Puspita

Lelaki itu duduk di teras. Ia meregangkan tubuhnya sambil memandang ke arah taman. Seksama diperhatikannya pot demi pot dengan bermacam jenis bunga. Hening. Derap langkah mendekatinya. Gadis itu langsung duduk saja di sebelah si lelaki. Matanya ikut melihat taman. Lalu ia memecah keheningan dengan membuka kata. Pura-pura bertanya. “Itu adikmu ya?”

“Ya,” jawab si lelaki. Sedangkan, si adik kecil itu hirau, asyik bermain tanah di taman.

“Kenapa kau tak ikut?.” Lalu si lelaki mengeryitkan dahi tak mengerti. Si gadis segera menyadarinya. “Maksudku, kenapa kau tak ikut bermain dengannya?.”

“Oh, aku lebih suka melamun di sini. Melihat bunga-bunga itu.”

“Bunga yang mana?,” tanya gadis itu bingung. Di taman itu ada lebih dari satu jenis bunga. Dengan jumlah yang banyak namun dengan warna yang sama.

“Tak ada.”

“Maksudmu?.”

“Ya, tak ada bunga di taman ini yang aku beri perhatian.”

Si gadis semakin bingung. Padahal tadi lelaki ini bilang lebih suka melihat bunga daripada bermain bersama adiknya. Sekarang ia bilang tak ada bunga di taman ini yang mendapat perhatiannya. Sedikit menghiraukan gadis itu mengubah haluan pembicaraan. “Lantas, kenapa kau suka bunga?.”

“Aku tak tahu awalnya mengapa.”

“Mengapa?.”

“Kalau kau ada waktu, aku akan cerita.”

Lelaki itu bersoloroh saja dengan ceritanya. Sepertinya ia juga butuh teman untuk mencurahkan isi hati. Si gadis tak menolak. Ia justru melihat tajam ke wajah si pria. Dihatinya menderu ingin bermanja. Mendengar cerita sambil rebahkan kepala di pundak sang pria. Hatinya meronta enggan lakukan itu. Hanya tersipu. Cerita pun sudah sampai pada puncaknya.

“Aku pernah menemukan sekuntum bunga,” ujar pria itu. Kala itu, di selokan depan rumah, ia menemukan sekuntum bunga. Bukan bunga biasa. Karena tidak biasa itu pulalah si lelaki rela mencelupkan kakinya di comberan. Bunga itu dibawa pulang. Berdiri tegak setelah ditanam kembali di pot. Menghiasi taman itu sekian waktu.

“Apanya yang tak biasa?,” ujar si gadis penasaran.

“Iya. Sungguh unik. Sebelumnya tidak pernah melihat.”

“Tapi bunga itu sepertinya bukan anggrek,” ujar si lelaki. “Aku mengenal anggrek,” seloroh si gadis. Lalu ia bicara panjang lebar tentang anggrek. Terkadang sambil melontarkan pertanyaan adakah kesamaan ciri bunga milik pria itu dengan anggrek. “Tahukah kau, anggrek adalah simbol cinta, kemewahan, dan keindahan?.” Lelaki itu berpikir sejenak lalu menjawab, “aku tak tahu. Kurawat saja bungaku itu.” Dari mulut si gadis kembali terdengar rangkaian kata. Ia menjelaskan bangsa yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan. Dan bangsa tiongkok percaya aroma anggrek berasal dari tubuh kaisar mereka. Jika anggrek muncul di mimpi seseorang, hal itu dipercaya sebagai simbol dari kebutuhan akan kelembutan, romantisme, dan kesetiaan. Bahkan anggrek jadi bahan baku utama dari ramuan cinta. “Begitu dahsyat bukan?,” ujar si gadis.

Kata-kata gadis itu membenam di dalam benak si pria. Pikirnya, aku tak mengerti arti cinta. Aku bukan pecinta. Tapi kupastikan, bunga selalu dirawat. Aku bagai hamba yang mengabdi pada paduka kaisar. Wanginya membuat aku tertunduk sembah. Aku pun merasa lebih jantan dari sebelumnya ketika hanya melihat saja bunga itu. Tiap malam selalu kuimpikan bungaku itu. Apa ya istilahnya? Cinta? Sayang? Tak perlu sepertinya. Aku hanya rela saja merawat bunga itu.

“Aku tak mengerti apapun tentang bunga.” Si pria membalas. Ia sempat menganggap gadis ini sok tahu. Tapi si pria itu sadar bukankah gadis itu datang untuk mendengarkan curahan hatinya. Angin lalu. Si pria kaku. Gadis itu telah memecah keheningan. Membuyarkan lamunan, mengobati rindu pada bunga itu. Lalu si lelaki coba mengembalikan suasana ke kondisi semula. Menjadi lebih hangat. “Nah, ceritakan tentang mawar?.”

“Apakah bungamu itu mawar?.”

“Mungkin saja. Aku tidak tahu seperti apa mawar.”

“Baiklah.”

Dalam mitologi Yunani, mawar dianggap suci untuk beberapa dewa seperti Isis dan Aprodite. “Dari budaya barat, kita mengenal mawar sebagai cinta dan kecantikan,” imbuh si gadis. Bahkan di Inggris mawar dijadikan bunga nasional. Di Kanada, bunga mawar liar merupakan bunga provinsi Alberta. Di Amerika Serikat, bunga mawar merupakan bunga negara bagian Iowa, North Dakota, Georgia, dan New York. “Mawar merupakan lambang dunia!,” teriak gadis itu lantang bersemangat. Pada peristiwa Revolusi Mawar tahun 2003 di Georgia, bunga seribu mahkota itu dijadikan simbol anti-kekerasan.

“Sampai segitunya,” ujar pria itu berseloroh. Hening sejenak.

Si gadis tak begitu menghiraukan. Kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Kau akan terkejut nanti.”

Gadis itu semakin bersemangat berceloteh.

“Kau tahu jumlah tangkai mawar saja memiliki arti?,” ujarnya.

Sang pria hanya menggeleng.

Begini, jumlah tangkai mawar bisa melambangkan sesuatu. Biasanya untuk menyatakan seberapa besar cinta. Satu tangkai berarti cintaku hanya untukmu seorang. Dua tangkai, kau dan aku saling mencintai. Tiga tangkai, aku cinta kamu. “Semakin banyak, semakin kuat maknanya.” 100 tangkai, jadilah pasangan yang mengasihi sampai lanjut usia. 144 tangkai, mencintaimu pagi hingga malam selama-lamanya. 365 tangkai, memikirkanmu setiap hari, mencintaimu setiap hari. Hingga 1001 tangkai yang melambangkan cinta selamanya.

“Banyak sekali.”

“Memang.”

“Aku hanya punya setangkai.”

“Tak masalah. Itu pun sudah ada makna.”

“Tapi, aku merasa memaknainya lebih dari seribu satu tangkai.”

“Cinta selamanya?”

“Cinta sepenuhnya.”

Si gadis terdiam. Pria itu kembali melamun.

Setelah 7 menit berlalu. “Sekarang kau ceritakan tentang lebah?”

Senyum terlempar dari si gadis. Ia merasa dimanja dengan tanya dari pria itu. Tanpa ragu, segera menjelaskan. “Sederhana saja, tanpa bantuan organisme, tidak akan terjadi penyerbukan.” Pria itu menganguk-angguk merasa lebih paham. “Sudah beberapa hari itu, lebah tak berkunjung.” Bunga terhadap lebah bagai putik dengan benang sari. Mereka bagian dari kehidupan bunga. “Apakah aku juga?,” tukas si pria.

Gadis itu terjebak dalam sepi. Begitu besar cinta pria ini pada bunga, pikirnya. Setelah mengusap sesuatu dari kelopak matanya. Mungkin sedikit buih air mata. Pria itu kembali membuka mulut. “Bagaimana dengan tanah?.”

“Media tanam. Tempat hidup. Dunianya bunga,” singkat si gadis.

“Pantas, tanahku sudah kering.”

“Kenapa tak kau beri air?”

“Memang ada apa dengan air?”

“Yah, payah!” si gadis meledek. Pria itu tak mengerti. Si gadis segera menyadarinya. “Maksudku, kenapa kau tak menyiramnya. Kesuburan tanah bisa terjaga. Bisa jadi bungamu akan lebih indah. Jika perlu, kau guyurkan pupuk di tanah!”

“Aku selalu menyiramnya. Kutimba air dari sumur lalu kuangkat ke sini. Jika sumur kering, aku lari ke selokan. Badanku kotor dan bau tak jadi soal. Yang terpenting, bungaku terbasahi. Segar kembali. Tanahku tak kering. Tak layu lagi.”

Sementara itu, si gadis terlihat gugup. Ia duduk tak nyaman. “Kenapa denganmu?,” tanya si pria melihat keanehan itu. “Apa warna bungamu?,” balas gadis itu. Si pria merasa ada yang tak nyambung. Si gadis justru mengajukan pertanyaan lain. Ia tak menggubris seperti mengelak dari pertanyaannya. Tapi si gadis buru-buru berkata kembali, “Aku paham makna warna-warna pada bunga.”

“Biru,” jawab si lelaki.

“Tak mungkin. Biru muda?”

“Bukan. Hanya biru”

“Aku tak tahu ada warna biru.”

“Kupikir kau becanda. Seingatku tak ada warna biru. Di mawar saja, merah lambang cinta romantis. Putih, kesucian dan rahasia. Merah jambu, keanggunan dan kelembutan. Kuning, persahabatan dan kegembiraan. Jingga, hasrat dan semangat, cinta yang mulai tumbuh. Tak ada warna biru,” jelas gadis itu.

“Tapi aku ingat, bunga itu bermahkota biru.”

“Apakah kau merasa kehilangan? Seperti aku kehilangan makna warna biru.”

“Bisa jadi.”

“Jadi warna itu tinggal kenangan? Mengapa kau tak memanamnya lagi?”

“Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena aku takkan menanam bunga yang telah layu.”

Si gadis menatap heran. Ia tak mengerti. Seharusnya bukankah pria itu bisa menanamnya lagi. Lelaki itu hanya menatap taman yang penuh dengan bunga putih. Namun setelah berpikir beberapa saat, si gadis baru mengerti.

Tiba-tiba langit mendung. Suasana sedikit temaram. Romantis.

Titik-titik gerimis menyirami. Sejuk rasanya. Tercium aroma wangi tanah.

“Dan sekarang inginkah kau memiliki bunga lagi?”

“Tentu saja.”

“Benarkah?”

“Benar. Kenapa tidak.”

“Jika ada bunga berwarna biru, benar mau?”

“Yakin. Mau.”

“Kau tahu namaku Puspita?”

“Iya. Aku tahu.”

“Tahukah kau maknanya?”

“Tidak. Memangnya?”

“Puspita itu bunga. Sekarang jadikan aku bungamu.”

Seketika si lelaki mengalihkan pandang dari taman. Bola matanya haru menatap tajam ke gadis bergaun biru itu.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan