Antara Aku, Kamu, dan Suamimu

5122901

“Selamat pagi, Jeng…”
Ah, dia lagi!
“Pagi!” aku memaksa senyum. Tak berselera sebenarnya untuk melakukannya. Tapi aku tak ingin menarik perhatiannya. Jadi, aku senyum saja, agar ia biasa saja. Tak banyak mendengar pertanyaan darinya selalu lebih baik. Karena dia takkan berhenti melakukannya, seakan seperti ingin menguliti bersih-bersih. Seperti polisi menanyai pencuri. Dia senang bertanya dan senang pula menjawab. Kadang dia melakukannya tanpa pertanyaan sebelumnya. Begitulah dia, harus ada jawaban untuk pertanyaannya, sebagaimana dia senang memberi jawaban, meski tak ada pertanyaan untuknya.

“Ini, semalam ke butik! Aku tak berminat sih, sebenarnya. Tapi bapaknya Nisa mengatakan, sepertinya cocok buat kamu, Ma! Aku bilang, Papa ada uang?”
Nah, dia sudah mulai berceloteh sambil mematut pakaiannya. Jadi itu pakaian baru? Dan langsung dipakainya pagi ini? Hmmm…menunggu lebaran hanya untuk memakainya memang akan terlalu lama. Apalagi untuk memamerkannya.
“Aku sedang ada rejeki, Ma! Ya, sudah, aku ambil untuk menyenangkannya. Apa susahnya sih, nurutin suami yang ingin menyenangkan istrinya?” imbuhnya sambil mengerling dan tersenyum lebar. Aku mengangguk dan kembali mengangsurkan sedikit senyum lagi. Apa susahnya untuk menyenangkan dia yang semalam sudah disenangkan suaminya.
Celotehannya mendapat sedikit senyumku. Tapi

tidak dengan dua anak kecil itu. Satu dalam gandengan tanganku dan seorang lagi bersamanya. Keduanya hanya memandangnya tanpa ekspresi. Entah apa yang dirasakan keduanya? Kagum, heran atau aneh? Aku tak tahu, dan biar saja mereka pada rasa masing-masing.

“Menurut Jeng bagaimana, apa ini memang kelihatan cocok untuk saya?”
Benar kan? Sebelum kukatakan sesuatu untuk memuaskannya, maka ia akan menanyakan itu lagi nanti. Tentu saja dengan mengganti pertanyaannya.
“Saya rasa sangat cocok, Mbak! Sesuai trend dan perawakan Mbak, saya pikir suami Mbak sangat berselera dan mengerti yang terbaik untuk istrinya!” ujarku. Dia tersenyum, dan sepertinya puas.
“Ah, Jeng bisa saja!” katanya sambil tersenyum merendah. Entah senyum merendah atau bergaya merendah. “Masa iya sih?”
Nah, kan, belum puas? Apa coba’?
Aku mengangguk untuk meyakinkannya.

Kali ini sepertinya cukup untuk membuatnya terpuaskan. Buktinya dia mulai beringsut untuk menggandeng anaknya memasuki pintu gerbang, melewati halaman yang tertutup paving, menuju sebuah kelas. Jalannya sudah tipikal benar cara peragawati menyusuri catwalk. Wajahnya diterpa kilatan-kilatan cahaya pandangan anak-anak TK dan Ibu-ibu atau Bapak-bapak yang mengantar anak masing-masing yang sudah lebih dulu memenuhi halaman didepan kelas itu. Bukan kilatan cahaya blitz kamera.

Amel berjalan riang disampingku. Bergandengan tangan dengan Nisa, anak dari wanita itu. Keduanya nampak riang dan saling berbicara atau tertawa. Kegembiraan dan kegembiraan yang mewarnai suasana yang tercipta yang tercipta pada keduanya setiap pagi. Saat bertemu dipintu gerbang.

Berbeda dengan kedua ibu masing-masing jika bertemu. Yang satu mengantar putrinya menuju tempat belajar membuka mata pada dunia, sampai suatu ketika putrinya sudah cukup berani untuk berangkat sendiri. Sementara yang lain melakukan yang kurang lebih sama, sekaligus memanfaatkannya sebagai sarana untuk mencari sebuah aktualisasi. Entah, mungkin untuk sebuah pengakuan yang berangkali memang sangat penting bagi dia.
Jadi, suasana yang tercipta sama sekali berbeda dengan kedua anak itu. Yang satu menanti pertemuan itu, sementara satu yang lain merasakan ketidaknyamanan dengan pertemuan itu.

Matahari mulai meninggi perlahan-lahan. Ketika murid-murid TK itu semuanya masuk kelas untuk memulai belajar bergembira, komunitas pengantar diluar pun memulai ‘kelas’ pagi mereka. seperti yang sudah terjadi. Mereka menjadi beberapa gerombol. Ada juga beberapa yang memilih diam sendiri-sendiri.
Wanita itu belakangan lebih suka untuk men

gajakku berdua saja. Aku sebenarnya lebih suka berkumpul bersama, dan berbicara dengan wajar. Tapi selalu saja dia mengajakku menjauh dari mereka untuk mendengarnya mengoceh. Tak seperti awal mula beberapa bulan lalu, ia bahkan tak pernah menegurku. Tapi tiba-tiba ia mulai menegurku dan meninggalkan yang lain. Aku tak tahu apakah ia yang tak suka dengan mereka atau mereka yang bosan dengan gayanya, lalu tak memperhatikannya. Aku sendiri bosan sebenarnya, tapi aku tak ingin memperlihatkannya. Aku tak keberatan selama ia tak merugikanku.

Lain pagi, lain pula yang dibicarakannya. Pagi ini ia lebih banyak bertanya tentang diriku. Aku tak menyukai ini. Tapi aku tak tahu kenapa ia merasa harus tahu banyak tentang diriku, Amel, suamiku, dan semuanya. Ia ingin menyulitkanku barangkali.
“Saya yakin kalau berdandan, Jeng ini cantik!” celotehnya. Aku tersenyum saja seperti biasa. Berharap ia tak bertanya lagi. Topik pembicaraannya memang selalu berbeda, tapi ujungnya sama, ia senang menonjolkan dirinya.
“Jangan terlalu cuek lho, Jeng! Nanti suami Jeng cari pemandangan lain lho!”
Bicara apa dia? Ah, dia mulai mengada-ada. Membicarakan sesuatu yang tak jelas ujung pangkalnya. Ia mengajak bicara atau menghasut, sih?
“Menurut Mbak, saya harus bagaimana?” aku bertanya saja. Memberinya kesempatan untuk menunjukkan hegemoninya padaku.
“Jeng harus membuat suami Jeng betah dirumah, Jeng harus selalu tampil cantik didepannya!” ujarnya sembari menampilkan bahasa tubuh yang seolah mengatakan, “Seperti saya ini lho!”
Aku tersenyum saja. Aku tak tahu apa ia berpikir apa yang dibicarakannya penting untukku.

Berdandan? Tampil cantik? Dia tak tahu, apapun yang kulakukan tetaplah hanya akan membuat laki-laki tua itu datang padaku seminggu sekali. Membuatku merasa hidup dan cinta untuk semalam saja. Membuat Amel merasakan bahwa ia mempunyai ayah hanya di Kamis sore, hingga Jum’at pagi ketika ia memakai sepatu mungilnya dan berkata, “Amel berangkat dulu, Yah!”
Setelahnya, aku dan Amel hidup dalam bayang-bayang. Bahwa aku mempunyai suami dan Amel punya ayah. Bayang-berupa rumah megah, yang hanya terasa hidup sehari saja dalam seminggu.
Mungkin dia punya alasan kenapa ia tak ingin su

aminya berpaling. Sedangkan aku tidak. Aku telah membuat seorang suami berpaling padaku. Tak ada alasan bagiku untuk takut suamiku berpaling pada wanita lain. Apalagi pada wanita, yang mana suaminya berpaling padaku.

“Saya lebih suka begini saja, Mbak!” ujarku kemudian. “Mbak akan membuang sia-sia uang Mbak, jika suami Mbak datang hanya seminggu sekali, dan Mbak tahu, ada wanita lain juga dalam kehidupan kalian!”
Dia mengerutkan keningnya. Aku kembali tersenyum saja.

Esoknya, dan hari-hari selanjutnya, dia mulai menjauh perlahan-lahan dariku. Bagiku itu lebih baik. Karena akan menjauhkannya dari kemungkinan dia tahu, bahwa aku adalah simpanan suaminya.

Uuppssss…

 

 

 

 

 

(*)

 

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan