Sepasang Merpati Dalam Cerita

sepasang-merpati-dalam-sebuah-cerita-ilustrasi-rizka-viramadhina

 

Kita adalah sepasang merpati dalam cerita yang ditulis oleh pengarang tua itu. Pengarang yang hidupnya selalu sepi dan selalu dilanda kesedihan yang kita tahu sejak cerita tentang kita mulai ditulis. Kita tak tahu pasti apa yang menyebabkan ia kesepian dan selalu merasa sedih dalam hidupnya. Mungkin kesedihannya disebabkan oleh foto yang kini tergeletak di atas meja kerjanya. Foto seorang wanita berambut ombak yang tengah tersenyum, menggunakan gaun putih seperti dalam pesta ulang tahun dan membawa bunga mawar. Mungkin itu foto lama, karena sudah sedikit usang dan bingkainya mulai berdebu…

Setiap pagi, ketika pengarang tua itu terbangun dari tidurnya, ia akan menghampiri foto itu. Ia akan memandangi foto itu lekat-lekat dari ujung rambutnya, kemudian akan berhenti pada senyumnya, hingga akhirnya pengarang kita akan tersenyum, atau meneteskan air mata. Sesekali, ia juga akan memeluk foto itu seperti seorang ayah memeluk anaknya, atau lebih tepatnya seorang suami memeluk istrinya. Begitu juga ketika siang hari sebelum ia makan, sebelum mulai menulis, ataupun malam sebelum tidur, ia selalu memandangi foto itu dengan mimik yang hampir sama: tersenyum, atau meneteskan air mata.

Kita tak pernah mengerti benar, bagaimana sebuah foto bisa membuat seseorang merasa kesepian ataupun bersedih. Hingga suatu hari, diam-diam kita menyimpulkan bahwa wanita di foto itu adalah istrinya.

Merasa iba dengan nasib pengarang tua itu, kita berniat untuk menghiburnya agar ia tak kesepian ataupun bersedih lagi. Lalu kita membayangkan diri kita sebagai sesosok makhluk yang jenaka seperti badut misalnya, dengan hidung besar berwarna merah, dan muka yang menggemaskan. Lalu di depannya kita akan membuat sebuah pertunjukan sirkus yang tidak terlalu serius tetapi jenaka. Dan kita membayangkannya ketika pengarang tua itu tertidur pulas setelah sebelumnya ia menangis karena foto wanita yang kita simpulkan sebagai istrinya. Aku yang memulai mengatakan ide itu kepadamu sebelum kita membayangkan hal itu bersama-sama.

Namun, akhirnya kita sadar bahwa kita masih terkurung dalam cerita yang dibuat oleh pengarang tua itu. Lalu kita mengutuki diri kita sendiri karena tidak bisa membantu pengarang tua itu, dan kenapa pula pengarang itu menciptakan kita sebagai sepasang merpati dan bukan sepasang badut yang jenaka, atau sepasang badut pemain sirkus. Andaikan pengarang itu bisa secepatnya menyelesaikan kisah kita, mungkin ia akan menulis kita dalam tokoh cerita lain, dan kita berharap itu adalah cerita yang jenaka, dengan tokoh kita sebagai sepasang badut. Meskipun peluang ia membuat tokoh ceritanya sebagai badut adalah seperseribu bahkan seperjuta sekian, tapi apa salahnya jika kita berharap bahwa kemustahilan itu tak pernah ada dan yang ada hanyalah kepastian bahwa tokoh cerita yang akan ia buat setelah menyelesaikan cerita kita adalah badut yang lucu.

***

Pada suatu pagi, di hari minggu yang cerah, untuk pertama kalinya kita melihat pengarang tua itu tertawa setelah ia berbicara dengan seseorang lewat telepon. Kita berpikir ia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dari seseorang yang meneleponnya, dan hal itu membuat ia melupakan kesedihannya.

“Sayang, hari ini tulisanku dimuat di media nasional yang aku impikan dari sejak awal aku mulai menulis. Dan siang nanti aku akan dikirimi bukti terbitnya, dan seminggu lagi tukang pos akan datang mengetuk pintu rumah kita membawa honor tulisanku. Aku bahagia sekali hari ini sayangku.”

Kita melihat ia mengelus foto istrinya, tawanya hilang lalu berganti air mata.

“Andai saja kau ada di sini bersamaku, pasti kau akan ikut bahagia. Kau akan meloncat-loncat seperti anak kecil, lalu kau akan mengajakku keluar untuk jalan-jalan dan pasti aku akan mentraktirmu makan di restoran impianmu.”

Pengarang tua itu kembali tenggelam dalam kesedihannya. Kita ikut terseret dalam kesedihan, dan aku melihat matamu berkaca-kaca yang membuat mataku juga ikut berkaca-kaca. Betapa kesedihan selalu berteman air mata.

Jam sebelas limabelas, seseorang mengetuk pintu rumahnya, dan ia cepat-cepat menghapus air matanya degan lengan bajunya, lalu bergegas mendekati pintu rumahnya. Di depan pintu ia mendapati seorang tukang pos telah berdiri dan menyodorkan sebuah koran nasional yang memuat tulisannya. Setelah menemukan halaman yang memuat tulisannya, dan menghempaskan lembaran koran lainnya yang ia anggap tidak penting, ia kembali mendekati foto istrinya.

“Lihat, ini dia korannya! Aku sudah menerimanya. Aku bahagia. Kau juga harus ikut bahagia di sana melihatku bahagia. Kau juga harus ikut tertawa seperti aku hari ini.”

Ia terus saja berkata dengan nada yang menggebu-gebu dan penuh kegirangan walaupun foto itu tak pernah mengucapkan kata “selamat” kepadanya, hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur di atas meja menindih koran yang memuat tulisannya.

***

Satu minggu kemudian, ketika pengarang tua itu baru selesai makan dan memandangi foto istrinya, seseorang kembali mengetuk pintu rumahnya yang ternyata adalah tukang pos. Tukang pos itu menyodorkan sebuah amplop padanya dan ketika ia membukanya, amplop itu berisi sejumlah uang dan sepucuk surat pengantar untuk honor tulisannya.

Sore harinya, ia pergi meninggalkan cerita tentang kita sepasang merpati dan foto yang biasa ia pandangi dengan membawa isi amplop yang ia terima dari tukang pos, kecuali surat pengantarnya yang ia biarkan tergeletak di lantai. Kita tak pernah tahu ke mana pengarang tua itu pergi sore itu. Dan kita hanya tahu ia kembali tengah malam dengan langkah sempoyongan sambil meracau tidak karuan.

Ia menendang kursi, kaleng bekas makanan ringan, botol-botol bekas air mineral, dan meja kerjanya, hingga foto istrinya terjatuh dan kacanya pecah setelah menghantam lantai. Lalu ia melemparkan koran yang memuat tulisannya ke lantai dan menginjaknya dan ia memuntahkan isi perutnya di koran itu. Ia tergeletak, lalu berguling-guling di atas muntahannya. Kita begitu waswas kalau-kalau pengarang tua itu melemparkan tulisan tentang kita yang ada di atas meja kerjanya lalu menginjak-injaknya sebagaimana yang ia lakukan pada koran yang memuat tulisannya. Tapi untungnya ia tidak melakukannya, dan kita merasa bersyukur.

Esok paginya, setelah ia sadar dan mendapati foto istrinya tergeletak di lantai dengan bingkai yang berantakan, ia mencabut foto itu dari bingkainya lalu mendekapnya erat-erat dengan tanpa henti air matanya terus menetes. Dan kesedihannya semakin menjadi-jadi ketika ia mendapati koran yang memuat tulisannya telah kotor dan rusak oleh muntahannya sendiri.

Kita hanya menjadi penonton dan kembali ikut tenggelam dalam kesedihan. Kita mengutuki kesedihan-kesedihan itu sebagai sesuatu yang lebih menyakitkan dari kematian. Dan dalam kesedihan itu, kita berharap pengarang tua itu segera menyelesaikan cerita tentang kita, sepasang merpati dan kembali menulis cerita yang baru dengan tokoh sepasang badut yang jenaka.

***

Kadang-kadang sesuatu yang kita inginkan bisa saja menjadi kenyataan. Terbukti, di suatu pagi yang mendung setelah sekian lama ia tenggelam dalam kesedihan karena selembar foto, pengarang tua itu kembali menulis dan melanjutkan cerita tentang kita. Harapan kita agar penulis tua itu menulis cerita yang baru dengan tokoh sepasang badut yang jenaka sedikit demi sedikit akan menuju pada kenyataan. Walaupun apa yang kita harapkan belum tentu menjadi kenyataan.

Kita selalu berharap sesuatu yang terbaik untuk pengarang tua itu, tetapi kita tak pernah berpikir tentang nasib kita dalam cerita yang sedang ditulisnya. Pengarang tua itu menceritakan kau mati ditembak oleh seorang pemburu saat kita sedang asyik bertengger di sebuah pohon kamboja sambil bercakap-cakap tentang masa depan yang bahagia. Jantungmu pecah setelah tertembus isi senapan, dan tubuhmu meluncur ke tanah. Aku terbang menyusul tubuhmu yang meluncur tanpa kendali. Aku tak tahu harus melakukan apa saat itu. Menerbangkanmu ke tempat yang jauh dan mengobati lukamu sambil berharap kau hidup lagi, menyerahkan diri pada pemburu itu agar ditembak dan segera menyusulmu, atau melawan pemburu itu dengan segenap tenagaku? Tetapi cerita berkehendak lain. Isi kepala pengarang tua itu berbeda dengan isi kepalaku. Dia malah menceritakan aku menangis tersedu-sedu di samping tubuhmu yang tak bernyawa tanpa melakukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar menangis. Saat pemburu itu mendekat, ia malah menceritakan aku terbang menghindari sang pemburu. Betapa bodohnya pengarang yang selalu bersedih karena selembar foto itu. Kenapa ia tidak menceritakan kalau aku mati bersamamu ditembak pemburu itu.

Setelah kematianmu, pengarang tua itu menceritakan diriku pergi ke tengah hutan yang sepi dan aku tinggal di sebuah pohon yang jauh di tengah hutan yang tak bisa dijamah oleh para pemburu. Di sana aku semakin tenggelam dalam kesedihan dan menyesal telah meninggalkanmu dan membiarkan pemburu itu melumat habis tubuhmu menjadi santapan yang enak baginya. Sungguh pengarang yang bodoh.

Dan parahnya, pengarang tua itu malah meninggalkan cerita tentangku begitu saja. Ia berubah menjadi pemurung dan tubuhnya semakin ceking. Kemudian disusul dengan batuk yang seirama gonggongan anjing, dan ia menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur.

Hingga akhirnya pengarang tua itu tak pernah beranjak lagi dari tempat tidurnya, yang kemudian disusul dengan bau busuk yang menguar di seluruh ruangan. Suatu sore orang-orang masuk ke kamar itu setelah bersusah-payah mendobrak pintu dan mendapati tubuh ceking pengarang tua itu telah dimakan ulat.

Sepeninggal pengarang tua itu, aku benar-benar kesepian dan selalu berharap ada seseorang yang menemukan cerita ini dan membebaskan aku dari kesedihan. Karena setelah kematian pengarang tua itu, tidak ada seorang pun yang datang ke rumah ini, selain seekor anjing borok yang selalu berteduh ketika hujan.

Suatu hari dalam keputusasaan, tiba-tiba tebersit dalam pikiranku bahwa kisah kita adalah kisah hidup pengarang tua itu yang ditulisnya dengan tokoh sepasang merpati.

 

(*)

 

 

Gerimis…

happy-couple-on-the-beach

“Perkenalkan, Namaku Gerimis…” Begitulah suara yang tiba-tiba muncul, di suatu sore musim kering. Dia terhenyak di antara sunyi yang mengepungnya. Begitu saja, perempuan muda itu datang dan berucap salam kepadanya. Tiba-tiba saja, dia seperti terdesak dan terpaksa masuk ke sebuah dunia yang selalu disebutnya sebagai kenangan. Kenangan, di manakah sebenarnya tempat itu?

Maka, demikianlah yang terjadi. Setiap kalimat yang diucapkan bibir cantik itu, memaksa lidahnya sendiri untuk menciptakan—atau paling tidak—mengambil kosa kata lain, yang lebih indah tentu saja, menurut pertimbangannya.

Percakapan mengalir di beranda itu. Senja melorot dengan sangat cepat, dan menelanjangi tubuh malam yang molek. Laki-laki muda itu kembali di sebuah kenangan.

 

Lanjutkan membaca “Gerimis…”

Drupadi

drupadi

“SEHARUSNYA tempat ini menjadi kenangan yang indah. Saksi sebuah pesta pernikahan yang tak akan terlupakan…“

Kalimat itu meluncur rapuh dari bibir seorang lelaki tua yang tak kukenal, ketika aku sedang duduk bersantai di taman ini menikmati langit November yang dipenuhi guguran kelopak flamboyan. Aku terhipnotis dalam waktu sekejap. Lelaki tua itu memandangi ranting-ranting yang menjulur rendah di hadapan kami. Semata merah. Bulir-bulir daun hijau seolah hanya kelopak, dan mahkotanya adalah merah yang menyala kontras di paparan langit biru sore hari. 

Namun, seperti halnya virus, kenangan pahit menular begitu cepat meskipun kita buta terhadap lakon yang sebenarnya. Begitu pula aku. Kata-kata sekelumit yang ditaburkan dengan perih itu membuatku tertular getirnya. Lanjutkan membaca “Drupadi”

Sebuah Sesuatu

kita pernah, —pada satu fase ketika kita belum mengenalnya— menjadi seseorang yang berbahagia. memiliki selaksa alasan untuk tertawa. lalu kemudian ia datang. dengan tingkah lucu dan memesona. membuat kita jatuh cinta dalam pikatnya yang paling pekat.
rasanya dunia menjadi lebih istimewa dan sempurna. meski sendiri itu baik, ternyata berdua jauh lebih indah, —sepertinya. tanpa sadar, perlahan kita menjadikan ia sebagai satu-satunya alasan untuk berbahagia. tak ada hal yang dapat menggantikan selain bersamanya. lalu semua raga dan jiwa yang dulu utuh tanpa cela, perlahan luruh ke dalam ia. menyatu bersama debar dan jiwanya. keakuan yang dulu kita punya untuk tetap hidup pelan—pelan menghilang. tergantikan dengan keberadaan ia sebagai semesta. pusat segala kehidupan dimulakan.

lalu masa itu datang. ketika semua harapan tak sesuai kenyataan. saat kebahagiaan secara simultan menjelma menjadi perpisahan yang memuakkan. ia pergi jauh menghilang. meninggalkanmu tepat di belakang. tak peduli pada segenap semesta yang kau sematkan kepada ia. di titik nadir rasa kehilanganmu, kau benar-benar tersadar. hal yang kau kira hanya kehilangan ia, ternyata lebih mengerikan dari yang ada. kau kehilangan kendali atas dirimu sendiri. seolah kau sudah lebih dulu mati sebelum sempat kehilangan nyawa. jiwamu menghilang bersamanya. lalu di sinilah kau berada; duduk termenung mendekap lutut. memeluk bayanganmu sendiri, —satu-satunya hal yang tak meninggalkanmu sendiri.

melupakan kebenaran fakta bahwa; kita pernah, —pada satu fase ketika belum mengenalnya— menjadi seseorang yang pernah berbahagia. memiliki selaksa alasan untuk tertawa. maka, kini perkenankan aku untuk bertanya. jika dulu saja kita pernah berbahagia meski tak pernah ada ia, mengapa sekarang tidak?

seka air mata dan berkemaslah. mari pindah dari kesedihan yang dicipta-cipta. sebab, dengan ada atau tanpa ia, kau selalu berhak berbahagia….

Antara Aku, Kamu, dan Suamimu

5122901

“Selamat pagi, Jeng…”
Ah, dia lagi!
“Pagi!” aku memaksa senyum. Tak berselera sebenarnya untuk melakukannya. Tapi aku tak ingin menarik perhatiannya. Jadi, aku senyum saja, agar ia biasa saja. Tak banyak mendengar pertanyaan darinya selalu lebih baik. Karena dia takkan berhenti melakukannya, seakan seperti ingin menguliti bersih-bersih. Seperti polisi menanyai pencuri. Dia senang bertanya dan senang pula menjawab. Kadang dia melakukannya tanpa pertanyaan sebelumnya. Begitulah dia, harus ada jawaban untuk pertanyaannya, sebagaimana dia senang memberi jawaban, meski tak ada pertanyaan untuknya.

Lanjutkan membaca “Antara Aku, Kamu, dan Suamimu”

Shelma Rindu Ayah…..

gadis-kecil-dengan-lilin

Malam sudah sangat larut, Shelma mendengar suara itu lagi. Suara yang terdengar dari ruang tengah. Suara yang akhir-akhir ini terlalu sering ia dengar meski ia tak ingin mendengarnya.

Shelma menyalakan lampunya. Lalu, perlahan membuka pintu, mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ayah berdiri membelakanginya, menghadap ke arah Ibu. Ibu menatap Ayah dengan wajah marah yang tak mau kalah.

“Lalu, kau pikir seorang perempuan harus berada di rumah terus-menerus? Kembali saja kau ke zamanmu kalau begitu, zaman batu!” maki Ibu.
“Ini pukul berapa Nien? Ini hampir dini hari. Apa pantas kau pulang selarut ini? Kau punya tanggung jawab sebagai ibu dan tentu kalau kau masih mau, sebagai istriku.”

“Heiii, aku sudah membereskan pekerjaan rumah, aku sudah menyiapkan makanan. Sudahlah, kau terlalu berlebihan, sesekali aku juga butuh hiburan. Menjadi istrimu ternyata tak semenyenangkan yang aku du..”

Plakkk!!!

Sebelum Ibu melanjutkan ucapannya, Shelma melihat Ayah melayangkan tangannya ke wajah Ibu. Seketika, Ayah langsung menutup wajahnya sendiri, seolah menyesal telah melakukannya.

“Berani-beraninya kau, Bajingan! Memang siapa kau, laki-laki miskin yang menumpang hidup dari harta orangtuaku. Pergi kau dari rumah ini, aku muak melihatmu….”
Shelma melihat Ayah tergugu. Lalu, dalam sekejap, Ayah berbalik, terpaku sebentar menatap Shelma, lantas berjalan menuju kamarnya.

Tak beberapa lama, Ayah keluar lagi membawa sebuah tas kecil. “Ayah!!!” Shelma menjerit. “Ayah mau kemana?”
“Kau akan baik-baik, saja peri kecilku. Jadilah gadis yang baik ya? Ayah sayang kamu…” ujarnya sambil mengusap kepala Shelma. Ada bening mengalir di sudut matanya.

Lalu, Ayah pergi. Shelma tak pernah lagi bertemu Ayah semenjak malam itu. Tahun demi tahun, rindu Shelma kepada Ayah semakin biru.

Malam ini, Shelma terbangun lagi. Kali ini bukan karena suara pertengkaran, tetapi suara cekikikan Ibu dari kamarnya. Kali ini, entah dengan siapa….

Shelma teringat Ayah. Betapa Ayah selalu ada saat Shelma tak bisa tidur. Shelma teringat dongeng-dongeng yang diceritakan Ayah. Dongeng-dongeng yang menenangkan.

Shelma melihat lilin di atas nakas. Shelma teringat akan dongeng Ayah tentang seorang gadis kesepian yang menyalakan korek api. Setiap korek api yang menyala, ia bertemu bahagia.

Lalu, Shelma menyalakan lilin, masih terdengar suara desah Ibu di kamar sebelah. Shelma menyalakan banyak lilin. Dalam setiap nyala, dia melihat Ayah. Ayah tertawa, ia pun juga tertawa. Ada rumah, juga ada Ibu. Ibu yang tak selalu pulang larut malam.

Dongeng yang Ayah ceritakan ternyata benar. Gadis dengan korek api bertemu bahagia. Shelma dengan nyala lilin juga bertemu bahagia.

Pelan-pelan, Shelma tertidur dengan tenang.
Lilin-lilin itu membakar apa saja disekelilingnya.

(*)

Pada Suatu Pertemuan

images

Lelaki itu mengenakan kemeja lengan pendek warna biru langit. Dimasukkan ke dalam celana jeans hitam yang baru saja ia ambil dari laundry. Rambutnya yang basah tersisir rapi menutupi kerah baju. Janggutnya tandus tercukur licin. Ada semerbak wangi parfum di lehernya.

Sementara baju warna abu-abu membungkus tubuh si perempuan. Dipadu dengan jeans biru kegemarannya. Rambutnya segar, seperti baru saja keramas sehabis mandi sore hari. Ada seulas lipstick tipis menyapu bibir kesumbanya. Tatapannya lembut, menandakan si pemilik mata itu penuh kasih. Ada aroma segar tercium dari tubuhnya.

Berdua mereka bertemu untuk melangsungkan santap malam. Si lelaki
masih berdiri di hadapan si perempuan. Tangan kirinya dengan cepat menggamit tangan kiri si perempuan, lantas menggenggamnya. Bibirnya mendarat di pipi kiri si perempuan. Cup! Dan si perempuan tersipu malu. Dengan punggung tangan dielusnya pipi perempuan yang putih bertelur itu.

Kini mereka duduk berhadap-hadapan. Tangan kiri mereka masih saja saling menggenggam di atas meja. Ada lampu temaram menghiasi suasana di sana. Mata mereka masih saja terus menatap. Seperti sudah puluhan tahun tak pernah bertemu. Ada kerinduan yang memuncak yang ingin disampaikan. Padahal setiap hari mereka toh tetap bertemu. Namun masih tetap saja selalu begitu.

“Kau bawa bunga untukku?”
“Ini.” si lelaki mengeluarkan setangkai kembang dan disodorkan pada kekasih hatinya itu. Si perempuan tersipu-sipu, tapi hatinya bahagia. Matanya tetap menatap lekat pada si lelaki. Seperti takut kehilangan untuk selama-lamanya. Padahal setiap hari mereka terus bertemu.
“Hai!”
“Hai!”
Lagi-lagi mereka tertawa bersama.

Tak berapa lama makanan pun tersaji mengepul di hadapan mereka. Sambil sesekali manatap piring, mereka makan dengan nikmat tiada tara. Ada segumpal kerinduan di sana. Ada secupuk cinta yang tak mungkin mereka naifkan. Mereka ingin mereguk apa yang sedang mereka rasakan. Kalau saja saat itu ada yang memperhatikan mereka, pasti akan minta barang secuil kebahagiaan yang tampak pada bahasa tubuh mereka.

“Enak?” tanya si lelaki.
“Tak pernah kurasakan yang seperti ini.”
“Itu karena kau makan bersamaku.” tukas si lelaki berkelakar.
“Aiihhh!”
Dan mereka masih terus menatap lekat dengan gigi terbuka tanda gembira. Sesekali si lelaki membetulkan letak rambut si perempuan. Menyematkannya di balik telinga. Tak jarang si perempuan pun membetulkan kerah kemeja si lelaki, serta mengusap wajahnya. Mereka tampak begitu mesra. Orang akan iri jika melihatnya.

“Kangen aku?” tanya si perempuan.
“Selalu.”
“Sungguh?”
“Tentu saja.”
“Hmmm…”
“Hmmm apa?”
“Aku senang.”
“Aku juga.”
“Kenapa kita baru bertemu sekarang?”
“Karena semesta baru mempertemukan kita saat ini”
“Kenapa tidak dari dulu. Kemana saja kau selama ini…”
“Aku ada. Begitu juga dengan dirimu. Mestinya kau memberikan sinyal, ada di mana dirimu selama ini?”
“Kau tidak mencariku.”
“Puluhan tahun aku menunggu tanda-tanda keberadaan dirimu.”
“Oh…”
Dan mereka saling mempererat genggaman tangan kiri mereka.

Setiap hari mereka bertemu. Setiap saat. Pada setiap detak jantung yang mereka rasakan. Tapi mereka tetap merindukan saat-saat berjumpa dan bertatapan mata seperti ini. Ada begitu banyak rasa yang menyeruak yang ingin mereka sampaikan. Ada kekuatan magis yang menyembul setiap mereka menyebut nama masing-masing darinya. Tapi mereka hanya bisa melakukannya dengan cara seperti ini:

Duduk menghadap layar monitor, mencurahkan ribuan kata lewat keyboard, mengirimkan tatapan sayang melalui webcam, membisikan sederet kalimat cinta melalui microphone , mendengarkan belaian rindu melalui headphones, santap malam bersama, bercerita, membaca sajak, bernyanyi, serta memeluk dan menemani tidur beralaskan jendela Yahoo! Messeger. Dimensi ruang dan waktu sudah tak berarti lagi.
Mereka tahu mereka saling mencinta, tapi kaca monitor ini…
Aahhh… Cinta Dunia Maya…

(*)