Shelma Rindu Ayah…..

gadis-kecil-dengan-lilin

Malam sudah sangat larut, Shelma mendengar suara itu lagi. Suara yang terdengar dari ruang tengah. Suara yang akhir-akhir ini terlalu sering ia dengar meski ia tak ingin mendengarnya.

Shelma menyalakan lampunya. Lalu, perlahan membuka pintu, mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ayah berdiri membelakanginya, menghadap ke arah Ibu. Ibu menatap Ayah dengan wajah marah yang tak mau kalah.

“Lalu, kau pikir seorang perempuan harus berada di rumah terus-menerus? Kembali saja kau ke zamanmu kalau begitu, zaman batu!” maki Ibu.
“Ini pukul berapa Nien? Ini hampir dini hari. Apa pantas kau pulang selarut ini? Kau punya tanggung jawab sebagai ibu dan tentu kalau kau masih mau, sebagai istriku.”

“Heiii, aku sudah membereskan pekerjaan rumah, aku sudah menyiapkan makanan. Sudahlah, kau terlalu berlebihan, sesekali aku juga butuh hiburan. Menjadi istrimu ternyata tak semenyenangkan yang aku du..”

Plakkk!!!

Sebelum Ibu melanjutkan ucapannya, Shelma melihat Ayah melayangkan tangannya ke wajah Ibu. Seketika, Ayah langsung menutup wajahnya sendiri, seolah menyesal telah melakukannya.

“Berani-beraninya kau, Bajingan! Memang siapa kau, laki-laki miskin yang menumpang hidup dari harta orangtuaku. Pergi kau dari rumah ini, aku muak melihatmu….”
Shelma melihat Ayah tergugu. Lalu, dalam sekejap, Ayah berbalik, terpaku sebentar menatap Shelma, lantas berjalan menuju kamarnya.

Tak beberapa lama, Ayah keluar lagi membawa sebuah tas kecil. “Ayah!!!” Shelma menjerit. “Ayah mau kemana?”
“Kau akan baik-baik, saja peri kecilku. Jadilah gadis yang baik ya? Ayah sayang kamu…” ujarnya sambil mengusap kepala Shelma. Ada bening mengalir di sudut matanya.

Lalu, Ayah pergi. Shelma tak pernah lagi bertemu Ayah semenjak malam itu. Tahun demi tahun, rindu Shelma kepada Ayah semakin biru.

Malam ini, Shelma terbangun lagi. Kali ini bukan karena suara pertengkaran, tetapi suara cekikikan Ibu dari kamarnya. Kali ini, entah dengan siapa….

Shelma teringat Ayah. Betapa Ayah selalu ada saat Shelma tak bisa tidur. Shelma teringat dongeng-dongeng yang diceritakan Ayah. Dongeng-dongeng yang menenangkan.

Shelma melihat lilin di atas nakas. Shelma teringat akan dongeng Ayah tentang seorang gadis kesepian yang menyalakan korek api. Setiap korek api yang menyala, ia bertemu bahagia.

Lalu, Shelma menyalakan lilin, masih terdengar suara desah Ibu di kamar sebelah. Shelma menyalakan banyak lilin. Dalam setiap nyala, dia melihat Ayah. Ayah tertawa, ia pun juga tertawa. Ada rumah, juga ada Ibu. Ibu yang tak selalu pulang larut malam.

Dongeng yang Ayah ceritakan ternyata benar. Gadis dengan korek api bertemu bahagia. Shelma dengan nyala lilin juga bertemu bahagia.

Pelan-pelan, Shelma tertidur dengan tenang.
Lilin-lilin itu membakar apa saja disekelilingnya.

(*)

Iklan

Penulis: lelaki hening

karena dalam hening, selalu ada ketenangan