendaraan-kendaraan yang melintas di jalan raya. Sepertinya orang-orang di sekitarku tidak memerhatikan kalau aku diseret paksa oleh kedua lelaki asing itu.

“Aduh, sakit, Om! Om berdua ini siapa? Aku tidak kenal kalian! Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut!!!” Suaraku melengking minta dilepaskan. Tapi agaknya hanya angin saja yang mendengar.

Aku terus berteriak, meronta-ronta. Air mata membasahi kedua pipiku. Tetapi para lelaki itu tetap saja tidak peduli. Semakin aku meronta semakin keras tarikannya. Sampai di mulut pintu mobil aku didorong masuk dan terduduk di jok belakang. Di dalam mobil, menunggu seorang lelaki berbadan kekar lainnya. Jumlah mereka empat orang. Satu orang duduk di depan sebagai pengemudi, dan dua orang yang menarikku tadi. Ke empat wajah mereka tidak kukenal sama sekali. Oh, Tuhan. Mereka mau apa?

Di dalam mobil aku terus menendang-nendang dan berteriak-teriak. Orang-orang itu tidak peduli. Semuanya membisu. Tubuhku dijepit tubuh dua lelaki kekar yang duduk di kiri-kananku. Aku nyaris tak bisa bergerak dan bernapas. Aku berteriak sekuat tenaga, tetapi percuma. Tak ada orang yang memerhatikan aku, apalagi hendak menolongku di dalam mobil itu.

Aku dibawa entah ke mana. Daerah yang aku lewati benar-benar asing. Belantara kota dengan gedung-gedung menjulang tinggi, mencakar langit. Jalan yang dilewati bukan jalan yang tadi pagi aku dan Papa tempuh ke sekolah.

Tiba-tiba mobil berjalan pelan. Aku lihat pemandangan padang rumput luas. Di kejauhan tampak sebuah bangunan tua. Mobil menuju bangunan itu. Tangisku mulai reda. Perasaanku bukan lega, tetapi aku kehabisan air mata. Jantungku semakin berdegub kencang mengingat apa yang akan terjadi.

Mobil berhenti tepat di depan bangunan tua dengan pintunya yang tinggi dan tertutup rapat. Ke empat lelaki bertubuh kekar turun. Tubuhku diseret paksa. Tergopoh-gopoh aku turun. Aku dibawa masuk ke dalam bangunan itu. Ruangan gelap. Cahaya matahari hanya masuk lewat lubang-lubang atap yang bocor.

“Lepaskan aku, Om! Aku mau diapakan?!” teriakku meronta.

Ke empat lelaki itu tak juga bersuara. Mereka terus menyeretku masuk ke dalam gedung melewati ruang-ruang yang zig-zag. Aku merasakan ruangan itu teramat panjang dan berliku-liku dan tak berujung. Tetapi aku tetap dipaksa berjalan. Ke empat lelaki itu baru berhenti menyeret tubuhku ketika kami sampai di sebuah ruangan yang lebar, disinari sebuah bohlam redup berwarna kuning. Ruangan itu temaram. Tumpukan kertas kardus dan koran bekas berserakan di mana-mana. Jaring laba-laba hitam bergantungan di langit-langit ruangan, menambah suasana mencekam.

Tiba-tiba tubuhku didorong paksa dan aku tersungkur ke atas tumpukan kardus di lantai. Aku menjerit keras lantaran terkejut dan sakit. Tas punggung yang aku kenakan dilepas paksa. Ke empat lelaki itu tiba-tiba berubah wujud menjadi serigala buas berwajah menyeramkan dengan gigi dan taring tajam. Tubuhku diterkam dan dicabik-cabik. Berdarah-darah. Percikan darah membasai lantai dan dinding-dinding kusam di ruangan itu.

Kejadian itu begitu cepat. Aku menemukan tubuhku menjadi mayat. Apakah aku masih seorang perempuan?

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan