Pada Suatu Pertemuan

images

Lelaki itu mengenakan kemeja lengan pendek warna biru langit. Dimasukkan ke dalam celana jeans hitam yang baru saja ia ambil dari laundry. Rambutnya yang basah tersisir rapi menutupi kerah baju. Janggutnya tandus tercukur licin. Ada semerbak wangi parfum di lehernya.

Sementara baju warna abu-abu membungkus tubuh si perempuan. Dipadu dengan jeans biru kegemarannya. Rambutnya segar, seperti baru saja keramas sehabis mandi sore hari. Ada seulas lipstick tipis menyapu bibir kesumbanya. Tatapannya lembut, menandakan si pemilik mata itu penuh kasih. Ada aroma segar tercium dari tubuhnya.

Berdua mereka bertemu untuk melangsungkan santap malam. Si lelaki
masih berdiri di hadapan si perempuan. Tangan kirinya dengan cepat menggamit tangan kiri si perempuan, lantas menggenggamnya. Bibirnya mendarat di pipi kiri si perempuan. Cup! Dan si perempuan tersipu malu. Dengan punggung tangan dielusnya pipi perempuan yang putih bertelur itu.

Kini mereka duduk berhadap-hadapan. Tangan kiri mereka masih saja saling menggenggam di atas meja. Ada lampu temaram menghiasi suasana di sana. Mata mereka masih saja terus menatap. Seperti sudah puluhan tahun tak pernah bertemu. Ada kerinduan yang memuncak yang ingin disampaikan. Padahal setiap hari mereka toh tetap bertemu. Namun masih tetap saja selalu begitu.

“Kau bawa bunga untukku?”
“Ini.” si lelaki mengeluarkan setangkai kembang dan disodorkan pada kekasih hatinya itu. Si perempuan tersipu-sipu, tapi hatinya bahagia. Matanya tetap menatap lekat pada si lelaki. Seperti takut kehilangan untuk selama-lamanya. Padahal setiap hari mereka terus bertemu.
“Hai!”
“Hai!”
Lagi-lagi mereka tertawa bersama.

Tak berapa lama makanan pun tersaji mengepul di hadapan mereka. Sambil sesekali manatap piring, mereka makan dengan nikmat tiada tara. Ada segumpal kerinduan di sana. Ada secupuk cinta yang tak mungkin mereka naifkan. Mereka ingin mereguk apa yang sedang mereka rasakan. Kalau saja saat itu ada yang memperhatikan mereka, pasti akan minta barang secuil kebahagiaan yang tampak pada bahasa tubuh mereka.

“Enak?” tanya si lelaki.
“Tak pernah kurasakan yang seperti ini.”
“Itu karena kau makan bersamaku.” tukas si lelaki berkelakar.
“Aiihhh!”
Dan mereka masih terus menatap lekat dengan gigi terbuka tanda gembira. Sesekali si lelaki membetulkan letak rambut si perempuan. Menyematkannya di balik telinga. Tak jarang si perempuan pun membetulkan kerah kemeja si lelaki, serta mengusap wajahnya. Mereka tampak begitu mesra. Orang akan iri jika melihatnya.

“Kangen aku?” tanya si perempuan.
“Selalu.”
“Sungguh?”
“Tentu saja.”
“Hmmm…”
“Hmmm apa?”
“Aku senang.”
“Aku juga.”
“Kenapa kita baru bertemu sekarang?”
“Karena semesta baru mempertemukan kita saat ini”
“Kenapa tidak dari dulu. Kemana saja kau selama ini…”
“Aku ada. Begitu juga dengan dirimu. Mestinya kau memberikan sinyal, ada di mana dirimu selama ini?”
“Kau tidak mencariku.”
“Puluhan tahun aku menunggu tanda-tanda keberadaan dirimu.”
“Oh…”
Dan mereka saling mempererat genggaman tangan kiri mereka.

Setiap hari mereka bertemu. Setiap saat. Pada setiap detak jantung yang mereka rasakan. Tapi mereka tetap merindukan saat-saat berjumpa dan bertatapan mata seperti ini. Ada begitu banyak rasa yang menyeruak yang ingin mereka sampaikan. Ada kekuatan magis yang menyembul setiap mereka menyebut nama masing-masing darinya. Tapi mereka hanya bisa melakukannya dengan cara seperti ini:

Duduk menghadap layar monitor, mencurahkan ribuan kata lewat keyboard, mengirimkan tatapan sayang melalui webcam, membisikan sederet kalimat cinta melalui microphone , mendengarkan belaian rindu melalui headphones, santap malam bersama, bercerita, membaca sajak, bernyanyi, serta memeluk dan menemani tidur beralaskan jendela Yahoo! Messeger. Dimensi ruang dan waktu sudah tak berarti lagi.
Mereka tahu mereka saling mencinta, tapi kaca monitor ini…
Aahhh… Cinta Dunia Maya…

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan